Home Nasional Lily Wahid : Lupa Sejarah, Publik Rindu Pemimpin Otoriter

Lily Wahid : Lupa Sejarah, Publik Rindu Pemimpin Otoriter

0
SHARE
Lily Wahid, Foto : Ist
Lily Wahid, Foto : Ist
Lily Wahid, Foto : Ist

POROSNEWS.COM, JAKARTA – Mantan Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Hj. Lily Chodidjah Wahid menilai jika mayoritas warga negara Indonesia (WNI) tidak pernah dari kejadian masa lampau dan cepat melupakan kejadian sejarah dimasa lalu.

Menurut Lily dalam fenomena tersebut nampak jelas dalam ajang pemilu presiden (pilpres) yang akan digelar pada tanggal 9 Juli 2014. Lily menyindir banyaknya pihak yang mengelu-elukan mantan Pangkostrad, Prabowo Subianto yang kini maju sebagai presiden dari koalisi merah putih. Padahal sebagai bekas prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI), Prabowo diduga kuat melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dimasa lampau dan hingga kini belum tuntas kasusnya.

“Reformasi sendiri baru berjalan selama 16 tahun. Masyarakat begitu cepat lupa apa yang terjadi para Era Orde Baru dulu. Dan pada pilpres kali ini rupanya publik lebih senang dengan sikap pemimpin otoriter, sama persis dengan gaya Orde Baru dimasa lampau,” kata Lily dalam sebuah diskusi publik di Cikini, Jakarta Pusat, Jum’at malam, 4 Juli 2014.

Lebih lanjut, mantan anggota DPR RI Fraksi PKB periode 2009-2014 itu menjelaskan pada saat selama 32 tahun rezim Orde Baru berkuasa dengat amat represif. Jika ada perbedaan sikap antara pemerintah dengan warga negera, maka secepat mungkin pemerintah akan mengambil tindakan tegas untuk membungkam aspirasi warga negara tersebut.

“Jadi kalau kita mau buka mulut itu harus keluar negeri dulu. Apakah kita mau kembali ke masa seperti itu lagi,” tanya adik kandung mantan Presiden Abdurrahman Wahid tersebut.

Sementara itu, analis Politik Lembaga Pemilih Indonesia (LPI), Boni Hargens menilai jika sosok Prabowo adalah sosok masa lampau dan bagian integral dari kekuatan Orde Baru, sementara capres Joko Widodo adalah simbol dari era reformasi yang mengedepankan kebebasan berpendapat, berserikat dan menghargai perbedaan.

Boni menambahkan dalam pilpres 2014 kali ini adalah pertarungan sejarah yang kembali terulang, pertarungan antara kekuatan Orde Baru dengan kekuatan reformasi. Jika Prabowo yang muncul sebagai pemenang maka kekuatan Orde Baru akan kembali hidup, sebaliknya jika Jokowi yang menang sejarah akan terus kembali berjalan.

“Jadi ini bukan perang Badar, tapi perang masa depan dan masa lampau,” kata Boni dalam acara serupa.

Sekedar informasi pemilu presiden sendiri dilaksanakan pada tanggal 9 Juli 2014 dan diikuti dua pasang capres-cawapres. Pasangan pertama adalah Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan pasangan kedua adalah Joko Widodo-Jusuf Kalla. (PN/MARC). 

Komentar Anda

LEAVE A REPLY