Home Nasional Hankam Yonkav 7/Sersus, Tetap Bertahan Dengan Keterbatasannya

Yonkav 7/Sersus, Tetap Bertahan Dengan Keterbatasannya

0
SHARE

POROSNEWS – Modernisasi alutsista sebuah negara mutlak diperlukan, hal ini dilakukan mengikuti perkembangan jaman. Alangkah lucunya sebuah negara jika meskipun memiliki alutsista secara kuantitas banyak, namun sudah ketinggalan jaman. Sebaai contoh negara Korea Utara, kita tahu negeri tersebut memiliki ribuan tank tempur utama namun buatan Perang Dunia II yaitu T-34/85. Tidak akan sebanding melawan MBT K-2 buatan tetangganya Korea Selatan yang lebih modern. Namun, lebih tidak lucu lagi jika dalam kuantitasnya minim, lalu ketinggalan jaman.

Indonesia sendiri dimulai era Presiden Susilo B. Yudhoyono melakukan banyak modernisasi alutsistanya. Untuk matra darat, tank-tank tempur utama Leopard berdatangan. Terakhir kedatangan M-109 Paladin. Matra laut, korvet SIGMA mulai mengisi deretan baris alutsista modern, termasuk didalamnya penambahan kapal LPD dan kapal selam. Untuk matra udara, skuadron Sukhoi kita dilengkapi dan diberi senjatanya. Terakhir adalah pembelian Su-35. Semua modernisasi tersebut bertujuan agar bisa menjaga dan mengawal wilayah kedaulatan udara, laut dan darat Indonesia dari serangan musuh.

Bagaimana dengan pengawalan ibukota negara? Seperti diketahui, ada beberapa batalyon yang menjaga keamanan ibukota. Salah satunya adalah Yonkav 7/Panser Khusus.

Sejarah Yonkav 7/Sersus

Pembentukan Yonkav 7/Sersus berdasarkan SK Menpangad No. Skep/911/VII/1962, tanggal 9 Juli 1962. Bertempat di lapangan Tegal Lega, Bandung tanggal 23 Juli 1962, tepat pukul 10:00 WIB diresmikan Batalyon Kavaleri 7 Panser/Caduad oleh Menpangad Mayjen TNI Achmad Yani.

Mayor Kav.Gustav Adolf. Manulang diangkat sebagai komandan pertama Yonkav 7 Panser/Caduad, dimana penyerahan tongkat kepemimpinan diserahkan langsung oleh Menpangad Mayjen TNI Achmad Yani.

Bermodalkan 50 unit panser buatan Inggris macam Ferret Scout Car, Saladin dan Saracen, Batalyon baru ini menumpang bermarkas di Rinkavnis (Resimen Induk Kavaleri Mekanis) di Purbaya, Padalarang, Bandung. Sebenarnya batalyon ini merupakan hasil peleburan Batalyon Kridha Yudha Turangga I dan Batalyon Kridha Yudha Turangga II.

Proses peleburan ini baru dapat dilaksanakan setelah selesainya Operasi Pagar Betis untuk menumpas Pemberontakan DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Barat. Berdasarkan Surat Keputusan Pangab Nomor Skep/1044/ IX/1963 Yonkav 7 Panser/Caduad secara resmi menjadi batalyon organik Kodam V/Jaya.

Awal perpindahan dari Padalarang ke DKI Jakarta, empat unit kompi dari Yonkav 7/Sersus bermarkas terpisah-pisah. Kompi 1 bermarkas di Palmerian, Kompi 2 di Bandengan Utara, Kompi 3 di Kramat, Kompi 4 di Tanah Abang dan Theresia (belakang Sarinah) dan Kompi Markas di lapangan Merdeka Barat. Kemudian markas Kompi Markas dipindahkan ke Theresia karena lokasinya dibangun Monumen Nasional (Monas) oleh pemerintah saat itu. Di tahun 1972, seluruh kompi Yonkav 7/Sersus dipindahkan ke Cijantung, DKI Jakarta hingga sekarang.

Lambang batalyon adalah “Kepala Orang Utan” atau MAWAS dengan sesanti “PRAGOSA SATYA” yang artinya mempunyai kesetiaan yang tinggi, bergambar diatas dasar warna kuning dan merah berbentuk segitiga melambangkan “ Tri Daya Sakti ” yaitu daya gerak, daya tembak dan daya kejut.

CEPAT TEPAT TUNTAS, prajurit YONKAV 7 SERSUS yang harus terampil dan mampu bergerak CEPAT, bertindak TEPAT , serta menyelesaikan tugasnya dengan TUNTAS.

Alutsista Yonkav 7

Gambaran alutsista dari batalyon tersebut saat ini, masih dilengkapi panser V-150 buatan Cadillac Cage, Amerika. Panser tersebut dibeli tahun 1975. Saat itu, para petinggi ABRI (sekarang TNI) berpikiran strategis. Ibukota sebagai Center of Gravity Indonesia, harus dijaga oleh kesatuan dengan persenjataan yang mumpuni. Bisa dikatakan kala itu, panser V-150 dianggap mumpuni menjaga pengamanan ibukota.

Sayangnya saat ini, batalyon kavaleri tersebut sayangnya masih bertumpu kepada panser yang sudah bisa dikatakan uzur tersebut. Modernisasi masih merupakan wacana yang entah kapan masuk ke batalyon tersebut.

Penggunaan panser tersebut sudah bisa dikatakan tidak cocok lagi dengan kondisi geografis kota Jakarta. Terlebih lagi saat ini, gedung-gedung tinggi mulai banyak di ibukota negara tersebut. Diperlukan alutsista yang sesuai dengan keadaan saat ini.

Letkol (kav) Aristoteles Lawitang, Danyonkav 7/Sersus mengungkapkan, “Spesifikasi Ranpur untuk Yonkav 7 adalah Ranpur yang beroda ban, lincah dengan kondisi ruas jalan di Jakarta (dengan dimensi yang lebarnya tidak lebih dari 2,5 dan panjang tidak lebih dari 6 m). Untuk mendukung kelincahan tersebut faktor bobot tidak melebihi 15 Ton. Selain itu, kemampuan mengarung di batang-batang sungai Kota Jakarta tanpa perlu menyiapkan secara khusus.

Terkait dengan persenjataan yang memiliki daya jangkau lebih dari 2 Km untuk sasaran Tank, perkubuan dan sasaran dibalik gedung. ATGM adalah senjata yang dapat memenuhi kriteria tersebut. Dengan sudut tembak elevasi sampai 90 derajat guided misille dapat mencapai gedung-gedung dan jalan-jalan tol yang merupakan ketinggian-ketinggian buatan manusia. Ketepatan dalam sekali tembak (one shoot one kill) adalah prasyarat utama senjata yang akan digunakan oleh Ranpur ini. Selain itu, alat komunikasi dan sistem pertempuran antar Ranpur dan Satuan adalah syarat yang tidak bisa dialpakan dari Ranpur tersebut.

Dari spesifikasi tersebut, maka spesifikasi tugas Ranpur Yonkav 7 adalah tugas Pengaman dan penghancur Tank/Ranpur strategis musuh. Ranpur/Tank yang menjadi sasaran adalah unsur Komando ataupun lawan Ranpur pengintai. Pada kondisi tertentu dapat digunakan untuk menghancurkan sasaran udara yang masuk dalam jangkauan tembaknya”.

Letkol Aristoteles juga mengungkapkan, dalam 1 batalyon diperlukan 2 kompi dengan jumlah Ranpur 13 unit/Kompi Ranpur dengan spesifikasi tersebut diatas. Dalam hubungan Brigkav, tiap 1 Batalyon Kavaleri Penggempur didukung 1 Kompi Kavaleri Pengaman dengan spesifikasi tugas tersebut diatas.

Dia juga mengharapkan satuan kavaleri yang berada di CoG Indonesia,  seharusnya dibekali fungsi yang sesuai dan Alutsista terbaik dari Satuan Kavaleri  yang ada di TNI AD. Jika masih bertumpu kepada panser kuno V-150, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika ibukota negara ini mendapat serangan dari pihak musuh. Mungkin tidak sampai sehari, akan langsung hancur panser-panser dari batalyon tersebut.

Informasi yang didapat, dari jumlah keseluruhan 54 panser di batalyon tersebut, 20 unit dalam keadaan rusak berat dan harus di disposal. 10 unit digunakan pasukan penjaga perdamaian asal Indonesia di Libanon. Sisanya? Entah masih bisa berfungsi atau tidak.

Semoga menjadi perhatian para petinggi di jajaran Angkatan Darat, dalam hal ini Pussenkav (pusat persenjataan kavaleri), agar bisa membenahi batalyon penjaga ibukota ini. Jangan hanya karena salah strategi, keamanan ibukota jadi taruhannya. (NOR)

 

Komentar Anda

LEAVE A REPLY