Home BUDAYA Masyarakat Baduy Harap Bupati Lebak Jaga Nilai Luhur Kearifan Lokal

Masyarakat Baduy Harap Bupati Lebak Jaga Nilai Luhur Kearifan Lokal

0
SHARE

baduyPOROSNEWS.COM  – Ratusan masyarakat Baduy, Banten kembali menggelar tradisi tahunan, Seba. Tahun ini, tradisi mengunjungi pimpinan adat atau daerah itu dilakukan pada awal Mei.

Bagi masyarakat Baduy Dalam, mereka harus berjalan kaki. Sementara Baduy Luar, menggunakan kendaraan roda empat. Tentu masyarakat Baduy Luar tiba lebih dulu tiba di Pendopo Kabupaten Lebak pada Jumat 2 April kemarin, sekitar pukul 19.45 WIB.

Masyarakat Baduy sempat terlantar, tanpa ada sambutan dari pihak Pemerintah Kabupaten Lebak. Mereka harus menunggu hampir 1 jam sebelum akhirnya diperkenankan masuk ke dalam pendopo Pemerintah Kabupaten Lebak.

Masyarakat Baduy akhirnya diperkenankan memasuki pendopo. Mereka disambut langsung Bupati Lebak Iti Jayabaya. Dialog pun digelar. Mereka menyampaikan keluh kesah dan harapannya kepada sang bupati yang baru saja menjabat hampir 5 bulan itu.

“Supaya menjaga kearifan lokal. Kami sebagai lembaga adat, sebagai masyarakat, mudah-mudahan Ibu Bupati yang baru bisa menjalin kasih dan silaturahmi,” kata Ayah Mursid, tokoh adat masyarakat Baduy Dalam usai diterima Iti Jayabaya.

Masyarakat Baduy yang terbiasa hidup sederhana, menyampaikan harapan yang sederhana pula. Mereka hanya berharap kepada pimpinannya itu memberikan bantuan pembangunan fasilitas mandi cuci kakus (MCK).

“Seiring dengan perkembangan budaya, jadi harus ada nilai-nilai penyesuaian itu semua. Semua ingin hidup bersih dan sehat,” ujar Ayah Mursid.

Gayung bersambut. Iti Jayabaya berjanji akan lebih memperhatikan kebersihan dan kesehatan masyarakat di Kabupaten Lebak, terutama suku Baduy. “Kita baru memiliki 42 puskesmas. Masih jauh dari kepentingan masyarakat. Apalagi jika dlihat dari kesejahteraan.”

“Setiap tahun akan kita anggarkan puskesmas rawat inap. Setiap 3 desa ada puskesmas rawat inap. Ada juga peningkatan gizi bagi masyarakat,” terang Iti Jayabaya di ruangannya.

Selain itu, sang Bupati juga memberikan bantuan bahan makanan, berupa beras sebanyak 10 kilogram. Bantuan itu akan diberikan setiap 3 bulan kepada masyarakat Lebak yang menderita cacat permanen.

Tak hanya itu, masyarakat Baduy yang bermalam di Pendopo Kabupaten Lebak itu juga disuguhi hiburan layar tancap. Ini sudah tradisi setiap tahunnya.

Nilai Kejujuran dan Kebersamaan

Di mata Iti Jayabaya, seba merupakan tradisi masyarakat Baduy yang menunjukkan kebersamaan dan persatuan. Maka itu, budaya ini harus dilestarikan agar tidak punah.

“Seba Baduy merupakan bentuk kebersamaan dan kebersatuan dengan masyarakat Baduy. Ini juga menunjukkan kesatuan dengan pembangunan masyarakat Baduy,” kata Iti Jayabaya di ruangannya, sesaat sebelum menerima Suku Baduy.

Bupati yang baru dilantik pada Desember 2013 lalu itu mengatakan, banyak pelajaran yang dapat diambil dari kehidupan masyarakat Baduy. Misalnya saja, tentang nilai kejujuran. “Kita harus belajar kepada mereka soal kejujuran,” ujarnya.

Iti Jayabaya juga berharap agar semua pihak, termasuk masyarakat Baduy dapat ikut serta mempercepat pembangunan di kabupaten yang belakangan dikaitkan dengan kasus suap sengket Pilkada di Mahkamah Konstitusi (MK) itu.

“Ini juga sebuah budaya dan kearifan lokal yang harus dijaga dan dilestarikan. Mereka menjaga dan melestarikan hutan, kita harus belajar kepada mereka menjaga alam,” lanjut Iti Jayabaya.

Seba Baduy tahun ini, masyarakat Baduy memberikan hasil buminya kepada Iti Jayabaya sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah. Sekaligus berguna untuk mempererat tali silaturahmi masyarakat baduy dengan pemerintah.

“Saran-sarannya nanti akan kita masukkan ke agenda pembangunan,” ujar Iti Jayabaya.

Cap Jempol

Setalah mengunjungi Bupati Lebak, hari berikutnya masyarakat Baduy melanjutkan perjalanan menuju Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Banten, yang berlokasi di kawasan pusat pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Kota Serang.

Seperti sebelumnya, masyarakat Baduy Luar datang lebih awal menggunakan kendaraan roda empat. Sedangkan, masyarakat Baduy Dalam masih dalam perjalanan lantaran harus berjalan kaki dari Pendopo Kabupaten Lebak meskipun berangkat lebih awal, pukul 05.00 WIB. Sedangkan suku Baduy Luar berangkat berangkat pada pukul 07.00 WIB, Sabtu (3/5/2014).

Saat masyarakat Baduy tiba, pihak Disbudpar pun mendata. Pendataan ini berbeda dengan acara pada umumnya, yang biasanya mengisi buku tamu dengan nama dan tanda tangan. Masyarakat Baduy cukup menggunakan tanda cap jempol.

“Kita data dulu biar tahu ada berapa orangnya. Biar enak kita ngasih makannya,” ujar Rohendi, panitia acara Seba Baduy dari Disbudpar Provinsi Banten di sela-sela acara.

Pembubuhan cap jempol ini lantaran masyarakat Baduy umumnya tidak bisa baca dan tulis. Bahkan untuk penulisan nama dan alamat lengkapnya, Disbudpar sudah menyiapkan panitia khusus yang mengurus pendataan.

“Kumpul dulu di sini, istirahat dulu di sini. Nanti pukul 15.00 WIB baru jalan ke pendopo lama. Puncak acaranya di sana,” jelas Rohendi.

Silaturahmi

Warga Baduy yang menetap di lereng pegunungan Kendeng, Banten bagian selatan, menyebut tradisi tahunan itu sebagai Seba. Saba berasal dari bahasa Sunda yang berarti berpergian untuk bersilaturahmi. Seba adalah tradisi tua. Sama tuanya dengan keberadaan masyarakat Baduy.

Seba pun terbagi dua. Seba Kecil dan Seba Besar. Seba Kecil tak mengharuskan warga ke luar desa, tapi cukup di lingkaran perkampungan Baduy. Sementara, Seba Besar berdasarkan aturan adat, wajib hukumnya untuk pergi keluar desa menemui pemimpin wilayah Banten.

Butuh persiapan fisik yang matang untuk menjalani ritual Seba, khususnya bagi warga Baduy Dalam. Tak seperti Baduy Luar yang boleh menumpang kendaraan bermotor, orang Baduy Dalam harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki tanpa alas. Mereka menunggu matahari terbit. Bangun pagi untuk berjalan kaki lebih dari 3 hari.

Warga Baduy Dalam tak ingin membuang waktu. Bagi mereka, tak ada kesempatan untuk berleha-leha. Mereka mesti bergegas selama perjalanan. Sedikit saja kesiangan, bisa terlambat sampai di Lebak, kabupaten terdekat sebelum sampai tujuan akhir di Serang, Ibukota Provinsi Banten.

Perkampungan Baduy dan Lebak dapat ditempuh sekitar 1,5 jam menggunakan kendaraan bermotor. Tapi masyarakat Baduy Dalam adalah komunitas elite. Pasukan khusus yang menjadi barisan terakhir aturan adat. Pantang bagi mereka ke mana pun naik kendaraan jenis apa pun.

Bedanya, saat matahari meninggi, giliran Baduy Luar bersiap diri. Mereka tak perlu tergesa-gesa, karena hukum adat membolehkan naik kendaraan menuju Lebak. Banyak orang menganggap masyarakat Baduy Dalam sakti, lantaran kuat berjalan jarak jauh. Padahal ilmu mereka sederhana, istirahat jika sudah kelelahan.

Ada prosesi yang wajib dilakukan Baduy Dalam ketika Seba, yaitu mandi dan berdoa di Sungai Cikolear, sungai yang diyakini sebagai warisan leluhur Baduy. Berjalan kaki atau naik mobil, Baduy Dalam atau Baduy Luar, di mata adat peran mereka sama pentingnya dalam ritual Seba. Sebab sejatinya, Baduy adalah satu, sekumpulan kaum pertapa yang bertugas menjaga keseimbangan alam jagad raya.

Tiap Seba tiba, malam di Lebak berubah menjadi malam layar tancap. Setiba di Serang, warga Baduy memencar. Bagi mereka, kota adalah rimba yang tak asing meski juga tidak akrab. Sebab, warga Baduy percaya, tempat mereka hanya di Desa Kanekes.

Sebenarnya, inti Seba adalah silaturahmi masyarakat Baduy kepada pemimpin daerah dengan menyerahkan laksa, intisari padi hasil panen seluruh warga Baduy yang disatukan dan dikeringkan. Laksa adalah simbol utuhnya keluarga Baduy. Bila laksa sudah diserahkan dan disantap pemimpin daerah, itu artinya seluruh jiwa dan harapan warga Baduy telah diberikan secara resmi. (PRAS/Lip6)

Komentar Anda

LEAVE A REPLY