Home Nasional James Ryadi, Bandar Hitam Penyokong Jokowi

James Ryadi, Bandar Hitam Penyokong Jokowi

0
SHARE

jamesPOROSNEWS.COM – Menarik ditelusuri peran bandar hitam di balik hajatan pesta demokrasi di Inodnesia (pemilu 2014). Pengamat politik dari The Indonesian Reform, Martimus Amin mengatakan keberadaan bandar hitam ditengarai sangat mewarnai arah jagat politik tanah air dalam menentukan kepala negara atau pemerintahan terpilih. Tujuannya, tak lain membentuk pimpinan boneka untuk menyetir kebijakan negara dan pemerintahan.

“Tidak usah heran apabila negara selama ini sulit mewujudkan kedaulatan politik dan ekonomi yang berpihak kepada rakyat banyak.” katanya saat menjadi pembicara diskusi Pra Mukernas Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam (PP GPII), di Bakoel Kaffei, Jakarta, Rabu (7/5) lalu.

Selain Amin, diskusi menghadirkan pembicara, Donny Arman, Ketua PP GPII, Hamdan Nugroho, aktivis 98,  dan Ali Rasyid, Direktur Al Azhar Institute.

Menurut Amin, bandar hitam yang bercokol di Indonesia dikenal sebagai kartel ekonomi dan politik Indonesia. Mereka dibesarkan dan selalu diuntungkan sistem rezim yang korup. Dengan kekuatan kapital dan jaringan internasionalnya, para inlander menghamba kepadanya.

“Salah satu bandar hitam yang berada di balik hajatan politik, James Riady pemilik Lippo Group”, tegas Amin.

Amin menjelaskan, James sukses menghimpun dana dan menghantarkan salah satu kandidat Gubernur DKI Jakarta yang kini perannya berlanjut sebagai penyokong dana bagi Jokowi di Pilpres 2014.

Dari yang diketahuinya, reputasi James terkenal sebagai konglomerat curang dan berani melanggar hukum. Misalnya, memalsukan laporan keuangan Bank Lippo yang menggoncang pasar modal RI sehingga menimbulkan krisis kepercayaan investor asing. Publik mungkin masih ingat pengusaha Billy Sindoro yang tertangkap Komisi Pemberantasan Korupsi karena menyuap Ketua KPPU, M. Iqbal. Billy saat itu masih menjabat presiden Direktur First Media Grup, anak perusahaan Lippo Grup, Atau kasus konsumen perumahan Sentul yang merasa tertipu. Proyek yang dibayai Lippo group ini tidak pernah diselesaikan.

Parahnya, masih kata Martimus, James sebagai perpanjangan pemerintahan China menyuap Presiden Amerika Serikat Bill Clinton. Kasusnya dikenal dengan nama ‘Lippogate’.

“Jika rakyat tidak kritis menyikapi keberadaan para bandar hitam di balik capres 2014, niscaya kedaulatan negara kita semakin tergadaikan,” demikian Martimus. (PN-PRAS-002)

Komentar Anda

LEAVE A REPLY