Home Nasional Daerah Caleg Gerindra Dilaporkan ke Polisi

Caleg Gerindra Dilaporkan ke Polisi

0
SHARE

uang suapPOROSNEWS.COM  – Legislator dari Partai Gerindra yang terpilih melalui pemilihan umum legislatif (Pileg) pada 9 April 2014, Saudah Tuankotta/Tethol dilaporkan ke polisi terkait dugaan penyuapan kepada dua oknum anggota Panwaslu Kabupaten Maluku Tenggara.

Caleg Partai Gerindra dari Dapil VI (Maluku Tenggara, Kota Tual, Kepulauan Aru), Pieter Leiwakabessy melalui kuasa hukumnya, Fistos Noija, di Ambon, Minggu (11/5), mengatakan, telah melaporkan Saudah ke Polda Maluku pada 10 April 2014.

Saudah juga adalah Caleg dari Partai Gerindra asal Dapil VI dengan nomor urut 3, sedangkan Pieter nomor urut 4.

Dugaan penyuapan ini berdasarkan hasil copian CCTV hotel Amaris di Kota Ambon pada 27 April 2014 yang terlihat Saudah memberikan masing – masing satu amplop berwarna putih diindikasikan di dalamnya ada uang.

Amplop itu diterima oknum anggota Panwaslu Kabupaten Maluku Tenggara masing – masing oleh Frans Matwear dan M.Hasan Amin.

Fistos menyatakan, dugaan penyuapan itu berawal dari informasi Caleg Partai Golkar Dapil Kota Ambon, Zeth Formes kepada kliennya dan setelah meminta secara resmi kepada manajemen hotel Amaris diberikan copian sebagai barang bukti.

“Praktek kurang bertanggungjawab ini dikaitkan dengan koreksi perolehan suara Pieter, Saudah dan rekan Caleg Partai Gerindra Dapil VI lainnya dengan nomor urut 2 yakni Yules Chevalier Dumatubun sehingga harus dilaporkan ke polisi,” ujarnya.

Pertimbangannya saat pleno rekapitulasi perolehan suara anggota DPRD Maluku dari Dapil VI oleh KPU Maluku di Ambon pada 29 April 2014 ternyata saksi Partai Gerindra melakukan koreksi dengan alasan tidak dimasukan suara Saudah dengan benar.

Akibatnya, terjadi penggelembungan suara yang menyalahi hasil rekapitulasi perhitungan suara, baik di Maluku Tenggara, Kota Tual maupun Kepulauan Aru tercatat Pieter meraih suara terbanyak yakni 2.976 suara, menyusul Saudah 2.931 suara dan Yules Chevalier Dumatubun 1.062 suara.

Hasil koreksi oleh Semmy itu dengan mencopot 50 suara Yules dimasukan ke Saudah sehingga menjadi menjadi 2.976 suara dan melebihi Pieter lima suara.

“Anehnya saat koreksi itu Panwaslu Maluku Tenggara tidak memprotes sebagaimana data rekapitulasi dari Dapil VI dan ditarik kesimpulan itu karena telah disuap sebagaimana copian CCTV hotel Amaris,” tegas Fistos.

Padahal, sebenarnya Pieter unggul 45 suara dari Saudah sehingga berdasarkan laporan dari Zeth dan copian CCTV diindikasikan penggelembungan suara itu tidak diprotes Panwaslu Maluku Tenggara karena telah menerima amplop diduga berisikan uang di hotel Amaris pada 27 April 2014.

“Jadi laporan juga telah disampaikan ke Gakumda Maluku, Bawaslu Maluku dan KPU Maluku, selanjutnya melapor ke DPP Partai Gerindra dengan harapan diteruskan Mahkamah Konstitusi maupun Dewan Kehormatan Penyelenggaraan Pemilu (DKPP),” ujar Fistos.

Saudah membantah melakukan penggelembungan suara karena koreksi itu dilakukan saksi Partai Gerindra, Semmy Loupatty.

Sedangkan, copian CCTV hotel Amaris itu tidak ada kaitannya dengan Panwaslu Maluku Tenggara.

“Jadi bukan upaya saya melakukan penggelembungan suara. Namun, pihak penyelenggara (KPU Maluku) yang dikoreksi saksi Partai Gerindra sehingga silahkan Pieter mempermasalahkannya,” tandas Saudah.

Saudah bersama 44 legislator Maluku periode 2014 – 2019 telah ditetapkan KPU Maluku di Ambon pada 7 April 2014, selanjutnya disahkan KPU Pusat pada 8 April 2014. (Ant)

Komentar Anda

LEAVE A REPLY