Home Nasional Hukum Tim Pengacara Muslim Segera Antar Jakarta Post ke Meja Hijau

Tim Pengacara Muslim Segera Antar Jakarta Post ke Meja Hijau

0
SHARE
Tim Pengacar Muslim, Achmad Michdan dalam jumpa pers, Selasa, (8/7). Foto: Egi Banderas

 

Tim Pengacar Muslim, Achmad Michdan dalam jumpa pers, Selasa, (8/7). Foto: Egi Banderas
Tim Pengacar Muslim, Achmad Michdan dalam jumpa pers, Selasa, (8/7).
Foto: Egi Banderas

POROSNEWS.COM – Tim Pengacara Muslim sangat menyayangkan atas keteledoran dan  kecerobohan Koran The Jakarta Post yang menampilkan gambar karikatur bermuatan sara yang menyinggung kalangan Islam.

Betapa tidak, koran pro Jokowi itu menampilkan satu gambar karikatur berlafad Lailaha illallah atau kalimat tauhid dipadukan degan gambar tengkorak bajak laut dalam sebuah bendera.

Atas tindakan yang disengaja itum Tim Pengacara Mulim akan melakukan upaya hukum sampai ke meja hijau.

“Ini kan jelas nilai tauhid yang ada dalam Islam disetarakan dengan penyamun. Kami Tim Pengacara Muslim tidak akan tinggal diam terhadap kasus ini dan kita akan memproses ini secara hukum akan melakukan upaya hukum yang tegas. Kami minta institusi-institusi terkait ikut memberi penilaian yang jernih,” ucap Achmad Michdan dalam jumpa pers di Kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa, (8/7).

Perihal siapa yang berada di balik tampilnya karteikatur tersebut, Achmad menandaskan bahwa pihaknya tidak akan terpengaruh oleh apapun, entah ini upaya sekelompok orang yang anti Islam dari pihak yang berkepentingan dalam pilpres.

 

“Saya sendiri tidak akan terpengaruh oleh kepentingan pilpres, yang jelas ini merupakan fakta ada penodaan perhal siapa yang teribat di dalamnya ini tergantung nanti proses penyidikannya,”tandasnya.

Sejauh ini, pihak The Jakarta Post telah meminta maaf atas peristiwa tersebut. Namun rupanya hal belumlah dianggap cukup dan final karena isu sara tersebut teramat sensitif dan menyentuh pada nilai paling esensial dalam Islam yang tidak bisa diganggu.

 

“Ini bisa masuk pasal 156, kami pengacara muslim keberatan dengan itu. Minta maaf saja tidak cukup, tidak menghapuskan pidana. Kami akan minta hal ini dibahas di majelis ulama. Kita akan simultan, laporan ke polisi, MUI, dewan pers. Mungkin setelah pilpres,”ucap Achmad lagi.

Menurutnya, sikap apatis koran tersebut cenderung memancing perseteruan dan membangkitkan kebencian.

“Lambang tengkorak itu kesannya penjahatkan, perampas,”katanya.

Ia juga berharap agar media-media yang ada di Indonesia tidak ikut bermanuver dengan memuat pemberitaan yang mendiskreditkan Islam.

“Jadi jangan main-main. Tokoh-tokoh Islam jangan mau dibeli. Kalau nilai Islam yang didzalimi itu berat. Nilai Islam jangan didzalimi. Amat sangat keberatan, karena itu sebagai penodaan dan penistaan agama,”ucapnya.

 

Tidak dipungkiri jika setiap ada yang merasa tersinggung oleh pemberitaan sebuah media maka ada hak jawab sebagai bantahan. Namun demikian, sambung Achmad, bahwa koran sekaliber The Jakarta Post sejatinya tidak ceroboh koran berbahasa Inggris itu bukanlah media ecek-ecek namun memiliki segudang pengalaman dan mmpekerjakan  jurnalis-jurnalis handal.

“Meski ada hak jawab, tentu media ini juga bukan media baru ya media yang mempunyai pengalaman ya reporternya pun saya yakin bukan reporter sembarangan harusnya amat berhati-hati.  Jadi ini satu keteloderoan yang menurut saya fatal ini tidak bisa ditolelir begitu saja dan harus menjadi pelajaran.Kami didesak terus saya banyak dihubungi para aktivis Islam, kami amat kecewa dan khawatir terhadap apa yang sudah terjadi harus diselesaikan secara tegas. Sama sekali tidak dendam dan tidak akan melakukan tindakan anarkis tapi harus melakukan upaya hukum konkret yang melibatkan dewan pers, majelis ulama, dan para ahli,”urainya.

 

Di Indonesia, Islam Tidak Dibela 

Kenapa di Indonesia ada teroris? jawaban sederhana adalah karena teroris adalah ‘proyek besar’ dari sebuah konspirasi besar. Bila tidak digarap berarti tidak akan ada pencairan dana untuk menggarapnya.

Terlepas dari itu, yang jelas Islam di Indonesia kerap mendapatkan perlakuan yang tidak sehat dari negara. Nilai-nilai luhur Islam teramat sering disudutkan oleh pihak tertentu.

“Kasus terorisme itu adalah kasus terdzaliminya umat Islam yang sebetulnya harus dikaji bagaimana Islam itu tidak mendapatkan pembelaan dari negara kemudian mereka mencari jalan untuk melakukan pembelaan. Kalau ada kejahatan di negara ini maka pembelaannya harus difasilitasi oleh negara, ulama-ulama harusnya memberikan suport pencerahan bagaimana harus bersikap,”ujar Achmad Michdan lagi.

“Karena tidak dapat pembelaan, tidak dapat perlindungan, maka ‘ini’ merupakan jalan yang ‘mereka’ tempuh sendiri. Maka tokoh ahli fikih, ulama Islam harus memberi penjelasan (mengajak) dialog dengan pemerintah bahwa Islam yang tertindas itu harus mendapat tempat. Kalau tidak akan terjadi pemahaman kelompok paham-paham tersendiri yang melakukan perlawanan dan pembelaan terhadap ketidakadilan,”terangnya lagi.

Achmad Michdan juga menegaskan bahwa  penghinaan tersebut  tidak boleh lagi terjadi khususnya di Indonesia. Meski  Indonesia bukan negara Islam, kata dia,  tapi  negara Indonesia bisa merdeka dari penjajahan Belanda dan Jepang itu diilhami oleh ideologi Islam.

“Itu tidak bisa dipungkiri maka siapapun, mau ini lagi ada pilpres saling mengingatkan saja siapun presidennya harus menghormati nilai-nilai Islam bukan mendiskreditkan Islam. apalagi mendiskreditkan Islam sebagai pelaku teror. Ini yang harus disikapi,”tutupnya. (PN/Egi Banderas)

 

Komentar Anda

LEAVE A REPLY