Home Nasional Metropolitan IndoStrategi: Lima Cagub Alternatif di Pilkada Jakarta

IndoStrategi: Lima Cagub Alternatif di Pilkada Jakarta

0
SHARE
Direktur Eksekutif IndoStrategi Andar Nubowo (Foto/Rmol.co)

POROS – Pemikir politik IndoStrategi Andar Nubowo menilai semua nama yang muncul dan mendeklarasikan diri dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) Provinsi DKI Jakarta belum memiliki kemampuan dalam menata dan mengelola negara.

Pasca mundurnya Ridwan Kamil dari peta politik Pilkada Jakarta dan belum adanya kepastian dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) apakah akan mengusung Djarot Saiful Hidayat atau Tri Rismaharini, hingga kini belum ada tokoh yang bisa mengungguli petahana, khususnya dalam kemampuan menata dan memimpin wilayah.

“Semua calon yang muncul selain petahana belum memiliki pengalaman memimpin daerah,” ujar Andar dalam keterangan persnya di Jakarta, Rabu
(23/3/2016).

Sebut saja beberapa nama yang mencuat dalam pilkada DKI Jakarta, Yusril Ihza Mahendra (YIM) yang merupakan Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), Adhyaksa Dault (Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono), pengusaha terkemuka Sandiaga Salahuddin Uno.

Belakangan nama Djarot Saiful Hidayat yang kini menjabat sebagai wakil Gubernur DKI Jakarta juga muncul ke permukaan. Namun demikian hingga kini belum ada
kepastian apakah Djarot akan maju dalam pilkada DKI Jakarta.

Sedangkan, Abraham Lunggana atau Haji Lulung dikenal publik sebagai Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta. Meski duduk sebagai salah satu legislator di Kebon Sirih, namun Haji Lulung juga belum memiliki pengalamanan dalam memimpin daerah.

Hal yang sama juga berlaku pada musisi Ahmad Dhani. Namanya sempat muncul dalam bursa cagub DKI Jakarta yang diusung dari Partai Kebangkitan Bangsa. Dhani dikenal sebagai musisi terkemuka, namun lagi-lagi ia belum punya rekam jejak atau pengalaman dalam menata dan memimpin daerah.

Andar yang juga dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta melanjutkan, selain bekal pengalaman dalam memimpin dan menata daerah, syarat yang harus dimiliki bagi calon Gubernur DKI Jakarta adalah merawat dan menjaga kebhinekaan.

Mengapa demikian? Sebagai ibukota Indonesia, hampir bisa dipastikan semua etnis, agama, dan strata sosial ada di Jakarta. Menurutnya, Jakarta adalah kota heterogen dan kompleks, maka diperlukan pemimpin yang bisa menjaga dan merawat kebhinekaan.

“Sebab, Jakarta bukan hanya dipandang sebagai salah satu provinsi saja, melainkan Jakarta adalah ibukota Indonesia, karena itu posisi Jakarta begitu sentral dan strategis. Berkaca dari kenyataan itulah maka diperlukan calon gubernur alternatif di DKI Jakarta,” jelasnya.

Figur tersebut, menurut Andar, minimal harus memenuhi dua syarat yaitu kompeten dalam menata dan memimpin daerah serta mampu merawat kemajemukan
di Jakarta.

Beberapa figur yang dianggap mumpuni dan kompeten sebagai calon gubernur DKI Jakarta diantaranya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Nurdin
Abdullah Bupati Banteng Provinsi Sulawesi Selatan, Bupati Bojonegoro-Jawa Timur Suyoto, Bupati Batang-Jawa Tengah Yoyok Riyo Sudibyo dan Bupati
Banyuwangi-Jawa Timur, Abdullah Azwar Anas.

“Karena itulah Jakarta butuh Cagub alternatif. Proses pencarian (head hunter) kepada calon lain yang dianggap layak dan kompeten harus
dilakukan,” terang Andar.

Komentar Anda