Home BUDAYA MATDON: Kesenian Tak Perlu Dikongreskan Lagi

MATDON: Kesenian Tak Perlu Dikongreskan Lagi

0
SHARE
POROSNEWS – Direktorat Kesenian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelenggarakan Kongres Kesenian Indonesia III. Kongres berlangsung di Bandung, pada 1-5 Desember 2015 di sebuah Hotel mewah yaitu Panghegar. Tema Kongres Kesenian Indonesia III  “Kesenian dan Negara dalam Arus Perubahan”.
Dari program ada empat subtema yang akan dibawa ke dalam forum Kongres Kesenian Indonesia III. Subtema pertama adalah Politik Kesenian dalam Perspektif Negara, subtema kedua yaitu Kesenian, Negara, dan Tantangan di Tingkat Global, subtema ketiga adalah Pendidikan Seni, Media, dan Kreativitas, dan subtema keempat adalah Seni dalam Pusaran Kompleksitas Kekinian. Tema dan empat subtema tersebut merupakan hasil rumusan dari mufakat pertemuan 50 seniman dan aktivis kesenian dari seluruh Indonesia di Bandung, pada 10-12 Desember 2014 lalu.
Kongres Kesenian Indonesia III  diikuti pelaku seni, penari/koreografer, sastrawan, musisi, teaterwan, perupa, sineas dari seluruh Indonesia. Selain itu akan hadir juga pihak-pihak dan institusi yang terlibat langsung dengan dinamika kesenian dan berkesenian, seperti budayawan, kritikus, kurator, akademisi seni, komunitas seni, pengelola venue seni, hingga mereka yang berhubungan dengan berbagai kebijakan penyelenggara di bidang kesenian, dinas-dinas tingkat provinsi, serta anggota DPRD Provinsi dan DPR Pusat.
Direktur Kesenian Kemendikbud Endang Caturwati mengatakan, Direktorat Kesenian memiliki berbagai program yang mendukung perkembangan dan pelestarian seni di Indonesia, termasuk seni yang terancam punah di daerah-daerah. Karena itu dipandang perlu untuk mengundang perwakilan dari daerah seperti dinas-dinas dan DPRD Provinsi.
“Kami bantu dengan revitalisasi kalau pemerintah daerah merasa perlu melestarikan atau menghidupkan suatu kesenian”, ujar Endang saat jumpa pers di Kantor Kemendikbud, Jakarta, (3/11/2015).
Kritikus seni senior yang juga seorang  penari, Edi Sedyawati  mengatakan, Kongres Kesenian Indonesia kali ini mengangkat tema tentang negara karena kesenian juga berkaitan dengan kehidupan bernegara, dan harus ada peranan negara dalam membangun kesenian di Indonesia. “Selain itu kritik seni juga perlu dihidupkan supaya khalayak umum mendengar dan bisa mengerti seni”, katanya.
Atas dasar diatas ada perbedaan pandangan yang sangat mencolok dimana salah seorang peserta Kongres Kesenian Indonesia yang juga penyair asal Bandung  Matdon malah mengirimkan rilis pada redaksi (1/12) yang isinya mempertanyakan  Kongres Kesenian indonesia (KKI II) yang berlangsung di bandung 1 – 5 Desember 2015 tersebut.
Sebenarnya tidak penting-penting amat Kongres Kesenian indonesia (KKI II), karena;

1. Menghambur-hamburkan uang sebesar Rp8 miliar hanya untuk ngobrol yang rumusanannya belum jelas.
Sebaiknya uang sebesar itu dimanfaatkan untuk kegiatan kesenian yang nyata bukan ngobrol. Misalnya diberikan pada aktivis kesenian dan atau komunitas kesenian untuk berkegiatan. Jika kemudian harus laporan keuangan ya itu sangat wajar sebagai sebuah pertanngungjawaban.

 

Tapi jangan sampai uang itu jatuh pada seniman yang tidak jelas, dan kegiatannya yang tidak jelas juga.

Atau digunakan pada hal-hal yang penting bagi rakyat indonesia.

2. Kalau mau memperhatiakn kesenian tidak dalam bentuk kongres tapi dalam bentuk yang saya sebutkan tadi. Karena pamerintah itu pesimis sedangkan kesenian sangat optimis. Perhatian pemerintah bukan pada kongres.
Padahal, kesenian lah salah satu yang sudah berjasa pada pemerintah.

3. Maka untuk itu, saya secara pribadi merekomendasikan agar kongres kesenian ini cukup sampai disini, ini adalah harus menjadi kongres kesenian yang terakhir dan tidak ada lagi kongres-kongres kesenian.

Matdon /penyair/peserta kongres

(porosnews/JUD)

 

Komentar Anda