Home RAGAM Hiburan Yukie Pas Band Nilai Sistem Pendidikan Indonesia Memberatkan Anak

Yukie Pas Band Nilai Sistem Pendidikan Indonesia Memberatkan Anak

0
SHARE

yukiePOROSNEWS.COM  – Yukie, vokalis Pas band, lebih memilih sistem edukasi yang dicanangkan Jepang dan Amerika. “Di Jepang dan Amerika, pelajaran pokok yang ditekuni lebih sedikit dibandingkan di Indonesia, sehingga tidak memberatkan anak,” ujarnya kemarin malam di kawasan Ciumbuleuit, Bandung, Jumat, 2 Mei 2014.

Sebagai orang tua, Yukie prihatin dengan sistem pendidikan Indonesia saat ini. Menurutnya, anak terlalu dipaksakan menguasai segala bidang, padahal belum tentu mata pelajaran di sekolah dapat meningkatkan minat dan bakat mereka. Banyaknya pelajaran yang dilahap anak, membuat bidang spesialisasi mereka tidak berkembang.

Di Jepang, meskipun jam belajar padat hingga sore hari, minat dan bakat anak tetap terasah sebab mata pelajaran pokok hanya diberikan hingga pukul 11.00. Setelah itu, anak bebas memilih mata pelajaran yang mereka sukai, semisal teknik, seni, maupun budaya. Begitu pun di Amerika, mata pelajaran pokok yang diberlakukan lebih sedikit, yaitu sejarah, matematika, sains, dan seni. Selebihnya anak dapat memilih mata pelajaran yang mengasah bakat mereka.

Ayah dua anak itu menuturkan bakat anak perlu didorong, jika tidak anak dapat tumbuh menjadi pribadi pemberontak karena minatnya tidak tersalurkan dengan tepat. “Anak saya yang pertama itu sangat peka terhadap musik. Jadi selain sekolah, saya pun mencarikan tempat les untuk mendorong kreativitasnya,” kata Yukie yang kini tengah sibuk dengan proyek terbarunya Tendostars Project.

Meskipun tidak sreg dengan sistem pendidikan Indonesia, rocker ini tetap memilih menyekolahkan anaknya di sekolah biasa dibandingkan home schooling. Ia menilai sosialisasi sangat penting bagi anak dalam menambah pengalaman hidup. Bagaimana pun, kata Yukie, anak akan berkembang lebih baik jika dia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.

Yukie berharap Indonesia dapat lebih baik lagi dalam menerapkan kurikulum pembelajaran. “Jangan sampai Indonesia mencetak generasi muda yang autis karena terlalu serius mempelajari banyak hal. Belajar dan bermain kan harus seimbang,” tuturnya. (PRAS/TP)

Komentar Anda

LEAVE A REPLY