Home Nasional Karyono: Jokowi – JK Pasangan Komplementer

Karyono: Jokowi – JK Pasangan Komplementer

0
SHARE

 

karyono

Oleh:

Karyono Wibowo, Peneliti Senior Indonesian Public Intitute

POROSNEWS.COM – Seperti yang sudah saya prediksi sejak awal, seperti yang saya sampaikan dalam forum-forum diskusi dan dimuat di beberapa media, akhirnya menjadi kenyataan. JK hari ini akan diumumkan sebagai cawapres mendampingi Jokowi yang diusung PDIP menjadi calon presiden.

Pasangan Jokowi – JK menurut saya adalah pasangan yang komplementer, saling melengkapi. Dipilihnya JK menjadi cawapres Jokowi adalah pilihan politik yang realistis karena koalisi PDIP memerlukan figur yang tak hanya memiliki aspek normatif seperti integritas, kapasitas dan elektabilitas, tetapi dalam sistem politik saat ini diperlukan juga kemampuan menggalang dukungan parpol utk membangun kerjasama di pilpres maupun mengawal kebijakan di parlemen nanti.

Dalam konteks elektoral, potensi JK cukup besar dalam mempengaruhi dukungan  pemilih, terutama di wilayah Indonesia Timur. Bahkan prediksi saya, JK mampu membelah suara Golkar seandainya Partai Golkar mengajukan pasangan capres sendiri atau bergabung dengan poros Gerindra.

Karena, dalam sistem pemilihan presiden langsung, selalu ada kecenderungan suara pemilih parpol terbelah dan terdistribusi ke semua pasangan calon. Apalagi bila figur capres dari Golkar kurang menjual, kemungkinan justru JK yang akan mendapat dukungan lebih besar.

Perlu diketahui, dalam sistem pemilihan presiden secara langsung, faktor figur justru lebih dominan mempengaruhi elektabilitas jika dibandingkan dengan faktor partai. Contoh kasusnya adalah pilpres 2004, dimana pasangan SBY – JK yg diusung Demokrat mendapat dukungan lebih besar dibanding calon presiden dari Partai Golkar Wiranto – Salahudin Wahid.

Fenomena itu bisa dilihat dari hasil survei perilaku pemilih berdasarkan pilihan parpol, bisa dilihat sebaran pemilih yang terdistribusi ke masing-masing pasangan capres, bisa dideteksi berapa prosentase pemilih parpol pada pemilu legislatif yang memilih pasangan capres yang diusung oleh parpol pilihan responden, dan berapa persen yang memilih pasangan capres yg diusung partai bukan pilihan responden.

Saya ingin mengatakan, pemilih berdasarkan pilihan parpol tidak linier 100% memilih pasangan capres yang diusung oleh partai pilihannya. Dengan kata lain, pemilih parpol tertentu belum tentu memilih pasangan capres yg diusung oleh partai pilihannya. Jadi, menurut saya, bisa jadi pasangan Jokowi – JK akan mendapatkan dukungan suara lebih besar dari para pemilih Golkar.

Terkait dengan plus minus JK jika berpasangan dengan Jokowi, menurut saya tidak ada pasangan capres-cawapres yg sempurna tanpa cacat. Masing-masing pasangan capres tentu memiliki kekurangan dan kelebihan.

Kelebihan pasangan Jokowi – JK adalah pasangan ini saling melengkapi (komplementer). Figur JK memiliki pengalaman menjadi wakil presiden. Selain itu, JK adalah tokoh yg berpengaruh di wilayah Indonesia bagian timur. Keunggulan yang lainnya dari sosok JK adalah kemampuannya dibidang ekonomi.

Dari segi karakter, kelebihan JK adalah tegas, lugas dan cepat mengambil keputusan. Sedangkan Jokowi memiliki kemampuan merangkul rakyat, meyakinkan rakyat dan pekerja keras dan gaya kepemimpinan yg egaliter. Namun, banyak pihak yg melihat sisi kelemahan pasangan Jokowi – JK, yaitu adanya kekhawatiran bahwa JK akan lebih dominan di pemerintahan dibanding Jokowi. Hal ini didasarkan oleh faktor usia JK yang lebih tua dari jokowi dan karakter JK sebagai pengusaha.

Menurut saya, hal itu bisa terjadi tetapi bisa juga tidak. Semuanya tergantung komitmen yg dibangun keduabelah pihak. Mungkin hal itu bisa terjadi di era SBY-JK tapi belum tentu terjadi di kabinet Jokowi-JK. Keuntungan bagi Jokowi dari segi politik dalam jangka panjang adalah figur JK kemungkinan besar tidak akan maju di pilpres 2019 karena faktor usia. Sehingga tidak ada conflic of interest di pemerintahan. (PN/PRAS)

 

Komentar Anda

LEAVE A REPLY