Home Nasional Daerah Dukung Jokowi-JK, MetroTV Jadikan Widji Thukul Komoditas Politik

Dukung Jokowi-JK, MetroTV Jadikan Widji Thukul Komoditas Politik

0
SHARE
Widji Thukul, Foto : Ist
Widji Thukul, Foto : Ist
Widji Thukul, Foto : Ist

POROSNEWS.COM, JAKARTA – Mantan aktivis 98 yang juga bekas ketua Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) yang juga staff khusus presiden, Andi Arief mengaku geram dengan pemberitaan massif MetroTV yang menjadikan Widji Tukul sebagai komoditas politik untuk menyudutkan pasangan Prabowo Subinato-Hatta Rajasa (Prabowo-Hatta) dan memenangkan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) dalam pemilu presiden (Pilpres).

“Inilah saatnya saya akan berterus terang, menepati janji. Bercerita tentang Widji Thukul,” kata Andi di Jakarta Jum’at, 28 Juni 2014.

Lebih lanjut Andi menjelaskan sejak peristiwa penyerangan 27 Juli 1996 (Kudatuli), dirinya bersama dengan rekan-rekan seperjuangan terus mencari keberadaan Widji Thukul. Singkat cerita pada tahun 1997 dirinya berhasil berjumpa dengan penyair legendaris yang terkenal dengan slogan “Hanya Ada Satu Kata Lawan”.

Dalam pertemuan tersebut Andi melihat bahwa Thukul sudah kehilangan spirit dan semangatnya untuk terus melakukan perlawanan kepada rezim Orde Baru. Ia bersama dengan kawan-kawan lain, melihat ada banyak perubahan dalam diri seniman legendaris tersebut.

“Rasanya sulit bisa menjelaskan Thukul 1997 yang kehilangan spirit dan progresif. Thukul dalam setiap rapat dan diskusi tidak pernah lagi bersemangat. Bahkan saat akan pengambilan gambar pembacaan pusinya yang akan dikirim ke pembukaan Kongres DSP di Australia, harus dilakukan berkali-kali. Bukan hanya Thukul tida hapal bait-bait pusinya, tetapi karena ia juga tidak menghayati,” tamnah Andi.

Kemudian pada pertengahan 1997 disaat harga dollar terus melambung tinggi, Thukul meminta izin kepada segenap aktivis SMID untuk pergi menjenguk keluarganya yang sudah lama tidak ia tengok. Andi juga menegaskan, dirinya tidak mengetahui kemana Thukul pergi. Hanya saja ia menegaskan bahwa perginya Thukul jauh dari masa-masa penangkapan dan penculikan aktivis pada media 1997 hingga Maret 1998.

Namun demikian, Andi menegaskan bahwa dirinya pernah bertemu dengan Thukul setelah dirinya dikeluarkan dari penjara Polda Metro jaya pada pertengahan tahun 1998. Kala itu perjumpaan terjadi di Coffe Shop di sebuah hotel dibilangan Cikini, jakarta Pusat.

“Saya senang karena Thukul masih ada. Perlu diketahui KontraS dan Ikohi pada awal-awal tidak memasukkan Thukul dalam daftar orang hilang. Lalu dimana Thukul? Saya yakin dia  masih hidup, entah dimana. Namun saya masih menyimpan jelas nama yang disebut Thukul adalah nama Stanley. Nama yang tak asing bagi dunia pers dan Tempo. Dan sampai saat ini saya belum pernah bertemu dengan Stanley untuk menanyakan hal tersebut,” tutup Andi. (IN/PN).

 

Komentar Anda

LEAVE A REPLY