Home Nasional Hukum Komnasham Dikecam Atas Kasus Penculikan Aktivis 98

Komnasham Dikecam Atas Kasus Penculikan Aktivis 98

0
SHARE

aktivisPOROSNEWS.COM – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnasham) dikecam karena penanganan kasus HAM 1997/1998 hingga kini belum selesai.

Pascapengakuan mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zen yang menyebut mengetahui pelaku penghilangan paksa yang berujung hilangnya 13 orang aktivis harus ditindaklanjuti oleh Komnasham dengan mengadakan pemeriksaan terhadap Prabowo Subianto.

“Untuk itu Komnasham harus segera memanggil Prabowo dan Kivlan karena mereka orang-orang yang mengetahui kasus ini,” kata Koordinator Kontras Haris Azhar, di Jakarta, Rabu (7/5).

Haris bersama sejumlah aktivis HAM yang tergabung dalam Koalisi Gerakan Melawan Lupa berserta kerabat korban penculikan mendatangi Komnasham.

Mereka mendesak Komnasham melakukan langkah-langkah strategis terhadap pihak-pihak yang diduga bertanggung jawab dalam kasus penculikan 1997/1998.

Menurutnya, pengakuan Kivlan yang diucapkan dalam sebuah acara debat di stasiun televisi, harus disikapi secara serius oleh Komnasham maupun Kejaksaan Agung (Kejagung). Setidaknya, Komnasham memanggil Prabowo untuk diminta klarifikasinya akan pengakuan mantan anak buahnya itu.

Haris berpandangan, Prabowo merupakan salah satu pihak yang layak dimintai pertanggungjawaban karena secara komando yang bersangkutan merupakan Danjen Kopassus dan atasan Tim Mawar ketika peristiwa penculikan terjadi.

“Ini momentum penting untuk kejelasan bagi keluarga korban penghilangan paksa. Komnasham dan Kejagung juga jangan main ping-pong dalam menangani kasus ini,” jelasnya.

Sikap Komnasham yang sejauh ini belum mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pihak keluarga korban atau belum dapat mengungkap kasus tersebut juga menjadi sorotan dari pihak keluarga yang menilai, Komnasham hanya kerap melakukan pencitraan ketimbang menunjukan kinerja yang baik.

Sementara, Komnasham belum dapat menyikapi desakan dari Koalisi Gerakan Melawan Lupa serta, kerabat korban dengan alasan aspirasi yang diterima pihaknya harus dibawa ke dalam rapat pleno terlebih dulu sebelum mengambil langkah-langkah pemeriksaan atau tindak lanjut.

“Kami belum dapat mengambil sikap sebelum rapat paripurna dilakukan sore ini,” kata Koordinator Sub Komisi Mediasi Komnasham Nur Kholis.

Dalam kesempatan yang berbeda, Kivlan Zen mengatakan, Komnasham telah mengantongi pengakuannya tersebut. Dengan begitu dirinya merasa tidak perlu mendatangi Komnasham untuk memberikan keterangan.

“Sudah masuk laporan di Komnasham yang 13 orang itu berdasarkan omongan saya. Tidak perlu saya dieret-eret. Bukan saya menyembunyikan, saya tahu saja. Saya merasa empati pada korban,” katanya

Kivlan menegaskan, dirinya akan membeberkan apa yang dia ketahui berdasarkan laporan intelijen anak buahnya di Kostrad terkait operasi kontra-intelijen yang dilakukan terkait pengamanan Pemilu 1997 dan Sidang Umum MPR 1998.

“Peristiwa Mei saya tahu. Bagaimana pertarungan antara yang pro dan kontra dengan Soeharto saya tahu semua. Tetapi bukan saya yang melakukannya, saya tahu proses itu. Dirikan suatu pleno atau forum resmi, saya akan berbicara di situ,” kata Kivlan. (Pras/BST)

 

 

Komentar Anda

LEAVE A REPLY