Home Nasional Hukum Neokolonialisme

Neokolonialisme

0
SHARE
OLEH Nugroho Prasetyo

Van Gelderen menulis dalam buku berjudul “Voorlezingen Over Tropisch-Koloniale Staathuishoudkunde” (1927) yang memaparkan panjang-lebar bagaimana cara kerja kapital asing menekan supaya tidak terjadi proses pembentukan modal domestik di kalangan Bumiputera, sehingga tidak muncul kelas majikan dan saudagar di kalangan Bumiputera. Soekarno menyebut proses itu sebagai tendensi untuk “meng-kromo-kan” dan “me-marhaen-kan” secara abadi kaum Bumiputera, agar bangsanya tetap menjadi “een loontrekker onder de naties” (budaknya bangsa-bangsa lain).

Kalau ada Presiden yang mengagung-agungkan investasi asing sebagai panglima, justru saya berpendapat sebaliknya. Investasi asing yang masuk tanpa kontrol ketat negara akan berakibat buruk. Sebab, selain tidak memberi value signifikan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, kehadiran investasi asing tidak selalu mendatangkan manfaat bagi pembangunan ekonomi nasional.

Alih-alih melengkapi kapital lokal atau kapital swasta domestik, investasi asing justru malah menyingkirkan (crowds-out) kapital lokal dan inisiatif publik. Investasi asing tidak meningkatkan daya saing industri ekspor dan merangsang ekonomi lokal melalui pasar kedua (sektor keuangan) dan ketiga (sektor jasa/pelayanan). Investasi asing juga tidak meningkatkan pajak pendapatan dan menambah pendapatan lokal/nasional, serta memperkuat nilai mata uang lokal untuk pembiayaan impor. Investasi asing hanya akan membahayakan keberadaan dan integritas sistem keuangan domestik yang kemudiam memicu kebangkrutan keuangan, sebagaimana yang menjadi pengalaman Argentina antara periode 1976-2001. Pembangunan yang terlalu dikawal oleh investasi asing hanya menyebabkan terjadinya hutang baru untuk pembiayaan jangka pendek. Brazil pernah mengalaminya.

Studi panjang dari sosiolog dan pemerhati ekonomi-politik Amerika Latin terkemuka, James Petras, terhadap manfaat investasi asing di negara-negara Amerika Latin, menunjukkan hal sebaliknya. Dalam studinya berjudul “Six Myths About the Benefits of Foreign Investment The Pretensions of Neoliberalism” (2006), Petras merangkum temuan-temuannya itu. Bahkan, riset yang dilakukan oleh Tanushree Mazumdar mengenai dampak investasi asing di India, menunjukkan bahwa tidak ada korelasi antara investasi asing dan pertumbuhan ekonomi.

Singkatnya, kehadiran investasi asing lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya. Beberapa contoh di bawah mengkonfirmasi kebenaran tesis tersebut, yaitu :

(1). Pada Mei 2005, terjadi penggelapan pajak sejumlah milyaran dolar yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan migas asing yang berinvestasi di Venezuela.

(2). Seluruh perusahaan minyak dan gas Rusia telah dikuasai oleh sebuah kelas baru oligarki, yang berasosiasi dengan para investor asing untuk menghindari pajak, sebagaimana terbukti dalam pengadilan dua oligarki, Platon Lebedev dan Mikhail Khodorkovsky. Keduanya menghindari membayar pajak sebesar $US 29 milyar, dengan difasilitasi oleh bank-bank Amerika Serikat dan Eropa.

(3). Dana pensiun yang digunakan untuk membiayai MNCs lokal di Meksiko menunjukkan, bahwa Banamex, bank swasta kedua terbesar di Meksiko (pada 2001 merger dengan Citigroup Inc.), memperoleh jaminan pinjaman sebesar 28,9 milyar pesos ($US 2,6 milyar), American Movil (Telcel) 13 milyar pesos ($US 1,2 milyar), Ford Motor (untuk pinjaman jangka panjang sebesar 9,556 milyar pesos dan untuk pinjaman jangka pendek sebesar 1 milyar pesos), General Motors (sektor keuangan) menerima sebesar 6,555 milyar pesos.

Tahun 1970-an, Mafia Berkeley dan rezim Orde Baru membukakan pintu selebar-lebarnya bagi investasi asing yang masuk, sembari menggadaikan rakyatnya dengan upah buruh murah. Sementara itu, pemimpin negeri Tirai Bambu, seperti Chou En Lai dan Deng Xiaoping, masih memakai baju katun rombengan sebagaimana umumnya rakyat Tiongkok zaman itu. Park Chung Hee, pemimpin Korea Selatan, masih kudisan, seperti juga rakyatnya masa itu. Sedangkan Paman Ho masih bergerilya di hutan-hutan Vietnam. Tapi, lihatlah apa yang terjadi kemudian. Tiongkok, Korea Selatan dan Vietnam yang baru bicara investasi asing pada dekade 1990-an, sekarang menjelma jadi kekuatan ekonomi yang patut diperhitungkan.

Kehadiran investasi asing merupakan sebuah keputusan politik dari lapis atas elit pemerintahan. Menurut saya, membuka keran investasi asing lebar-lebar tanpa kontrol ketat negara sama halnya membiarkan masuknya neokolonialisme.

Komentar Anda

LEAVE A REPLY