Home Nasional Dukungan Aktivis Pena 98 pada Jokowi Tidak Murni

Dukungan Aktivis Pena 98 pada Jokowi Tidak Murni

0
SHARE
Foto : Istimewa
Foto : Istimewa
Foto : Istimewa

POROSNEWS.COM – Belum lama ini sejumlah mantan aktivis 98 yang  tergabung dalam Perhimpunan Nasional Aktivis 98 (Pena 98) memberikan dukungan penuh kepada calon presiden Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (Capres PDIP) Joko Widodo (Jokowi).

Mereka berpandangan, Jokowi adalah figur yang bersih, sederhana dan tidak terlibat kejahatan pelanggaran hak asasi manusai (HAM) di masa lampau. Sebaliknya mereka menolak tegas capres Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindya) Prabowo Subianto, lantaran mantan Danjen Kopassus tersebut dianggap sebagai pihak paling bertanggung jawab atas insiden penculikan dan pembunuhan para aktivis 98.

Menanggapi hal tersebut, Ubedilah Badrun aktivis Komunitas Intelektual 98 (Kiat 98) menilai dukungan yang diberikan mantan eksponen 98 dianggap tidak murni dan sarat dengan kepentingan partai politik tertentu. Sebab, sebagian diantara para aktivis Pena 98 merupakan kader PDIP. Sebagai konsekuensi logis dari hal tersebut, maka dengan cara apapun mereka akan mendukung mati-matian capres Jokowi.

“Kelompok aktivis 98 tersebut adalah kader dari partai politik tertentu, sehingga mereka memberikan dukungan terhadap capres yang diusung oleh partai tersebut. Dan hal ini wajar, karena mereka telah masuk dalam dunia riil politik,” kata Ubed melalui keterangan pers yang diterima PorosNews.com, Senin (5/5).

Selain itu, kelompok aktivis Pena 98 dipandang sedang mencari peluang untuk masuk dalam lapisan elit politik. Dan dengan memberikan dukungan penuh kepada capres yang diusung, mereka berharap ada peluang masuk dalam lapisan politik, terutama setelah capres yang mereka dukung terpiilih.

Untuk meyakinkan pemilih, para aktivis 98 tersebut menilai hanya sosok Jokowi saja yang paling kompeten dalam memimpin bangsa Indonesia. Jokowi dipandang sebagai satu-satunya juru penyelamat yang tepat untuk kembali membawa dan mengangkat harga diri bangsa Indonesia. Sedangkan capres dari partai lain semisal Prabowo Subianto dituding sebagai capres yang penuh dengan dosa masa lalu, terutama dosa yang terkait dengan pelanggaran HAM dan pesta pora pengrusakan dimasa lampau. Sementara Abu Rizal Bakrie (ARB) dipersepsikan sebagai capres yang tidak pro terhadap rakyat, penindas, bagian poliitk dari masa lampau dan banyak mempunyai segudang masalahb dengan rakyat, salah satunya adalah kasus Lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur yangf hingga kini belum ada penyelesaiannya secara permanen.

“Karena itulah, kelompok aktivis 98 tersebut menolak capres tertentu dengan sejumlah alasan. Dan berharap rakyat tidak memilih capres yang mereka tolak. Sehingga rakyat dapatv mendukung dan memilih capres yang mereka dukung,” tutupnya.  Marcopolo.

 

 

Komentar Anda

LEAVE A REPLY