Home Nasional Daerah Langkah Bank Muamalat Kian Mengkhawatirkan, Kenapa?

Langkah Bank Muamalat Kian Mengkhawatirkan, Kenapa?

0
SHARE

POROS – Bank Muamalat Indonesia melewati tahun 2014 dengan penuh perjuangan. Sebab, pembiayaan bermasalah alias kredit macet (non perfoming financing/NPF) kian memberatkan langkah Bank Muamalat.

Ada dua sektor pembiayaan yang seret sehingga mendongkrak NPF Bank Muamalat. Hendiarto, Direktur Keuangan dan Operasional Bank Muamalat mengungkapkan, penyumbang NPF tertinggi di perseroan adalah sektor pertambangan dan transportasi, lantaran masa depan dua sektor ini tengah buram.

Dari sektor transportasi, salah satu debitur yang mangkrak adalah Batavia Air. Hendiarto bilang, kasus pailit maskapai Batavia Air menjadi biang keladi. Kucuran pembiayaan Bank Muamalat yang tersangkut di maskapai itu sebesar Rp 120 miliar.

Saat ini Bank Muamalat hanya berharap pada hasil penjualan aset pailit. Catatan saja, outstanding pembiayaan Bank Muamalat saat Batavia bangkrut adalah Rp 186 miliar.

Status pailit Batavia Air memang berimbas ke sejumlah bank lantaran bank tersebut menjadi kreditur maskapai ini. Selain Bank Muamalat, Batavia Air juga terbelit kredit macet ke Bank Capital senilai Rp 15 miliar dan Bank Harda sebesar Rp 11 miliar.

Status pailit Batavia Air memang berimbas ke sejumlah bank lantaran bank tersebut menjadi kreditur maskapai ini. Selain Bank Muamalat, Batavia Air juga terbelit kredit macet ke Bank Capital senilai Rp 15 miliar dan Bank Harda sebesar Rp 11 miliar.

Hendiarto mengakui, pembiayaan macet di Batavia Air dan sektor pertambangan masih membuat rasio NPF Bank Muamalat tinggi. “Di akhir tahun, memang ada peningkatan rasio pembiayaan bermasalah, tapi masih di bawah 5%,” kata Hendiarto, Senin (19/1). Sebagai gambaran, porsi penyaluran pembiayaan pertambangan terhadap total pembiayaan Bank Muamalat kurang dari 5%.

Alhasil, Bank Muamalat bakal mengerem laju pembiayaan pada dua sektor bisnis yang masih dililit macet tersebut. Alasan bank ini, sektor pertambangan dan transportasi masih belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan. “Oleh karena itu, kami akan mengalihkan pembiayaan ke sektor lainnya,” ujar Hendiarto. Tahun ini, Bank Muamalat membidik sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Debitur Cina Bangkrutkan Muamalat

Pergantian direksi Bank Muamalat benar-benar menyeruakkan aroma tak sedap dari bank syariah pertama di Indonesia tersebut. Tidak mau mewarisi kinerja buruk direksi sebelumnya, Direktur Utama BMI Endy PR Abdurrahman memerintahkan jajarannya untuk menyelesaikan persoalan kredit macet (NPF) yang membelit Bank Muamalat. “Saya minta semua piutang yang sudah tidak tertagih untuk segera di write off (hapus buku)”, demikian disampaikan Endy sebagaimana ditirukan sumber kami di Bank Muamalat.

Berdasarkan data yang diperoleh redaksi, Bank Muamalat menghadapi persoalan kredit macet yang tidak ringan. Untuk wilayah Jabodetabek saja piutang yang tidak tertagih mencapai angka satu triliun rupiah.

Lebih dari 90 perusahaan yang menunggak macet dan sudah diambil alih jaminannya. Uniknya, penelusuran yang dilakukan tim sharia.co.id menemukan lebih dari 80% debitur bermasalah tersebut merupakan pengusaha Aseng/Cina.

Kuat dugaan bahwa ada permainan antara debitur aseng nakal dengan direksi Bank Muamalat terdahulu sehingga perusahaan yang tidak sehat tetap dapat pengucuran kredit. Beberapa perusahaan sakit yang mendapatkan fasilitas pembiayaan cukup besar dari Bank Muamalat antara lain : Batavia Air (akhirnya pailit), Sky Aviation (pailit), dan Tridiantara.

Semua perusahaan tersebut dimiliki oleh pengusaha Cina. Seorang pengusaha lokal muslim bernama Ikhwan mengisahkan bahwa beberapa waktu lalu, perusahaannya yang bergerak di bidang galangan kapal mendapat kontrak dari Berau Coal untuk membuat dua unit kapal. Setelah semua syarat dipenuhi tiba-tiba pihak Bank Muamalat membatalkan kerjasama tanpa alasan yang jelas. “Saya menduga mereka maunya mendapat sekian persen dari transaksi yang dilakukan, seperti yang mungkin biasa mereka terima jika membiayai pengusaha China,” aku Ikhwan dengan nada kesal.

Testimoni yang hampir serupa disampaikan oleh beberapa pengusaha lokal muslim yang ditemui sharia.co.id. Tingginya kredit macet membuat manajemen baru untuk sementara mengerem pembiayaan. Akibatnya pendapatan menjadi tergerus sehingga diprediksi untuk tahun 2014 ini Bank Muamalat akan mengalami kerugian miliaran rupiah. [sharia/dbs)

Komentar Anda

LEAVE A REPLY