Home Kolom Wie Jo Koh (Jokowi) Antek Asing dan Aseng

Wie Jo Koh (Jokowi) Antek Asing dan Aseng

0
SHARE

 

Jokowising

 

POROSNEWS.COM  – Pertemuan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) di rumah Prabowo di Hambalang, Sentul, Kabupaten Bogor, Senin (5/5) lalu, sesungguhnya sangat berarti bagi Indonesia lima tahun kedepan. Pertemuan kedua tokoh politik yang kedua kalinya itu setelah sebelumnya bertemu di rumah Ical di Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (29/4) lalu dapat membuka harapan baru bagi koalisi kedua partai besar tersebut.

Sebab berdasarkan quick count Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada pemilu legislatif  lalu, Gerindra mendapat suara 11,87 persen sedangkan Golkar 14,56 persen, sehingga jika keduanya berkoalisi maka akan mendapatkan 26,43 persen suara sehingga sudah memenuhi syarat untuk mengajukan capres atau cawapres sendiri.  Sementara di pihak lain telah resmi terbentuk koalisi PDIP dan Partai Nasdem dimana PDIP mendapat suara 19,73 persen dan Nasdem 6,40 persen yang mencapai 26,13 persen suara sah sehingga bisa mencalonkan Jokowi (nama Cinanya: Wie Jo Koh) sebagai capres.

Jika nanti sampai terbentuk koallisi Golkar-Gerinda, maka akan menjadi kekuatan politik yang dahsyat untuk mencegah Jokowi menguasai Istana. Sebab koalisi kedua partai pemenang kedua dan ketiga Pileg tersebut diprediksi akan mampu menarik partai lain (PKS, PPP, PAN, PD, Hanura, PBB dan PKPI) untuk bersatu dibawah kedua partai besar tersebut, sehingga tidak perlu dibentuk koalisi ketiga yang selama ini diinginkan SBY sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, dimana PD melaksanakan konvensi capres. Namun dengan suara hanya 9,70 persen, seharusnya SBY realistis untuk tidak membentuk koalisi ketiga sekaligus menjadikan pemenang konvensi sebagai capres.

Karena diprediksi Ical akan mengalah dan menjadi Wapresnya Prabowo meski sesungguhnya suara Golkar lebih besar dari Gerindra, mengingat dirinya bukan orang Jawa asli padahal selama ini tidak pernah ada Presiden RI bukan orang Jawa kecuali BJ Habibie yang menggantikan Suharto, maka pada Pilpres nanti hanya ada dua pasang capres dan cawapres, yakni Jokowi dan wakilnya yang didukung PDIP-PKB dan Nasdem dengan 35,20 persen suara vs Prabowo-Ical yang didukung Gerindra-Golkar-PKS-PPP-PAN-PD-Hanura-PBB dan PKPI dengan total suara 64,80 persen suara, sehingga Pilpres cukup satu putaran dan Jokowi akan mudah dikalahkan, meski Pilpres berbeda dengan Pileg dimana ketokohan lebih menonjol. Namun ketokohan Prabowo sesungguhnya akan berhasil mengungguli Jokowi kalau didukung banyak partai.

Sebab diprediksi jika terdapat tiga atau empat pasang capres, maka pada putaran pertama Jokowi pasti akan menang. Kalau sudah menang pada putaran pertama pasti akan menjadi pemenang pada putaran kedua, seperti ketika Pilgub DKI tahun 2012 lalu dimana Jokowi-Ahok sebagai pemenangnya. Pengalaman Pilkada Solo dan Jakarta menunjukkan, Jokowi akan menang jika terdapat lebih dari dua pasang calon. Namun jika calonnya hanya dua pasang, maka dipastikan Jokowi akan kalah telak.

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa Jokowi harus dikalahkan pada Pilpres nanti sehingga gagal menduduki kursi RI-1 ?  Bahaya apa yang akan menimpa negeri dengan 250 juta penduduk ini jika Jokowi sampai menjadi Presiden RI menggantikan SBY ?

Kelompok Tartar

Menurut politisi kawakan yang pernah keluar masuk penjara di era rezim Orde Baru, Dr Ir Sri Bintang Pamungkas, sebagaimana pernah dimuat di Suara Islam edisi 174, di Indonesia terdapat tiga kelompok etnis Cina. Pertama, adalah mereka yang masih berkiblat kepada pemerintah RRC. Kedua,  adalah mereka yang berkiblat pada pemerintah dan hukum Indonesia dan sepenuh hati loyal kepada Republik Indonesia. Ketiga, kelompok Cina Perantauan atau Hoakiauw.

Kelompok Hoakiauw inilah yang terbesar dan mereka hanya menjadikan Indonesia sebagai tempat mencari hidup saja, mereka berlaku seolah-olah Indonesia miliknya, tetapi kekuasaan, hukum dan lain-lain adalah mereka yang punya; singkatnya, hidup mereka seperti benalu. Hanya saja, mereka punya akar-akar seperti pohon beringin yang menjadikan mereka bisa hidup abadi, meskipun Pribumi Indonesia mati. Di seluruh dunia, sikap hidup para Tartaris adalah seperti itu; tetapi hanya Indonesia yang dengan mudah ditaklukkan, di samping yang sudah lebih dulu. Kelompok Tartar ini mau menjadikan Indonesia seperti Singapura.

Ketika bujukan untuk pindah ke Jakarta menjadi Gubernur DKI itu termakan untuk selanjutnya diiming-imingi menjadi capres, itulah saatnya Jokowi mulai diperangkap oleh  kelompok Tartar itu. Padahal kejahatan kelompok Tartar, sudah terdeteksi sejak awal 1970-an, dimana mereka para kelompok Cina yang berusaha menguasai Nusantara. Mereka pulalah yang mempengaruhi Jokowi untuk hijrah ke Jakarta dan menjadi capres. Menurut Sri Bintang, kelompok Tartar ini menjadi kuat setelah bergabung dengan kelompok Nasrani Kharismatik; atau sebaliknya. Para pendukungnya, antara lain, adalah dari kelompok Lippo dan Ciputra; dan masih banyak lagi yang bisa disebut. Dan di belakang mereka adalah pemikir dan pemain legendaries di era Orba bahkan sampai sekarang seperti CSIS. Merekalah yang berusaha membelokkan Republik Indonesia dari cita-cita Proklaamasi 1945.

Dalam sejarahnya, menurut Sri Bintang, keinginan untuk menguasai Nusantara dari para Tartaris  ini sudah mulai ada sejak abad ke 5 atau 6 Masehi. Istilah Tartar mulai muncul ketika pada akhir 1100-an dan awal 1200-an, ketika orang-orang Mongol membangun dinasti di Daratan Cina. Mereka mengikuti gerakan sebelumnya untuk  menguasai Nusantara yang kaya dan makmur. Banyak ekspedisi perang mereka yang dikirim ke Nusantara, termasuk semasa kejayaan Kerajaan Singosari dan  Kerajaan Majapahit. Tetapi mereka selalu dikalahkan. Tentara Tartar yang dihancurkan oleh Raden Wijaya, pendiri Majapahit itu, adalah tentara gabungan antara orang-orang Cina dan Mongol. Mereka berjiwa penjajah dan berperilaku kejam sekali.

Namun kemudian pada abad-abad berikutnya, mereka mulai bermigrasi ke Nusantara secara besar-besaran, bebas dan tidak kentara, sesudah jatuhnya Kerajaan Majapahit dan muncullah Kasultanan-Kasultanan Islam; serta bersamaan dengan masuknya para penjajah Barat seperti Portugis, Inggris dan Belanda. Nafsu orang Cina Hoakiauw untuk menguasai Nusantara atau Indonesia itu hidup terus sejak jaman Belanda hingga sekarang. Rusaknya rezim-rezim penguasa, dimulai dari Soeharto sampai SBY sekarang, yang justru memberikan peluang bagi terwujudnya nafsu penjajahan oleh para Tartaris itu.

Memang diakui, tidak semua orang Cina di Indonesia  mempunyai jiwa Tartarisme seperti itu; tetapi jumlah mereka sedikit sekali. Terlebih-lebih, ketika para Tartaris itu bergabung dengan kelompok non-Muslim, khususnya, kaum Nasrani, yang juga sudah masuk ke Indonesia sejak para penjajah Barat masuk Indonesia. Lebih khusus lagi ketika masuk pada awal 70-an juga, kelompok Nasrani Kharismatik. Kelompok ini berasal dari Orde Pentecosta di Israel, mulai berkembang di Inggris, lalu Amerika Serikat, bahkan diterima oleh Vatikan di samping kelompok Katholik Roma. Mereka masuk ke Indonesia melalui Timor-Timur kemudian Surabaya. Mereka membangun jaringan besar dan luas di seluruh Indonesia, terutama Jawa, dengan dana luar biasa besarnya.

Aseng dan Asing

Banyak rakyat Indonesia yang belum mengetahui, dibalik sikap Jokowi yang kelihatannya merakyat dan selalu memakai baju putih itu, sesungguhnya dia sejak sebelum menjadi Walikota Solo (2005) adalah antek Aseng (Cina Hoakiauw/Cina Perantauan). Jokowi (Joko Widodo) sesungguhnya masih keturunan Cina asli dari Solo, sebab ayah kandungnya adalah Oey Hong Liong dan ibunya Sudjiatmi, perempuan asli Jawa. Bahkan Jokowi memiliki nama asli Cina, Wie Jo Koh  dan leluhur Jokowi yang pertama kali datang ke Indonesia pada zaman Belanda bernama Wie Jok Nyam. Hal itu menunjukkan Jokowi keturunan Cina bermarga Wie, dimana leluhurnya berasal dari daratan Cina. Maka tidaklah mengherankan jika dibelakang Jokowi selalu berdiri tokoh-tokoh konglomerat hitam  Cina demi membantu Jokowi agar berhasil merebut kursi Walikota Solo, kursi Gubernur DKI Jakarta dan akhirnya nanti kursi RI-1.

Ketika mencalonkan Walikota Solo berpasangan dengan FX Hadi Rudyatmo (Ketua PDIP Solo) tahun 2005, Jokowi didukung habis-habisan dengan pendanaan dari Lukminto, seorang Cina Solo pemilik pabrik tekstil terbesar di Indonesia bahkan produknya telah mendunia karena dipakai sebagai seragam pasukan NATO, PT Sri Rejeki Isman Textile (PT Sritex) yang memiliki pabrik besar di Sukoharjo. Tidak hanya Lukminto, tetapi para bos Cina lainnya di Solo seperti bos PT Konimex juga ikut mendukung pendanaan untuk kedua pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota tersebut. Sebab sebelum menjadi Ketua PDIP Solo, Rudy adalah Ketua Serikat Buruh PT Konimex yang dikenal perusahaan yang  memproduksi obat-obatan tersebut. Akhirnya Jokowi-Rudy berhasil menang pada Pilkada 2005 dan dilanjutkan pada Pilkada 2010.

Demikian pula pada Pilgub DKI tahun 2012 lalu, pasangan Jokowi-Ahok didukung dana triliunan rupiah dari para Cina Hoakiauw dan konglomerat hitam seperti James Riyadi dan Antony Salim, anak konglomerat hitam pendiri Lippo Group Muchtar Riyadi, dan Liem Swie Liong pendiri Salim Group dan BCA. Padahal Muchtar Riyadi dan Liem Swie Liong serta Syamsul Nursalim dan para Cina Hoakiauw lainnya dikenal sebagai “Para Perampok BLBI” tahun 1998 lalu yang mencapai jumlah total Rp 660 triliun. Namun sayangnya, mereka justru “dimaafkan” oleh Presiden Megawati ketika berkuasa 2001-2004 lalu, meski baru mengembalikan 30 persen hasil jarahannya bahkan ada yang baru mengembalikan 10 persen saja.

Sekarang yang menanggung pembayaran hutang Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) tersebut adalah rakyat Indonesia dicicil melalui APBN setiap tahunnya dan itu belum tentu akan lunas hingga 50 tahun  mendatang. Sedangkan para anak konglomerat hitam seperti James Riyadi dan Antony Salim sekarang justri berdiri dibelakang Jokowi untuk mengincar kekuasaan dan kembali menjarah negeri ini jika kelak Jokowi akhirnya terpilih menjadi Presiden RI.

Kalau pada Pilgub DKI para konglomerat hitam itu telah menggelontorkan dana hasil rampokan BLBI puluhan triliun rupiah dan akhirnya berhasil mendudukkan Jokowi-Ahok di kursi Gubernur dan Wagub, maka pada Pilpres nanti diperkirakan mereka akan mengelontorkan dana ratusan triliun rupiah demi mendudukkan Jokowi di kursi RI-1 dan mereka menginginkan RI-2 berasal dari tokoh Kristen atau Katolik. Dana sebesar itu akan disokong para konglomerat hitam di dalam negeri dan luar negeri terutama pada Hoakiauw di Asia Tenggara, dimana mereka sekarang sering mengadakan pertemuan di Singapura. Jadi sesungguhnya masa depan Indonesia sedang ditentukan dari Singapura jika Jokowi sampai berhasil menguasai Istana.

Tidak hanya menjadi antek aseng, ternyata Jokowi juga menjadi antek asing terutama AS. Terbukti awal 2012 lalu sebelum Jokowi maju untuk pencalonan Gubernur DKI, Dubes AS Scott  A Marciel sempat berkunjung ke Solo dan bertemu Jokowi. Diduga keduanya bertemu untuk membicarakan pencalonan Jokowi guna merebut kursi DKI-1. Bahkan akhir bulan lalu Jokowi bersama Megawati bertemu dengan para Dubes negara-negara Barat termasuk AS dan Vatikan di sebuah rumah pengusaha Cina anggota jaringan Yahudi Internasional di Jakarta. Pertemuan yang sesungguhnya rahasia tersebut ternyata berhasil dicium insan pers, namun Jokowi tetap tidak mau menyebutkan apa isi pembicaraan antara dirinya dengan para Dubes negara-negara Barat dan Vatikan tersebut.

Namun liciknya Jokowi, untuk meredam kecurigaan umat Islam kalau dirinya sebenarnya antek asing dan aseng, Jokowi awal bulan ini sengaja mengunjungi para tokoh Islam dari kalangan Muhammadiyah dan NU yang kemudian dilanjutkan dengan mengadakan pertemuan dengan para Dubes negara-negara Timur Tengah di Jakarta. Hal itu dimaksudkan untuk mengelabui umat Islam Indonesia sekaligus pada Pilpres nanti agar memilih Jokowi,  jadi sekali dayung  dua tiga pulau terlampaui.

Dengan demikian sesungguhnya jika Jokowi terpilih menjadi Presiden RI pada Pilpres 9 Juni nanti, maka akan menjadi momentum untuk mengubah Indonesia menjadi Singapura kedua atau menjadi Indonesia negara satelit RRC. Pasalnya, kelompok konglomerat hitam Hoakiauw yang menjadi geng Jokowi saat ini sudah menguasai 70 persen perekonomoan nasional, jika nanti dia berkuasa praktis akan menguasai politik nasional. Jika politik dan ekonomi sudah dikuasai satu kelompok mafia Hoakiaow, maka pertanda akan tamatlah NKRI dan kemunduran besar bagi umat Islam Indonesia yang saat ini mayoritas mutlak 88 persen.

Dapat dipastikan para konglomerat hitam geng Hoakiauw yang berkolaborasi dengan Kristen dan Katolik Fundamentalis itu akan berusaha keras sekuat daya dan tenaga untuk mengkristenkan dan mengkatolikkan umat Islam Indonesia, yang dulu selalu gagal dilancarkan penjajah Belanda meski mereka berkuasa selama 350 tahun atas Nusantara. Sebab sesungguhnya mereka telah menunggu 1.000 tahun sejak Kerajaan Singosari, sekarang  mereka berfikir  mumpung Wie Jo Koh sedang berkuasa di Indonesia, kapan lagi waktunya kalau tidak sekarang untuk menguasai Nusantara sekaligus mengkristenkan umat Islam sehingga menjadikan Indonesia Negara Kristen Republik Indonesia (NKRI). Naudzubillah min dzalik. (PRAS/Halim D)

 

Created by: Abdul Halim

 

Komentar Anda

LEAVE A REPLY