Home Nasional Hukum Hayati Ajaran Sapta Marga, Wiranto Penuhi Panggilan Bawaslu

Hayati Ajaran Sapta Marga, Wiranto Penuhi Panggilan Bawaslu

0
Foto : Ist, Jenderal Wiranto Bersama Presiden Soeharto
Foto : Ist, Jenderal Wiranto Bersama Presiden Soeharto
Foto : Ist, Jenderal Wiranto Bersama Presiden Soeharto

POROSNEWS.COM, JAKARTA – Mantan Panglima ABRI era Orde Baru yang juga Ketua Umum DPP Partai Hanura, Jenderal (Purn) TNI Wiranto akhirnya datang memenuhi panggilan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Kedatangan bekas orang nomor satu dijajaran prajurit TNI itu terkait dugaan kampanye hitam yang dituduhkan tim kuasa hukum pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa (Prabowo-Hatta) kepada dirinya.

Mantan panglima Komando Cadangan Strategis (Pangkostrad) itu menambahkan, jumpa pers yang dilakukan dirinya beberapa waktu lalu, terkait pemecatan Prabowo Subianto oleh Dewan Kehormatan Perwira (DKP) didasari oleh kebenaran untuk menyampailkan fakta sebenarnya dalam pesta pora kerusuhan tahun 1998 dan juga penculikan belasan aktivis pro demokrasi kala itu.

“Pertama saya memberikan keterangan pers waktu itu karena saya harus menjelaskan atas permintaan dan dorongan serta keinginan banyak pihak,” ujar Wiranto usai memberi keterangan kepada Bawaslu di Gedung Bawaslu, Jakarta, Selasa (24 Juni).

Lebih lanjut mantan capres RI tahun 2004 itu menambahkan, kedatangan dirinya ke lembaga pengawas penyelenggara pemilu ada beberapa tujuan. Tujuan pertama adalah sebagai respon pengaduan yang dilayangkan tim hukum dan advokasi Prabowo-Hatta padda tanggal 19 Juni lalu.

Dimana dalam pengaduan tersebut, Pangab Wiranto dituduh melakukan kampanye hitam dan merugikan nama baik capres Prabowo. Sebab, Wiranto mengatakan dalang penculikan belasan aktivis pro demokrasi adalah Prabowo Subianto. Dan Prabowo sendiri kala itu bekerja atas dasar inisiatif sendiri, dan tidak berdasarkan perintah atasan.

Sedangkan untuk asalan kedua adalah keinginan dari capres Prabowo dalam debat capres sesi II lalu yang mengatakan bahwa dirinya sebagai seorang prajurit hanya menjalankan perintah atasan, untuk menjaga keamanan, ketertiban dan stabilitas bangsa kala itu. Termasuk didalamnya membungkam dan menculik belasan aktivis. “Ini dasar saya menjelaskan,”  tutup loyalis Jenderal Soeharto tersebut. (SID/PN).

 

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.