Home Nasional Hukum KPK Nilai Bantahan Anas Tidak Mendasar

KPK Nilai Bantahan Anas Tidak Mendasar

0
SHARE

anas2POROSNEWS.COM – Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto, menegaskan bahwa surat dakwaan Anas Urbaningrum, disusun oleh tim Jaksa Penuntut Umum KPK berdasarkan bukti-bukti yang ada.

Bambang membantah penyebutan Anas mengumpulkan uang yang dilatarbelakangi keinginan maju sebagai calon presiden RI bersifat imajiner.

“Silahkan ikuti proses persidangan, karena itu didasarkan atas keterangan saksi. Apa yang ditulis di KPK, tidak ada yang imajiner tapi berbasis alat dan barang bukti,” kata Bambang, dalam pesan singkatnya, Sabtu 31 Mei 2014.

Namun, Bambang menganggap Anas tidak konsisten dengan ucapannya sendiri, sehingga banyak yang tidak bisa dipercaya. Dia mencontohkan, Anas menyatakan tidak pernah menerima uang sepeser pun.

Dalam dakwaannya, Jaksa menjelaskan secara rinci apa saja yang diterima Anas, termasuk besarannya dan dibelikan apa saja, serta cara penyamaran uang tersebut.

“AU dan lawyer tidak pernah menyangkal soal dana-dana yang diterimanya itu, tetapi justru menanggapi soal calon presiden. Itu indikasi yang menandakan dia kesulitan membuktkan aset dan kekayaannya dari sesuatu yang sah dan halal,” kata Bambang.

Selain itu, ada beberapa hal lain yang menurut Bambang menunjukkan Anas tidak konsisten. Salah satunya saat dikonfrontir dengan koleganya Muhammad Nazaruddin di persidangan kasus Hambalang, dengan terdakwa Teuku Bagus Muhammad Noor. “Soal ‘Digantung di Monas’, apakah AU pernah bicara soal itu lagi?,” kata Bambang.

Jaksa Penuntut Umum KPK mendakwa Anas Urbaningrum menerima gratifikasi berupa dua mobil mewah dan uang ratusan miliar rupiah dari proyek di Kementerian Pemuda dan Olahraga dan proyek-proyek lainnya.

Dalam perjalanannya, Anas diketahui bersama Muhammad Nazaruddin pernah mendirikan perusahaan yang diberi nama Permai Grup. Perusahaan itu yang digunakan Anas dan Nazaruddin untuk mendapatkan proyek-proyek kementerian.

Namun, setelah terpilih menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014, dan terpilih sebagai ketua umum Partai Demokrat tahun 2010, Anas keluar dari Permai Grup.

Sebelumnya, jaksa mengungkapkan bahwa perbuatan Anas dilatarbelakangi keinginan maju sebagai calon presiden RI. Anas kemudian menggunakan Partai Demokrat untuk memulai karir politiknya.

“Pada 2005, terdakwa mundur dari anggota KPU karena ingin mewujudkan keinginan menjadi Presiden. Terdakwa, kemudian bergabung dengan Partai Demokrat,” kata Jaksa Yudi. (PN/VN)

Komentar Anda

LEAVE A REPLY