Home DUNIA Yusril Ihza Pertanyakan Pemahaman Bahasa Diplomatik Menlu Retno Marsudi

Yusril Ihza Pertanyakan Pemahaman Bahasa Diplomatik Menlu Retno Marsudi

0
SHARE

POROSNEWS – Ahli hukum tata negara yang juga Ketua Umum Partai Bulan Bintang, Yusril Ihza Mahendra, meminta pemerintah berhati-hati dan menelaah bahasa diplomatik Cina, terutama dalam kaitannya dengan klaim atas Kepulauan Natuna. Lewa akun Twitter-nya,  Sabtu kemarin (21/11), pengacara yang pernah beberapa kali menjadi menteri itu mengungkapkan, Cina bisa saja mengatakan tak pernah mengklaim Natuna. Tapi, peta resmi yang disiarkan pemerintah Cina menunjukkan sebaliknya. “Hati2 dg bahasa diplomatik Kemlu china. Mereka memang bilang tdk klaim Pulau Natuna. Tapi peta resmi yg disiarkan pemerintah china memasukkan perairan Natuna ke dalam wilayah laut mereka,” tulis Yusril.

Dijelaskan Yusril, Kepulauan Natuna dalam peta tersebut terletak di dalam wilayah laut yang diklaim milik Cina. “Ini bertentangan dengan Unclos (United Nations Convention on the Law of the Sea). Apa Anda paham masalah ini? Apa Menlu Retno tdk paham bahasa diplomatik dan Unclos?” katanya. Kalau Cina berhasil mengklaim laut tersebut sebagai teritorialnya, mengambil Kepulauan Natuna tinggal selangkah lagi.

Terkait respons Menteri Luar Negeri Retno Marsudi terhadap pernyataan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Yusril mengatakan, respons Retno adalah sikap yang kurang bijak. “Jubir Kemlu china itu adalah pejabat eselon II yg tdk bisa dijadikan pegangan. Statemen Jubir Deplu itu setiap saat bisa dibantah atau ‘diluruskan’ oleh dirjen dan Menlu China. Coba tanya Bu Retno, apa pernah Menlu China atau Presiden China membantah klaim mereka atas Natuna?” tutur Yusril.

Ia juga kemudian memberikan contoh kasus Pulau Sipadan dan Ligitan yang akhirnya dikuasasi Malaysia. “Sipadan Ligitan berdasar putusan ICJ punya Malaysia. Tahukah Anda, ini ada implikasinya terhadap laut teritorial kita?” katanya.

Bahkan, kemudian, Yusril memberikan tamsil. “Ibaratnya begini. Anda punya rumah yg terletak di atas sebidang tanah. Tanahnya saya klaim punya saya, rumahnya tdk,” ujarnya.

Yusril mengakui, dirinya bukan ahli hukum internasional. “Tapi, secara common sense, mengakui Kep. Natuna, tentu juga batas lautnya,” katanya. Sampai hari ini, tambahnya, batas laut itu belum dirundingkan kedua pihak. [Djun]

Komentar Anda