Home BUDAYA Kenali Betawi Lewat Setu Babakan

Kenali Betawi Lewat Setu Babakan

0
SHARE
Foto : Marcopolo, Setu Babakan
Foto : Marcopolo, Setu Babakan
Foto : Marcopolo, Setu Babakan

POROSNEWS.COM, JAKARTA – Bagi anda warga DKI Jakarta yang merasa bosan dengan hirup-pikuk kehidupan ibukota yang selalu ramai dengan kemacetan dan pemandangan hutan beton. Bagi anda para warga DKI Jakarta dan sekitarnya yang sudah jenuh dengan hingar-bingar politik pemilu presiden (pilpres) 2014. Silahkan mencoba suasan yang alami, adem, asri di kawasan Perkampungan Budaya Betawi, Setu Babakan yang terletak di Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan, Jagakarsa, Kota Madya, Jakarta Selatan.

Ditempat inilah, anda akan dimanjakan dengan kondisi hidup yang alami, keramahan penduduk lokal dan jauh dari hingar-bingar dunia politik yang menjenuhkan dan dipenuhi dengan trik dan intrik untuk menjatuhkan lawan.

Kawasan perkampungan Setu Babakan sendiri berdiri diatas lahan seluas ± 289 Ha dan terdiri atas dua setu, yaitu Setu Babakan dan Setu Mangga Bolong. Selain pandangan alami dan asri, di setu ini anda akan disuguhi dengan kuliner dan kehidupan asli suku Betawi.

Proses Pembentukan

Beberapa waktu lalu, PorosNews.Com, menyambangi kawasan wisata budaya yang terletak di selatan ibukota dan bertemu dengan Koordinator Kesenian dan Pemasaran Perkampungan Budaya Betawi, H. Sibroh Malisi.

Kepada PorosNews.com, pria sepuh yang juga dokter itu bercerita banyak tentang asal-usul dan pembentukan kawasan cagar budaya tersebut. Ia berkisah pembentukan Setu Babakan pada awalnya diinisasi oleh Gubernur Sutiyoso. Pada tahun 2000, bekas Pangdam Jaya itu membentuk sebuah satgas yang ditugaskan untuk menjaga dan melestarikan budaya Betawi, baik yang bersifat fisik maupun non fisik, termasuk pembentukan Setu Babakan didalamnya.

“Kemudian secara resmi Setu Babakan ditetapkan sebagai kawasan Cagar Budaya Betawi pada tahun 2004 bersamaan dengan HUT DKI Jakarta yang ke 474. Dan untuk memperkuat hal tersebut maka dibuatlah Perda pada tahun 2005,” ungkap Sibroh.

Lebih lanjut Sibroh menjelaskan fungsi lain dibentuknya Setu Babakan adalah untuk menjaga harkat dan martabat orang Betawi itu sendiri. Ia amat berharap, selain untuk melestarikan budaya lokal, Setu Babakan juga diharapkan dapat meningkatkan kehidupan ekonomi bagi warga sekitar.

“Hal lain yang juga penting, Setu Babakan bukan hanya berorientasi untuk meraih keuntungan ekonomis semata. Melainkan sebagai objek wisata dengan nilai bidaya Betawi yang kental,” tambah Sibroh.

Selain itu, bang Dokter itu juga mengajak kepada segenap warga untuk selalu menjaga kelestarian, dan mengembangkan kebudayaan adiluhung yang merupakan warisan leluhur. Himbauan menjaga kelestarian Setu babakan bukan hanya ditujukan kepada warga Betawi semata, melainkan kepada semua pihak, penduduk yang sama-sama mencintai kebudayaan asli Indonesia.

“Hal tersebut sesuai dengan amanat UU. No. 29 tahun 2007. Bukan hanya pemerintah yang berkewajiban menjaga cagar budaya ini, melainkan kita semua harus menjaga dan melindunginya,” tutup Sibroh.

Sekedar informasi, Setu Babakan sendiri menyediakan 67 rumah adat (home Stay) yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, baik untuk riset, edukasi dan rekreasi.

Selain itu, Setu Babakan juga menyajikan pentasan seni dan budaya orang Betawi, semisal pementasan lenong, seni tari, adat pernikahan, nginjek tanah, palang pintu dan sebagainya.

Untuk kuliner yang disediakan di cagar budaya ini adalah kerak telor, bir pletok, toge goreng, gado-gado, soto betawi, sayur gabus pucung, ikan pecak dan sebagainya. (Tim PorosNews.Com).

 

 

 

Komentar Anda

LEAVE A REPLY