Home BUDAYA Ahok Hanya Banyak Bacot dan Lebih Senang Merendahkan Orang

Ahok Hanya Banyak Bacot dan Lebih Senang Merendahkan Orang

0

POROSNEWS – Gubernur DKI Jakarta Ahok memang hanya banyak bacot. Kalau kata orang Betawi, ngomong sepelampangan, ditaker kagak ada secentong.  Buktinya, setelah mengatakan sejarawan JJ Rizal sebagai orang yang goblok dan kemudian Rizal mengajak Ahok berdiskusi, Ahok mengelak dan malah kembali mengatakan goblok kepada Rizal. “Dia mau debat apa? Ilmunya beda begitu, apa yang mau didebat? Apa yang maudidebatin? Dari awal, start-nya sudah goblok, apa yang mau didebatin?” kata Ahok di di Lapangan Banteng, Jakarta, Ahad (23/8). Padahal, Rizal tidak mengajak berdebat, tapi mengajak berdiskusi.

JJRizalAhok

Rizal, tambah Ahok, harus banyak belajar dengan menanyakan ke Dinas Pekerjaan Umum (PU), daerah mana saja yang termasuk resapan air. “Suruh dia tanya sama PU aja kalau dia mau pintar. Datang ke Kemen PU soal normalisasi sungai, waduk, sistem banjir, mana resapan itu, PU yang bisa jelasin. Ada profesor-profesor. Ya, kan? Jadi, utara itu bukan resapan,” katanya.

Ahok menilai Rizal tidak paham soal daerah resapan air, sehingga ia enggan untuk melakukan debat. “Makanya saya bilang dia itu goblok. Kalau mau pintar, belajar dengan profesor. Kalau sama gua dia ngotot, orang sejarawan enggak ngerti ilmu, sok tahu ilmu banjir,” kata Ahok.

Aneh juga. Kalau memang Ahok pintar, hebat, dan mumpuni soal banjir dan malsalah kota, dia mestinya akan melayani ajakan diskusi Rizal. Diskusi itu bukan hanya berpotensi melahirkan ide-ide untuk kemajuan Jakarta, tapi juga akan memberikan pencerahan dan membuka wawasan bagi penyimaknya. Tapi, sekali lagi, Ahok ternyata memang cuma banyak bacot dan suka merendahkan orang lain dengan berlindung di balik posisinya sebagai pejabat, apalagi ia kemudian juga kebetulan dekat presiden.

Sebelumnya, terkait kebiadaban yang dilakukan pihak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang dipimpin Ahok terhadap warga Kampung Pulo-Jakarta Timur, yang pemukimannya digusur, JJ Rizal lewat akun Twitter-nya pada Kamis lalu (20/8) mengatakan, penggusuran itu bukti tidak konsistennya Ahok. Ahok juga dinilai hanya galak dengan orang kecil, tapi sebaliknya baik sekali dengan para pengembang atau developer.

“Kalau Ahok konsisten gusur Kampung Pulo karana dianggap tinggal di lahan hijau/resapan, gusur juga dong lingkungan rumahnya di Pantai Mutiara. Kawasan Pantai Mutiara itu kawasan yang 860 hektare diperuntukan bagi hutan bakau dan resapan. Tapi, kok, Ahok belaga enggak tahu dan berdosa tinggal di sana. Ahok enggak bakal gusur rumahnya di Pantai Mutiara meski melanggar peruntukan karena dia anggap itu rumah hoki dan dia enggak tahu sejarah ruang Jakarta. Mengapa kepada orang kecil Ahok galak sekali, sementara pada developer sepertu reklamasi Pluit yang jelas-jelas merusak lingkungan hatinya baik sekali? Yang tinggal di kawasan yang seharusnya bukan untuk perumahan tapi dibuatan jadi perumahan oleh developer dan diberi sertifikat itu terus dianggap legal? Sutiyoso ketika banjir 2002 saja menggusur rubuhin vilanya di puncak. Masa Ahok kagak mau gusur rubuhin rumahnya di lahan resapan dan hutan bakau,” kata Rizal dalam beberapa kali cuitannya.

Menurut dia lebih lanjut, rumah susun selalu menjadi alasan bahwa Ahok manusiawi. “Tapi, apa manusiawi dari punya tanah dan rumah sendiri jadi ngontrak 5 tahun doangan dan perpanjang?” ujarnya.

Dari 2,8 hektare lahan Kampung Pulo, tambahnya, 1,7 hektare punya sertifikat, tapi mereka dicap penghuni liar dan hrs pindah ke rumah susun, jadi orang kontrakan, kehilangan tanah dan kampung halaman. “Mengapa Ahok tutup mata perusakan lingkungan, jaga larangan Kementerian Lingkungan Hidup, soal reklamasi Pluit yang akan menjadi bencana ekologi Jakarta, tapi melotot soal Kampung Pulo. Ahok bilang memihak kebenaran demi Jakarta baru, tapi rupanya Jakarta Baru = Orde Baru, bilang atas nama hukum tapi untuk si kaya, si superkaya. Ahok tahu dan orang Kampung Pulo sudah ketemu dia bawa surat legal dan konsep matang kampung berwawasan manusia dengan air, ahok sepakat tapi kemudian berkhianat. Orang Kampung Pulo sudah ketemu Ahok didampingi kawan Ciliwung Merdeka, bawa konsep hasil kerja bareng arsitek-aristek terbaik yang disaluti Ahok tapi kemudian…. Kalau ahok benar bela yang benar, kenapa urusan reklamasi Pluit, keputusan Kementerian Lingkungan Hidup, yang dimenangkan Mahkamah Agung, diabaikan, proyek rusak lingkungan dibiarin jalan? Ahok gusur dong rumahnya karena di lahan utan mangrove yang dijadikan hunian mewah dan akibatkan penurunan tanah, banjir rob, baru bela yang benar. Apa Ahok sadar dan punya pengetahuan bahwa ia pun sejenis orang Kampung Pulo yang dituduh penghuni liar penyebak bencana banjir karena tinggal di Pluit? Kalau Ahok betul menngerti Jakarta, ya, kudunya dia lihat dirinya pun bagian dari penjahat lingkungan karena tinggal di kawasan 806 hektrea hutan bakau. Ahok dukung reklamasi developer-developer gede yang jual kawasan mewah, persetan rusak lingkungan. Kalau Jakarta rusak, banjir parah, yang disalain si miskin. Soal Ahok atau soal lama elite Jakarta, yaitu arogansi dan prasangka kepada si miskin sebagai biang masalah, dimusuhi, bukan digandeng untuk cari solusi. Bahkan, saat si miskin sudah didampingi intelektual dari aneka ilmu, Ahok tetap berprasangka ke si miskin, artinya ia anti-si miskin anti intelektual,” tutur Rizal. (Pur) www.pribuminews.com

Komentar Anda