Home Nasional Daerah Jenderal Prijanto : Waspada Bahaya Laten Komunis didepan Mata

Jenderal Prijanto : Waspada Bahaya Laten Komunis didepan Mata

0
Palu Arit, Lambang PKI (Foto : Ist)
Palu Arit, Lambang PKI (Foto : Ist)
Palu Arit, Lambang PKI (Foto : Ist)

POROSNEWS.COM, JAKARTA – Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta, periode 2007-2012, Mayjen Purn TNI Prijanto mengatakan kebangkitan komunisme ditanah air sudah demikian jelas. Secara perlahan namun pasti, komunisme mulai melakukan konsolidasi secara serius baik didalam maupun diluar negeri. Kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) sudah amat nyata dan harus diwaspadai.

“Sepertinya komunisme sedang melakukan konsolidasi terencana dan serius di Indonesia,” kata purnawirawan jenderal bintang dua tersebut di Jakarta, Minggu, 29 Juni 2014.

Lebih lanjut purnawiranan jenderal bintang dua itu menambahkan, benih-benih kebangkitan PKI nampak jelas dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu banyak sekali menyimpan anak-anak keturunan PKI, sebut saja Rieke Dyah Pitaloka, Ribka Tjiptaning Ploretariat dan sebagainya.

Pada Oktober tahun 2002, saat itu Ribka Tjiptaning sudah terpilih menjadi anggota DPR RI. Berbekal dengan kewenangan yang dimilikinya, Ribka kemudian menulis sebuah buku politik yang kontroversial dengan judul, Aku Bangga Jadi Anak PKI (ABJAP). Dalam buku tersebut Ribka menceritakan peristiwa meletusnya G30S/PKI. Dan dengan bangga Ribka menyanjung sang ayah yang merupakan tokoh PKI pada tahun-tahun tersebut.

Konsolidasi kader-kader PKI semakin menguat pada tahun 2010. Kala itu, Rieke Dyah Pitaloka yang juga caleg DPR RI terpilih menjalin konsolidasi nasional di Banyuwangi, Jawa Timur. Kala itu, Rieke berhasil menghimpun banyak aktivis berhaluan kiri untuk melakukan konsolidasi. Bahkan hal lain yang juga tidak kalah mengejutkan adalah Eva Kusuma Sundari, anggota Komisi III DPR RI secara langsung memimpin delegasi untuk belajar ke Republik Rakyat China (RRC).

Masih kata Mayjen Purn Prijanto, kebangkitan PKI semakin kentara tatkala semakin menguatnya usulan penghapusan Bintara Pembina Desa (Babinsa) oleh PDIP dan juga kritik keras capres Joko Widodo kepada Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) tentang pembelian Main Battel Tank (MBT), Leoprad dalam debat capres beberapa waktu lalu.

“Tank Leopard yang dibutuhkan TNI AD ditolak. Sebab dalam sejarah TNI AD adalah musuh bebuyutan PKI,” tegas mantan Asisten Staff Teritorial (Aster) KASAD tersebut.

Prijanto juga menambahkan dalam ajang pilpres tahun ini, modus-modus yang dilakukan PKI semakin nampak. Mulai dari mengobok-obok internal TNI AD, kemudian menjauhkan TNI dari rakyat, meragukan kemampuan prajurit dan mengadu domba satu sama lain antar prajurit dan purnawirawan TNI.

“Bagi saya, hanya ada satu kalimat paling tepat. Jangan pernah beri peluang bagi komunisme untuk berkuasa ditanah air,” tutupnya.

Sekedar kilas balik, kala itu isu keterlibatan TNI dalam politik kian mencuat. Laporan keterlibatan Babinsa TNI dalam pilpres disampaikan oleh seorang warga keturunan Tionghoa dikawasan Jakarta Pusat. Menurut pelapor, tiba-tiba oknum Babinsa mendatangi dirinya dengan maksud hendak melakukan pendataan pemilih. Namun pelapor mengaku bahwa dirinya diarahkan oleh oknum Babinsa untuk mendukung pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dalam pilpres.

Laporan tersebut sudah ditindaklanjuti Bawaslu RI. Namun saat Bawaslu RI bersama dengan aparat kepolisian, camat, lurah, Ketua RW dan Ketua RT mendatangi lokasi kejadian, sang pelapor sudah tidak ada. Dan Panglima TNI sendiri melakukan pengusutan sekaligus penyelidikan terkait dugaan keterlibatan anggotanya dalam politik praktis. Dalam pengusutan tersebut, TNI memberikan hukuman kepada beberapa oknum TNI yang diduga kuat terlibat dalam politik praktis. (IN/AST/PN). 

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.