Home BUMN Ada Menteri Kabinet Joko Widodo Akui Prestasi SBY

Ada Menteri Kabinet Joko Widodo Akui Prestasi SBY

0
SHARE

POROSNEWS – Pada 5 Februari lalu, Menteri Perindustrian Saleh Husen mengungkapkan, pembangunan industri nasional hingga saat ini telah mencapai kemajuan yang cukup baik. Ia mencontohkan industri pengolahan non-migas, yang mampu tumbuh dan berkembang secara signifikan. “Tahun ini menjadi awal dari tahapan pembangunan jangka menengah nasional tahun 2015-2019,” kata Saleh pada Rapat Kerja Kementerian Perindustrian Tahun 2015 di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta.

Dalam penjelasannya, pertumbuhan industri pengolahan non-migas secara kumulatif hingga triwulan III tahun 2014 mencapai 5,30%. Pertumbuhan ini lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi (PDB) pada periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 5,11%. Cabang-cabang industri yang mengalami pertumbuhan tertinggi antara lain, Industri Barang Lainnya sebesar 10,77%; Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau sebesar 8,80%; Industri Barang Kayu dan Hasil Hutan Lainnya sebesar 7,27%, dan; Industri Kertas dan Barang Cetakan sebesar 6,02%.

Kontribusi sektor industri pengolahan non-migas mencapai 20,65% dari total PDB nasional, yang tertinggi dibandingkan sektor-sektor lainnya. Nilai ekspor industri non-migas pada Januari-Oktober 2014 mencapai US$ 98,43 miliar atau memberikan kontribusi sebesar 66,48% dari total ekspor nasional.

Walau impor produk industri masih lebih tinggi dari ekspor, defisit neraca perdagangan industri telah ditekan dari US$ 17,49 miliar pada Januari-Oktober 2013 menjadi US$ 5,47 miliar pada Januari- Oktober 2014. Sementara itu, nilai investasi PMDN sektor industri non-migas sepanjang tahun 2014 mencapai Rp 59,03 triliun atau meningkat sebesar 15,37% dari tahun 2013 dan memberikan kontribusi sebesar 39,93% dari total investasi PMDN tahun 2014.

Adapun nilai investasi PMA sektor industri non-migas mencapai US$ 13,02 miliar atau menurun sebesar 17,9% dan memberikan kontribusi sebesar 45,63% dari total investasi PMA tahun 2014.

Itu semua tentu saja prestasi pemerintahan yang dipimpin Presiden Doktor Susilo Bambang Yudhoyono. Dan, prestasi SBY pada Senin ini (2/11) juga diakui oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro. Ia menyebutkan ada peningkatan sebesar enam kali lipat terhadap besaran nilai pengelolaan barang milik negara (BMN) yang signifikan selama kurun waktu sembilan tahun. “Pada 2006 aset negara atau BMN senilai Rp323,5 triliun menjadi Rp1960,4 triliun di 2014,” ungkap Bambang dalam acara BMN award di Aula Dhanapala, Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat.

Peningkatan tersebut, tambahnya, tak dapat dimungkiri karena adanya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 6 Tahun 2006 tentanng Barang Milik Negara atau Daerah. Selain itu, peningkatan kinerja pengelolaan BMN juga ditandai dengan peningkatan opini BPK dengan LKPP dan LKKL. Untuk LKKP untuk periode 2004-2008  memperoleh posisi disclaimer dan meningkat menjadi WDP 2009-2014. Akan halnya LKKL yang mendapat opini WTP mengalami peningkatan dari tujuh K/L saja pada 2006  menjadi 62 K/L 2014.

Hebat, ya, pemerintahan yang dipimpin Presdien Susilo Bambang Yudhoyono. Bagaimana dengan pemerintah sekarang? Kita lihat saja. Pasti lebih hebat. Karena, seperti diungkapkan Menteri Saleh pada 22 Desember 2014 lalu, para menteri di era pemerintahan sekarang tak perlu lagi membuat program kementerian, semua sudah dibuatkan oleh Jokowi. “Para menteri Kabinet Kerja tidak diperkenankan punya program serta visi dan misi sendiri untuk memajukan kementeriannya masing-masing. Presiden sudah punya program dan menteri tinggal menjalankan saja,” ungkap Saleh Husin ketika itu.

Ini berbeda dengan pemerintahan sebelumnya, lanjut Saleh, yang para menterinya punya program untuk memajukan kinerja kementerian yang dipimpin. “Mungkin beda pemerintahan yang sebelumnya dengan yang saat ini, saat ini kami langsung dijelaskan oleh Pak Presiden bahwa menteri tidak punya program,” tuturnya. (Tom/Pur)

Komentar Anda