Home BUDAYA Kyai Matdon Luncurkan Buku Puisi “Ustadz Televisi”

Kyai Matdon Luncurkan Buku Puisi “Ustadz Televisi”

0
SHARE

matdonPOROSNEWS.COM  – Sebuah buku kumpulan puisi kembali dilahirkan dari buah pemikiran penyair asal Bandung, Matdon. Di tahun 2014 ini, Matdon secara khusus mempersembahkan buku puisi berjudul “Ustadz Televisi”.

Buku kumpulan  puisi tersebut adalah karyanya yang ke-7. Sementara itu, puisi  Ustad Televisi sebagian di antaranya sudah dimuat di sejumlah media cetak antara 2009-2014.

“Ini adalah kritik sosial bagi siapa saja, tidak hanya ustadz. Saya yakin tidak semua ustadz seperti yang saya gambarkan dalam puisi, masih ada ustadz yang biasa tampil di televisi dengan baik dan tidak neko neko,” katanya dalam rilis yang diterima Porosnews.com, Selasa, (13/5).

Kumpulan puisi ini berisi kurang dari 50 puisi. Diterbitkan oleh Teko Publishing bekerjasama dengan Majelis Sastra Bandung (MSB) Publishing.


Berikut sebagian larik dalam puisi Ustadz televisi:

Kau kibarkan sorbanmu seperti mengibarkan bendera merah putih

atau celana dalam.

Di setiap kibarannya ada ayat-ayat suci

ada hadits ada fatwa dan berjuta teks amanat suci

yang kau biarkan melayang diatas langit

karena kau terlalu sibuk menjadi matahari bagi siang

dan terlalu sibuk menjadi rembulan bagi malam hari.

dan kau begitu  khusuk menikmati ketenaran selebritis.

Dan seterusnya…..

Selain itu, pada kumpulan puisi tersebut merupakan puisi cinta, sebagai pelengkap buku. Seperti puisi berjudul Pucuk Kenangan

jalan terjal tujuh kilometer dari danau sipin

namamu diseret angin pucuk malam.

pada kelokan ke sekian kita sempat berhenti

sekedar reureuh dari hiruk pikuk sajak

dan  saling mereguk sungai batanghari.

sungai sunyi, sesunyi seloko

senyummu menusuk jantung menikam pagi

lalu aku harus beringsut

setelah satu kecupan kau pagut

Matdon juga pernah meluncurkan buku puisi antara lain Persetubuhan Bathin (bersama penyair Dedy Koral), Garis Langit,  Mailbox, Kepada Penyair Anjing, Benterang (bersama Atasi Amin dan Anton D. Sumartana) dan Sakarotul Cinta.

Selain menjalani hidup menjadi penyair, Matdon masih menjalani tugas sebagai jurnalis, Redpel  situs berita www.voiceofbandung.com sejak tahun 2009 sampai sekarang.

Matdon juga menulis buku esai “Birahi Budaya (2012/2013)”. Sementara puisi-puisinya juga dapat diapresiasi pada buku antologi bersama “Maha Duka Aceh”, “Di Atas Viaduct”, “JILFEST”, Temu Sastrawan Indonesia di Ternate, Pertemuan Penyair Nusantara di Jambi.

Puisi dan tulisan budayanya dimuat di Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Kompas, Galamedia, Bandung Post, Balipost, Seputar Indonesia, Tribun Jabar, Radar Bandung, The Jakarta Post dll.

Sejak tahun 2009 hingga kini, Matdon merupakan Rois ‘Am  Majelis Sastra Bandung (Komunitas sastra), sebuah komunitas sastra yang dia dirikan bersama rekan rekannya.

Muslihat Kapitalistik?

Seniman asal Bandung Heri Dym sangat mengapresiasi buku kumpulan puisi Matdon “Ustadz Televisi”.

“Saya harus memberi tanda jempol. Itu bukanlah tanda jempol basa-basi demi menyenangkan penulisnya, melainkan pengakuan bahwa sajak ini betul-betul impresif. Kesan yang paling kuat, tentu saja, manakala kata ‘ustadz’ disandingkan dengan ‘televisi’.”

Dia mengatakan buku kumpulan puisi “Ustadz Televisi” ini merupakan upaya Matdon untuk menangkap paradoks yang begitu kuat antara dunia nilai, pendidikan, dan ajaran yang berhadapan langsung dengan dunia tak tersentuh, artifisial, hingga muslihat kapitalistik.

Kebetulan pula setelah sajak ini ‘diluncurkan’ di fesbuk, bermunculan kasus-kasus beberapa ustadz yang melenceng dari prinsip nilai, pendidikan, dan ajaran. Ketika itu pula, setidaknya bagi Matdon, kata “ustadz” itu menjadi memiliki dua daya sekaligus yaitu dalam arti langsung (denotatif) dan sebagai metafor.

“Ustadz di sisi denotatif adalah sosok yang seperti umumnya masyarakat pahami yaitu seseorang yang lazimnya berada di dalam tradisi pendidikan keagamaan (Islam), yang ternyata ‘belum tentu’ merupakan pusat kebenaran malah seyogianya seperti kemanusiaan lainnya yaitu hal yang terbuka bagi kritik.”

Akan tetapi, katanya, ustadz pun dapat dimaknai sebagai metafor bagi berbagai hal yang dibangun oleh kecenderungan media televisi.

Seperti orang ketahui, disengaja atau pun tak sengaja, televisi seolah-olah telah menjadi pusat segala kebenaran, penyihir kesadaran publik, dan penentu nilai-nilai.

Berkenaan dengan itu hingga muncul pameo “as seen on tv.” Jukstaposisi dari pameo tersebut adalah sihir bahwa apa yang terlihat di tv itu pasti yang terbaik, paling unggul, istimewa.

Sajak “ustadz televisi” dalam tataran metafor terasa sekali tenaganya berkekuatan untuk mendekonstruksi ‘sihir palsu’ tersebut. Atau setidak-tidaknya berfungsi sebagai ‘alarm’ yang menyatakan “Ah, tak selamanya tv itu benar dan terbaik, buktinya ada ustadz tv yang dungu.” (PRAS).

Komentar Anda

LEAVE A REPLY