Home Nasional Daerah Tuyul dan Babi Ngepet Hebohkan Warga Tasikmalaya

Tuyul dan Babi Ngepet Hebohkan Warga Tasikmalaya

0
SHARE

bagongPOROSNEWS.COM  – DUA tahun silam, isu bagong kajajaden alias babi ngepet menghebohkan warga Karangnunggal, Kab. Tasikmalaya dan sekitarnya. Gara-gara prilaku aneh babi hutan yang tertangkap warga. Tidak seperti biasanya, bagong yang mendadak jadi selebriti daerah itu gemar makan sari roti dan minum kopi, bersahabat, dan tampak klimis.

Isu dua tahun silam itu — (7/2/2012) — kini bergeser ke Taraju, Tasik Selatan  berbatasan dengan Kabupaten Garut. Bahkan selain bagong kajajaden, diduga-duga pula tuluy berkeliaran di kawasan perkebunan teh itu.

Tanda-tandanya dirasakan setelah sebulan, warga banyak yang kehilangan uang di rumah. Awalnya seorang, tetapi rupanya yang lain juga merasa mengalami hal yang sama. Akhirnya, pesan berantai mengalir menjadi perbincangan hangat dari mulut ke telinga. Tersiarlah cerita lisan rakyat moderen itu.

Cerita berbau mitos itu termasuk khazanah folklor yang berkembang secara lisan. Tidak bisa dipungkiri, isu tuyul dan bagong kajajaden merupakan cerita rakyat yang diwariskan secara turun temurun, tetapi tidak dibukukan. Selain bagian dari adat istiadat tradisional, mitos termasuk ke dalam foklor. Lantaran, kental bernuansa kebudayaan kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu.

Dunia gaib, termasuk yang melekat dengan masyarakat. Seperti halnya dongeng, faktanya sulit dibuktikan. Tetapi diakui secara kolektif, walaupun ketika ditelusuri wujudnya tidak ada. Isu yang tersebar di Karangnunggal dan Taraju, salah satu fakta sosial yang tidak bisa dibantah.
Ketika warga kehilangan uang secara massal, dan sulit dicari sebabnya, kemudian muncul pembenaran. Peristiwa yang dianggap ganjil atau di luar jangkauan akal sehat, mitos bisa menjadi jawaban alternatif. Puluhan warga Kecamatan Taraju, mengaku telah kehilangan uang secara mesterius. Jumlahnya beragam mulai Rp 100.000 hingga Rp 2 juta.

Bila memang ada pencuri yang masuk rumah, menurut warga, tak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Umpamanya, kunci rumah atau jendela rusak. Kondisi di sekitar rumah tidak ada yang berubah. Rasa ingin tahu ihwal penyebab uang mereka dalam rentang sebulan itu masih misteri. Konvensi tradisional menjawabnya dengan menawarkan pilihan fakta budaya yang di luar jangkauan akal. Merebaklah isu tuyul dan bagong kajajaden itu.

Fenomena sosial itu akan bersinggungan dengan nilai-nilai religi yang sangat menentang takhayul. Kepercayaan yang didasari dengan adat-istiadat, tradisi, cenderung ditolak. Tetapi fakta sosial yang berkembang kadung sudah mengakui ihwal itu secara kolektif. Persoalan ini harus dicermati secara komprehensif dari berbagai sudut pandang. Bila gegabah, bisa mengganggu tatanan sosial yang secara turun-temurun dihayati masyarakat. (PN-PRAS/FokusTasik)

Komentar Anda

LEAVE A REPLY