Home Nasional Hukum Puisiku…Puisi ‘Otak Hati’….

Puisiku…Puisi ‘Otak Hati’….

0
SHARE

Oleh Effendi Saman

1995 aku rasa pejuang dikala itu pasti ingat, bagaimana mungkin lupa, Aku, Bhitor Suryadi dan Kacik (alm) dengan gagah bro pimpin aksi masal ribuan orang, semua lapisan masyarakat, di situ pun ada Rendra, Semsar keduanya sudah almarhum. 7 hari bro berurut turut aksi pinta kebebasan dan Ham, yang kami demo Gedung kantor nya Harmoko Menteri Penerangan, aku lupa nama jalan dan rt-rw berapa.

Cakap kami Desak sana sini, sini sana dikepung tentara cuma gara-gara DETIK, TEMPO, EDITOR di Bredel….cerita ini tak lagi menjadi inspirasi, tak banyak pejuang yang tersisa.

Dulu itu banyak kali kawanku wartawan berjuang bersama, mungkin sudah lelah, sama seperti godaan saraf otaku.

Semua itu dimulai dari berbagai pelanggaran HAM, Kebebasan berpendapat. Kebebadan berserikat dan pembatasan atas hak-hak informasi, kemudian memuncak sejak diterbitkanya Surat Izin Usaha Penerbitan Perusaan Pers (SIUPP) di tahun 1994 dan terakumulsi pada pemberedelan Pers.

Aku masih ingat bro pasukan keamanan sudah siaga di dalam Monas, ribuan masa yang ku pimpin sudah mulai memanas meneriakan perlawanan dan saling dorong antara pendemo dengan pasukan.

Aku sudah bikin kesepakatan dengan komandan pasukan agar sama-sama mundur, tapi celaka bro tiba-tiba kami diserbu mundur paksa dan sebagian besar bertahan terpontang panting menjerit dan berteriak mundur dan mundur. Aku diseret dan ditahan bro bersama Rendra dan kawan-kawan lainya, sekurangkurangnya 150 orang yang berhasil ditangkap, dipukuki dan ditahan…bahkan yang geger otak pun terselamatkan kemudian oleh kawan-kawan yang berada diluar dan dilarikan kerumah sakit bersama ratusan korban lainya yang luka parah.

Bro bro bro dimana kau semua waktu itu dalam mimpi mu, coba bayangkan 500 korban luka berat tak kurang tak lebih, penting tak penting kami diburu sampai kerumah sakit pun dipreteli baju kunyal, dipukuli, diinjak. Ditendang, seperi anjing bro.

Sahabatku kacik luka parah bro, aku masih pegang toa bro gantian sama Bhitor… LAWAN…LAWAN…LAWAN kepalaku bocor bro.

Bro kau dimana..? Kisah sedih ini tak ingin ku ulang…tak ingin lagi, entah apa dan siapa yang bisa memaksa….

Mana mungkin aku lupa, sahabatku Paskah Irianto pasti ingat ketika kita pimpin rapat bersama di YLBHI siapkan aksi itu. Kawan lain jangan marah namamu tak kusebut ya, kerna kita semua banyak, kita semua bersama bersatu, kita semua bersaudara.

Tapi aku juga ingat sahabatku Ayu Utami (novelis yang ok itu) selalu bersamaku juga waktu itu ikut bersama melawan dengan yang lainya menolak belenggu kebebasan ham-pers, apapun namanya aku benci belenggu itu, belenggu itu, aku bosan dan muak kemarahan hatiku, aku benci diriku kok ini terulang kembali.

Kok bisa bro, kok tega bro…

Dimana bro kau saat itu…..aku juga lupa, mungkin pernah melihatmu….

Katanya kita cinta rakyat…katanya tak ada yang digusur, katanya anti kekerasaan…dikasih damai sudahlah, mana ada yang bisa tandingi 411-212.

Kitakan cuma berdoa untuk kemaslahatan, pikiran mana yang dilebihkan, rumput pun tak robek. Mana aku tau ada persekutuan, pemufakatan jahat. Yang kulihat, yang kulihat cuma sendal robek, kali kumal. Entahlah dengan mereka. Merekalah yang buat aturan boleh sana boleh sini-mereka jua yang bisa bikin dalih dan benar.

Mereka itu mungkin yang mengusir nelayan, yang menggusur rumah petahu jadi rusunawa. Bro bro bro parit sobek pun kau gusur, apalagi yang tak kau sukai. Bro bro gagal di darat mendarat dilaut…perahuku masih kau…pukat harimau ku masih sampan…bidikku lancang kuning.

Aku tak bisa tidur bro, padahal utangku tak banyak, aku cuma, kami, kita hanya sehelai punya mimpi, itupun kau renggut, hingga kami tak lelap…takut bro…takut broooo-takut mimpiku terbangun lagi…..Bangun…bangun hey kawan jangan terlelap trus,

Latihan lagi kawan, latihan gerak badan agar tetap sehat, katakan sekali lagi…LAWAN…..LAWAN LAWAN…LAWAN….LAWAN….bunyinya sudah tak nyaring-parau dan sengau, serak kering.

Angkat tangan kirimu, kepalkan tiga kali…aku juga sudah malas kawan, tapi ingatkan kawan 3 korban pejuang makasar tolak helem, dulu juga pernah tak sedikit aktivis yang mati…petani yang dibunuh….buruh semacam Titi Sugiarti…Marsinah, para suhada.

Sudahlah…aku bilang sudahlah…rumah sakit tak menjawabnya….tak ada yang rela, kekuasaan pun takan digulingkan, ini hanya untuk cinta bro, untuk cinta kedamaian dan kemerdekaan….untuk cinta tanah airku Indonesia.

Itu bukan puisi bro….puisiku kebebasan…puisiku tak ingin ada yang terluka….puisiku hanya untuk ‘otak hati’.

Komentar Anda

LEAVE A REPLY