Home RAGAM Jurnalis Video Dituntut Multi Skill

Jurnalis Video Dituntut Multi Skill

0
SHARE

IMG-20140613-00764POROSNEWS.COM  – Profesi jurnalis video atau televisi saat ini dihadapkan dengan era digital yang serba modern yang menuntut agar gambar yang dihasilkan saat menjalankan tugas liputan dapat terdokumentasikan tanpa keluhan alias clear.

Perkembangan teknologi yang kian pesat mau tidak mau wajib diikuti oleh segenap jurnalis gambar untuk mendapat gambar yang maksimal dan layak saji.

Demikian penuturan salah seorang jurnalis station tv Al-Jazeera, Dito saat berdiskusi di markas JITU (Jurnalis Islam Bersatu): Video Journalism Session di kawasan Cipinang, Jakarta Timur, Jumat, (13/6).

“Pada dasarnya teknologi sekarang makin pesat dan segalanya serba instan, tidak seperti zaman analog sekarang zaman digital kalau kita tidak mengikuti perkembangan alat-alat sekarang nanti kita akan ketinggalan,”katanya.

Menurutnya, zaman digital juga mengharuskan untuk memancing manusia mengasah kemampuan atau skill. Lagi-lagi, alasannya agar tidak ketinggalan kereta dan tergilas oleh arus modernisasi.

Di samping itu, kata dia lagi, era serba cepat ini juga memancing stimulus agar manusia peka dan bisa menguasai berbagai bidang atau multi skill, bukan hanya bercokol pada satu bidang saja.

“Sementara yang lain sudah bikin program yang bagus-bagus, kita tidak hanya sebagai program sampingan, tapi itu (multi skil) harus jadi program utama, karena sekarang ini kalau tidak dituntut oleh multimedia dengan visualisasi dan program-program yang bagus-bagus saya kira tidak akan berkembang,”terangnya.

Hanya saja, sambung dia, pesan di balik profesi seorang kameraman adalah apa yang dihasil bukan apa yang menghasilkan. Artinya, kata dia, semua itu berawal dari semangat, kemauan dan tidak minder dengan peralatan yang ada.

“Liputan pake kamera sederhana mungkin saja. Jadi kalau lagi liputan konflik gak ada alat lain selain hp ya pake aja hp kan nanti juga jadi gambar. Yang penting ada gambar dulu kecuali kalau sifatnya dokumenter itu kan memerlukan alat-alat khusus,”paparnya.

Filosofi Kameramen

Sebagai basic kameraman, Dito melanjutkan, gambar yang layak saji dan bisa dinikmati penonton meliputi tiga kriteria, pertama pengambilan gambar harus fokus tidak blur, kedua gambarnya harus clear/tidak ada halangan di depan dan belakangnya atau gambar tidak tertutup cahaya dan ketiga gambar tidak goyang.

“Kalau tiga syarat itu terpenuhi sebenarnya gambar layak untuk dilihat. Itu teknik yang harus dikuasai oleh setiap penyaji gambar atau juru kamera,”tandasnya.

Liputan konflik

Pria yang telah malang melintang dalam menghadapi resiko itu pun memberi tips agar dalam setiap peliputan, di antaranya menghindari kepanikan saat terjadi kerusuhan yang berujung baku tembak.

“Selain kita jangan panik, kita lihat siapa musuh siapa kawan misalnya ada tembakan dari depan jangan berdiri di tengah kita harus minggir atau minimal menghindari peluru itu, kita harus melihat pelurunya arahnya dari mana kalau panik jd buyar, cari tempat aman kira-kira dimana,”tandasnya.

“Yang pertama kali harus kita amankan diri kita dulu setelah kita aman baru memikirkan gambar. Jangan sebaliknya nanti mati konyol,”tambahnya. (PN/PRAS)

Komentar Anda

LEAVE A REPLY