Home Nasional Daerah Saldi Isra Adalah Bola Liarnya Presiden Jokowi

Saldi Isra Adalah Bola Liarnya Presiden Jokowi

0
SHARE

Saldi isra, adalah bola liarnya Presiden Jokowi. Minimal ada dua profesor hukum konstitusi bola liar. Yaitu prof maria farida, mantan asisten prof Hamid Attamimi, peletak ilmu peraturan perundang-undangan. Kedua, Saldi Isra.

Karenanya, maria adalah hakim yang paling menguasai gezets gebung. Dalam perjalanannya, maria ibarat puisi chairil Anwar, “binatang jalan dari kumpulannya terbuang”. Suatu keanehan, maria senantiasa paradoksal dengan putusan majelis mk. Ia selalu berada dalam posisi dissenting opinion (melawan putusan mayoritas). Padahal, yang profesor sungguhan adalah maria.

Maria menulis dua buku, “ilmu peraturan perundang-undangan” 1987, dan “ilmu peraturan perundang-undangan” 2007. Hanya beda edisi. Edisi Jogyakarta dan Edisi Jakarta.

Pada edisi Jakarta, ia menganalisis kesalahan-kesalahan hukum konstitusi, terutama produk reformasi. Saya berkesimpulan dari kasus MK, maria on the right track, maka ia senantiasa menjadi binatang jalang.

Saldi Isra segera menambah jumlah disenting opinion ini. Sekalipun Saldi adalah duet Refly Harun, ia tidak linier dengan Refly. Saldi memiliki karakter kuat seperti maria, baik ilmu maupun idealisasi ilmu. Maka Ia adalah binatang jalang yang belum dijinakkan. Maria dan Saldi akan memberi warna baru di MK, jauh lebih kuat daripada karakter rezim Jimly.

Rezim setelah Jimly sudah tak memiliki karakter akibat diisi orang parpol yang mencemarinya. Terbukti pula, orang orang parpol MK tersangkut korupsi, Akil Mochtar dan Patrialis Akbar berakhir di penjara, suatu yang tak pernah saya bayangkan ketika di Komisi III DPR. Bagaimana MK berubah menjadi pasar loak dengan jargon lego perkara seperti di MA.

Sudah benar MK tak boleh dimasuki parpol. MK sejak awal, dibuat untuk diduduki para icon hukum tata negara (HTN). Tak mungkin icon ini dimiliki oleh orang parpol karena paradok, antara lain Prof Mahfud MD.

Icon dibentuk dari pengabdian keilmuan sejak dari kampus hingga idealisasi pengabdian masyarakat. Saldi menurut saya adalah icon HTN dan memiliki idealisasi tujuan MK. Yang terpenting dari tugas MK adalah menyelesaikan konflik triumvirat Montesqieu: Eksekutif – Yudikatif – Legislatif pada level konstitusi terhadap UU. Krusialnya, konstitusinya juga paradoksal, lahir sebagai rechtsstaat, direform menjadi the rule of law.

Akibatnya HTN berpisah dengan HAN (Hukum Administrasi Negara) yang menjadi domain PTUN di Mahkamah Agung. Tak ada PTUN di common law. Semua di pengadilan sipil. PTUN merupakan instrumen civil law, berasal dari Napoleon Bonaparte, dari sejarah hukum Perancis. Bukan dari Anglo Saxon (Inggris dan Amerika).

HTN dan HAN berpisah di UUD 45 asl. HTN di pasal 4, HAN di pasal 5. Tapi sampai kini batas kapan presiden sebagai kepala negara dan kapan presiden sebagai kepala pemerintahan banyak yang tak jelas. Dengan mudah putusan majelis PTUN dianulir oleh PT TUN dengan “bukan domain PTUN”.

Tujuan dibentuknya PTUN sangat sederhana. Hanya untuk menyatakan bahwa kekuasaan presiden tidak absolut. Presiden bisa dituntut hukum, yaitu di PTUN.

Memangnya kenapa jika presiden absolut? Jika presiden absolut, tak boleh memakai nama negara hukum (rechtsstaat). Rechtsstaat adalah negara hukum ala Eropa Continental (Belanda, Perancis, Jerman). Sedangkan nama negara hukum Anglo Saxon adalah The Rule of Law.

Kini rechtsstaat dan the rule of law tak jelas pada UUD 2002. Tapi tak ada yang dinyatakan dicangkok. Semua orang bicaranya The Rule of Law. Tapi punya PTUN, dan tak punya peradilan sipil.

Kalau bir, namanya bir peltok. Jargon Orang Jawa lebih pas: gado-gado. Implikasinya luas yang harus diselesaikan oleh Maria dan Saldi: memprovokasi DPR untuk mengubah hukum yang kadung gado-gado dengan tema reform. Just hope bro.| Djoko Edhi S Abdurrahman

PRS

Komentar Anda

LEAVE A REPLY