Home Nasional IPI : Inilah 5 Faktor Pemicu Terjadinya Chaos Dalam Pilpres

IPI : Inilah 5 Faktor Pemicu Terjadinya Chaos Dalam Pilpres

0
SHARE
Analis Politik IPI, Karyono WIbowo, Foto : Ist
Analis Politik IPI, Karyono WIbowo, Foto : Ist
Analis Politik IPI, Karyono WIbowo, Foto : Ist

POROSNEWS.COM, JAKARTA – Analis Politik Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo mengatakan ada lima faktor yang menyebabkan pelaksanaan pemilu presiden (pilpres) akan berlangsung dengan chaos. Jika lima hal tersebut terjadi secara massif, maka tidak mungkin potensi terjadinya benturan cukup kuat.

Apa sajakah kelima faktor tersebut? Pertama adalah penyelenggara pemilu yang tidak netral. Kedua aparat TNI-Polri yang tidak netral dan mendukung pasangan capres-cawapres tertentu. Ketiga, munculnya lembaga-lembaga survei partisan yang tendensius dan memenangkan pasangan capres-cawapres tertentu.

“Keempat merebaknya politik uang dan kelima adalah kampanye hitam,” kata Karyono dalam sebuah diskusi publik dibilangan Cikini, Jakarta Pusat, Jum’at malam, 4 Juli 2014.

Lebih lanjut Karyono menjelaskan yang dimaksud dengan lembaga penyelenggara pemilu adalah Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu, mulai dari tingkat pusat hingga tingkat daerah. Berkaca dari pengalaman pelaksanaan pemilu legislatif (pileg) beberapa waktu lalu ketidaknetralan penyelenggara pemilu sudah jelas. Hal tersebut semakin jelas dan terang-benderang, tatkala Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) menjatuhkan saksi pemberhentian kepada KPU-Bawaslu diberbagai daerah yang terbukti memihak kepada calon.

“Kemudian soal netralitas TNI-Polri memang selalu diucapkan. Tapi terungkapnya kasus Bintara Pembina Desa (Babinsa) beberapa waktu lalu yang mendukung pasangan capres-cawapres tertentu menjadi tanda tanya kembali atas netralitas TNI dan Polri,” tanya Karyono.

Untuk alasan ketiga adalah keberadaan lembaga survei partisan yang muncul mendadak serta tidak mempunyai rekam jejak sebagai akademisi. Namun dalam survei yang dipaparkan, lembaga survei tersebut bertolak belakang dengan lembaga survei lain yang kredibel dan menggunakan kaidah ilmiah.

Mereka, lanjut Karyono berafiliasi kepada pasangan capres-cawapres tertentu. Dan dalam setiap publikasi yang dilakukan selalu memenangkan pasangan calon tersebut.

“Terlebih menjelang pilpres yang tinggal hitungan hari. Survei yang mereka lakukan hasilnya sulit diterima nalar,” tambah mantan aktivis GMNI tersebut.

Masih kata Karyono, untuk alasan keempat adalah praktik politik uang yang dilakukan selama masa tenang dan beberapa jam menjelang pencoblosan. Dalam tataran empiris politik uang adalah cara paling ampuh dan jitu untuk meraup suara dalam jumlah besar. Dan hanya kalangan kapital saja yang bisa melakukan paktik politik uang tersebut.

“Untuk yang terakhir adalah kampanye hitam. Sebut saja kampanye hitam bernuansa SARA yang menyudutkan Jokowi, dengan tuduhan sebagai antek PKI. Bukan hanya merugikan capres terkait, tapi akibat adanya isu tersebut juga menyulut emosi para pendukungnya,” tutup Karyono.

Diberitakan sebelumnya, sebuah stasiun televisi swasta ternama menyatakan capres Jokowi adalah capres yang mempunyai pertalian kuat dengan aktivis PKI dimasa lampau. Akibat isu tersebut, puluhan massa, dan simpatisan PDIP mengepung dan menyegel kantor statiun televisi tersebut di DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). (MARC/PN). 

Komentar Anda

LEAVE A REPLY