Home EKONOMI Bisnis Garam

Garam

0

Tulisan Mak-Nyus tentang Garam dari Nurhaji Madjid.

Garam di laut jauh dari sungai itu kadar garamnya hampir seluruh dunia sama. Kecuali laut mati.

Persoalan pengolahan garam banyak metode. Selama ini tak berkembang karena masih berpikir pola tradisional. Sehingga terpatok pada kondisi kontur tanah yang cocok untuk dibuat lantai garam.

Inovasi memompa air laut lalu menguapkannya dibeberapa negara sudah dilakukan atau lantai garam dilapisi dengan plastik geomembran agar bisa jadi pengolagan garam.

Pt garam sebagai BUMN mestinya melakukan inovasi ini dan mendorong di tingkat pesisir pantai.

Kebutuhan garam itu berbagai macam mulai :

1. Konsumsi manusia dimana garam dibutuhkan walaupun sedikit bagi tubuh.

2. Ternak ruminansa butuh garam untuk aktivitas bakteri rumen dalam tubuhnya yang mana bakteri rumen menentukan hidup mati dan sehatnya hewan ruminansa (sapi,kambing,domba,kerbau).

3. Garam untuk industri makanan sebagai perasa atau pengawet, industri kimia dimana dipisah lagi kandungan garam untuk industri sabun,clorin (pembunuh bakteri di air), gatam untuk infustri tambang dan logam untuk pencampuran logam.

Begitu pentingnya garam bagi industri sehingga garam konsumsi kadang tak ditemukan. Garam industri dan garam konsumsi sebenarnya satu sumber. Pembedanya adalah garam industri diolah lagi misalkan kandungan NaCl pada garam di pisah atau diionkan seperti pocarisweet jika dilihat labelnya itu ion garam. Impus itu 0.9 % garam, itu jika bixara garam murni.

Dalam penambangan garam tidak murni didapat NaCl karena dalam gatam bercampur magnesium (Mg), besi/ferum (Fe) dan mineraln logam lain tergantung alam dan pencemaran.

Garam murni NaCl itulah yang banyak dipakai industri melalui pengolagan garam kasar (yang dijual di jeneponto) yang harga bisa 500 sd 1.000/kg bisa menjadi puluhan ribu bahkan ratusan ribu perkg. Apalagi sudah dipisah misalkan murni NaCl, bisa mendekati harga 1 juta perkg dari hitungan ekonomi.

Australia saja bikin d1 dan d2 garam di ntt (datanya coba search di paman google). Metode diajarkan itu adalah contoh jika negara mau kembangkan disemua pesisir indonesia.

Belum lagi air tua (bahan air laut yang siap diuapkan untuk jadi garam) sudah pekat air lautnya. Itu obat yang sangat manjur (search fungsi air tua garam di paman google).

Air tua juga berfungsi sebagai pupuk. Limbah pengolahan garam utk dimurnikan juga pupuk dan pakan ternak karna banyak mineral logam yang terbuang yang dalam pertanian disebut sebagai pupuk mikro.

Jika indonesia kreatif maka persoalan iklim tak akan jadi soal, apalagi mengganggu karena sistim pipa dan pengatapan menggunakan kaca atau plastik bisa dilakukan sisa melihat kondisi alam misalkan penguapan air agar terjadi garam ada dua faktor yaitu panas dan angin yang menguapkan air.

Tapi daerah pulau bisa di modifikasi kecil khususnya daerah yang tidak ada air tawar yang nantinya bisa menghasilkan juga air tawar karna penguapan garam itu yang menguap air tawar.

Garam menjadi alat vital nomor dua bagi industri tertentu tapi menjadi dasar atau utama bagi industri tertentu misalkan industri farmasi, sabun bahan dasarnya NaOH yang mana Na nya dari garam yaitu NaCl yang dipisah. Jadi industri sabun bukan mengolah garam langsung tapi ada infustri yang mengolahnya dimana dalam unsur utama penyusun garam menjadi kebutuhan industri yang sehari hari digunakan yaitu Na untuk pembuatan NaOH dan Cl untuk bahan pembuatan clorin (kaporit) untu pembasmi hama pada air PDAM.

Belum lagi garam yang dimurnikan lalu di ambil 0,9% untuk di buat impus yang merupakan kebutuhan vital rumah sakit. Selain itu industri pengolahan logam butuh garam untuk pencampuran logam dan ada untuk pemurnian logam.

Lain lagi industri makanan yang membutuhkan garam untuk perasa atau pengawet makanan. Industri pakan ternak butuh juga garam untuk kandungan pencampuran.

Jadi garam untuk di konsumsi manusia sedikit sekali perorang tapi 200 juta penduduk indonesia kan bisa dihitung berapa miligram perhari lalu di konversi ke kilogram. Akan tetapi diingat makanan dimasak selalu lebih dari jumlah manusia jadi hitungan jumlah miligram per 200 juta bisa jadi dasar.

Inovasi pengolahan garam menjadi penting karna kendala lahan pesisir sebagian tak layak akibat hunian, mangrove, buangan limbah cair rumah kepantai, sehingga model pipanisasi air laut yang pengambilannnya agak jauh dari pesisir bisa jadi solusi untuk daerah yang disebut diatas.

Untuk daerah pesisir yang dimungkian dengan model pengatapan buka tutup sehingga jika air hujan datang maka garam tidak terkena. Namun lantainya tetap pakai plastik geomembran atau sejenisnya agar rembesan air hujan tidak larut ke garam yang sementara diolah.

Pulau pulau kecil juga potensi buat garam sehingga bisa menghasilakn dan menjaga pulau pulau dari kebersihan dan kekosongan pulau sehingga ekonomi di pulau bisa di dongkrak melalui wisata, pengolahan garam dan ketersedian sarana air karena adanya industri garam sehingga nelayan bisa memanfaatkan pulau menjadi tempat transit sekaligus mengolah garam untuk pendapatan tambahan mereka. Jadi pulang bisa bawa ikan dan bawa garam.

Itu solusi untuk mengolah garam jauh dari pantai. Kan portugis sudah lakukan melalui kanalisasi atau pipa air laut kedaratan jauh dari pantai.

Solusi kedua bentuk smk atau d2 garam yang nantinya langsung praktek sekaligus produksi. Australia saja buat d2 garam di ntt dan irian kerjasama poltek ujungpandang kalau tdk salah.

Saya kira Bu Susi mau lakukan itu. Masalahnya dia tak sempat pikirkan garam.

Penulis, Nurhaji seorang ahli Bio-Kimia.

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.