Home BUDAYA Pemasrahan Hadiah Sastera Rancage 2017

Pemasrahan Hadiah Sastera Rancage 2017

0
SHARE
Undangan Racage 2017
POROSNEWS – Yayasan Kebudayaan Rancagé  pimpinan sastrawan Indonesia Ajip Rosidi
akan menyerahkan hadiah Sastera Rancage 2017. Acara tahunan 

Pada awalnya (tahun 1989 -1993), hadiah sastera ini hanya mencakup sastra Sunda, namun kemudian penghargaan ini juga diberikan kepada dunia sastra Jawa (sejak 1994), sastra Bali (sejak 1998), dan sastra Lampung (sejak 2008).

Pada tahun 1990, Hadiah Sastera Rancage menjadi dua, yaitu untuk karya yang terbit berupa buku dan untuk jasa bagi mereka (perorangan atau lembaga) yang berjasa dalam pengembangan bahasa dan sastra daerahnya. Sejak tahun 1993, penghargaan ini juga dilengkapi dengan Hadiah Samsudi, yakni penghargaan khusus untuk penulis buku bacaan anak berbahasa Sunda.

“Tahun 2017 ini kami harus memberikan hadiah lebih banyak. Tahun 2016 Yayasan “Rancagé” memberikan dua hadiah untuk Sastera Sunda, dua untuk sastera Jawa, dua untuk sastera Bali, satu untuk sastera Lampung, dua untuk sastera Batak, satu untuk sastera Banjar, dan satu untuk Hadiah “Samsudi”, maka jumlah semuanya 11 hadiah,” kata Ayip Rosidi dalam SK Pemenang Rancage 2017.
Ajip Rosidi Budayawan Indonesia/ist

Menurutnya  tahun ini Yayasan “Rancagé” akan memberikan 11 hadiah dan satu penghargaan khusus untuk cerpen dalam bahasa Batak yang berjudul “Parlombu-lombu” (Si Gembala Sapi) karya Soekirman Ompu Abimanyu. Meskipun jumlah hadiahnya hanya kecil yaitu Rp. 5 juta buat setiap pemenang, namun buat Yayasan “Rancagé” terasa cukup berat. Karena itu pengurus Yayasan “Rancagé” mengambil keputusan untuk mulai tahun depan (Hadiah Sastera “Rancagé” 2018) tidak akan memberikan hadiah untuk jasa. Untuk setiap sastera dalam setiap bahasa Yayasan “Rancagé” hanya akan memberikan satu hadiah saja yaitu hadiah untuk karya.

Pada waktu pertama kali Hadiah Sastera “Rancagé” diberikan (tahun 1989) dan Yayasan “Rancagé” belum berdiri, Hadiah Sastera “Rancagé” hanya satu untuk karya, yaitu diberikan kepada Yus Rusyana atas buku kumpulan cerita pendeknya dalam bahasa Sunda yang berjudul Jajatén Ninggang Papastén.
Ketika itu hadiah masih ditangani oleh pribadi. Baru tahun berikutnya (1990) diberikan hadiah untuk jasa setelah ada kesanggupan Kang Adang (H.I. Martalogawa) menyediakan uang hadiahnya untuk setiap tahun. Yang pertama menerima Hadiah untuk jasa adalah Syarif Amin (1990) untuk sumbangannya yang besar terhadap perkembangan sastera Sunda. Setelah mendirikan Yayasan Kebudayaan “Rancagé” juga disediakan hadiah untuk sastera Jawa, Bali, Lampung dan Batak. Ada simpatisan yang secara iklas memberikan bantuan kepada yayasan “Rancagé”, tetapi sampai sekarang Yayasan Kebudayaan “Rancagé” belum mempunyai dana abadi untuk membiayai kegiatan-kegiatannya. Pemerintah RI hanya melihat yayasan “Rancagé” sebagai pemberi Hadiah maka tiap tahun menagih pajak yang harus kami bayar.
Kami percaya niscaya masih banyak orang, lembaga atau perusahaan yang mau melihat sastera dalam bahasa-bahasa daerah juga berkembang, dan bersedia memberikan bantuan, namun belum sempat melaksanakannya karena belum berhubungan dengan Yayasan Kebudayaan Rancagé.
Hadiah Sastera “Rancagé” 2017 untuk Sastera Sunda
Dalam tahun 2016 ada 40 judul karya sastera bahasa Sunda yang terbit baik karya baru maupun cetak ulang atau karya bersama.
Dan setelah dipisahkan dari karya yang tidak aakan dinilai (karya cetak ulang, karya bersama, terjemahan dan karya Ajip Rosidi) ada 23 judul buku karya sastera bahasa Sunda yang harus dinilai buat diberi Hadiah “Rancagé” 2017 yaitu Nyupang (Andang S. Argayuda), Bajigur kana Henpon (Wahyu Heriyadi), Ceu Nonon Putra Ua Banagara (HD Bastaman), Cindung Pangirut (Rd. H. Asep Hermawan Sanudin), Cinta Obat Nyamuk (Ade Fathu Rachim), Cipanon Lalakon (Jejen Jaelani War), Di antara Tilu Jaman (Aam Amilia), Harewos Dangiang (Maman, M.Pd.), Jeruk (Lugiena De), Saur Bapa Gubernur (H. Usep Romli HM), Katumbiri (Dodo Kartadibrata), Dina Kawih aya Tembang (Dian Hendrayana), Serat keur Emay (Dian Hendrayana), Urang Sunda Nandangan Panyakit Babilon (H. Usep Romli HM), Hompimpah (Hadi AKS), Jurig Jengkol (Yuyun Yulistiani), Monolog Ajal ( Asikin HIdayat), Mulung Bentang ( Dudung Ridwan), Lengkah (Ari Andriansyah), Ti Panti Asuhan nepi ka Rohangan Sidang (Itto Cs. Margawaluya), Imut anu Panungtung (Ahmad Bakri), dan Bulan kungsi Ngolembar (Tatang Sumarsono).
Aam Amilia /foto pikiran rakyat

Setelah dibaca dan dipertimbangkan dengan teliti ditetapkan tiga judul yang dinominasikan untuk mendapat Hadiah Rancagé 2017, yaitu (1) kumpulan sajak Lengkah kary a Ari Andriansyah, (2) kumpulan cerpen Jeruk karya Lugiena De dan (3) kumpulan cerpen Di antara Tilu Jaman karya Aam Amilia.

Kumpulan sajak Léngkah memuat 90 judul sajak yang dibagi menjadi dua bagian yaitu “Girimis” (Gerimis) dan “Reumis” (Embun); menunjukkan bahwa meskipun penyair ini lahir akhir tahun 1980-an namun pengetahuannya tentang kosa kata bahasa Sunda terbilang luas.
Baik kata-kata yang digunakan dalam bahasa Sunda sekarang maupun yang digunakan dalam buku-buku dahulu dan semuanya digunakannya dengan tepat. Pengetahuan yang luas tentang kata-kata merupakan modal dasar bagi penyair.
Tapi tentu saja sajak yang baik tak cukup hanya dengan kekayaan vokabulari saja, Penyair harus kaya dengan gagasan yang dapat dilahirkannya dalam bentuk yang indah. Dalam sajak-sajak Ari gagasan seperti tersembunyikan dalam kekayaan vokabulari.
Cerpen-cerpen yang dimuat dalam Jeruk ada 13 judul. Tema umumnya adalah persoalan kalahnya individu yang lemah dalam menghadapi hidup yang perkasa, apalagi karena didukung oleh modal material, sosial dan simbolik yang kuat. Individu seperti menghadapi jalan buntu, tidak ada jalan alternatif untuk mengatasi persoalan.
Maka individu-individu yang menjadi tokoh dalam cerpen-cerpen itu menjadi tokoh tragis yang gagal dalam menghadapi hidup. Dengan menggunakan gaya realisme, pengarang ini berhasil menghidangkan kehidupan orang-orang yang bernasib buruk jauh dari adil dan raharja. Dalam “Jeruk” yang merupakan cerpen terbaik dalam kumpulan itu, tokoh utamanya malah menjadi kurban individu lain yang sebenarnya sama-sama bernasib buruk. Kekurangan utama cerpen-cerpen ini adalah soal bahasa yang bersifat elementer. Pengarang sering belum tepat dalam menempatkan kata-kata.
Kumpulan cerpen Di antara Tilu Jaman adalah karya Aam Amilia yang sudah lebih dari setengah abad menulis karya sastra dalam bahasa Sunda baik berupa cerpen maupun roman.
Pada waktu muda dia banyak menulis cerita tentang tokoh-tokoh remaja atau kehidupan kaum remaja, sekarang dia banyak menulis tentang kehidupan orang-orang yang sudah tua.
Tokoh-tokoh yang namanya memakai Jaman bukanlah tokoh tragis, tapi tokoh yang berhasil mencari jalan keluar dari persoalan hidup yang dihadapi. Contohnya meskipun anak cucunya tidak dapat berkumpul bersama pada waktu Lebaran karena kesibukan masing-masing, suami-isteri yang menjadi tokoh utama dalam “Kupat keur Lebaran” (Ketupat untuk Lebaran), masih dapat berkumpul bersama dengan tetangga yang sama-sama hidup hanya berdua.
Contoh lain, seorang bapa memilih kampret putih murah pemberian dari si bungsu yang hidupnya paspasan daripada memakai kampret bagus dan mahal hadiah dari anak sulung dan yang tengah, sebab si bungsu lebih hormat tilawat kepada orang tua daripada kedua kakaknya.
Karena itu setelah dipertimbangkan dengan matang,
Hadiah Sastera “Rancagé” 2017 untuk karya diberikan kepada
Di antara Tilu Jaman
Kumpulan cerpen Aam Amilia
(terbitan Adicikal Raharja, Bandung, 2016).
Kepada Aam Amilia akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2017 berupa piagam dan uang Rp. 5 juta.
Sedangkan Hadiah Sastera “Rancagé” buat sastera Sunda bidang jasa akan disampaikan kepada
Komunitas Ngejah
Sukawangi, Singajaya, Kabupaten Garut, Jawa Barat).
Komunitas Ngejah merupakan wadah kegiatan literasi yang dibangun dan dihidupkan oleh sejumlah anak muda yang kelihatan hasilnya serta mendapat sambutan dari pemerintah maupun masyarakat luas. Komunitas Ngejah didirikan tanggal 15 Juli 2010. Tujuannya adalah “memajukan kampung halaman baik dari sisi pendidikan, kebudayaan, keagamaan, perekonomian dan sendi kehidupan lainnya”.
Awalnya kegiatannya berupa diskusi, hususnya mengenai buku atau bidang tulis-menulis. Kemudian kegiatannya meluas, terutama dalam bidang literasi atau kegiatan membaca dan menulis. Kegiatan komunitas ini dibagi menjadi beberapa bidang, yaitu “peningkatan budaya baca tulis”, ’literasi media”, “pelestarian seni budaya”, “ekonomi mandiri” dan “pelestarian lingkungan hidup”.
Komunitas ini telah berhasil memperkenalkan buku, baik yang dalam bahasa Indonesia maupun yang dalam bahasa Sunda kepada orang-orang yang tinggal di kampung. Aktif mendirikan perpustakaan dan mendatangkan instruktur untuk membimbing anak-anak membaca dan menggemari buku dan bacaaan.
Kepada “Presiden Komunitas Ngejah, yaitu Nero Taopik Abdillah yang sehari-hari disebut Opik, akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé 2017 untuk jasa dalam sastera Sunda berupa piagam dan uang Rp. 5 juta
Keterangan mengenai Komunitas Ngejah yang digerakkan oleh Nero Taopik Abdillah bisa diperoleh dalam akun “Kumuniats Ngejah” dalam media sosial Facebook dan website resminya dengan alamat https: //komunitasngejah.wordpress.com.
Hadiah Sastera “Rancagé” 2017 untuk Sastera Jawa
Ada 20 judul buku sastera yang terbit dalam bahasa Jawa selama tahun 2016, termasuk dua judul yang disebut sebagai buku bahasa Using. Sepuluh judul berbentuk roman, tujuh di antaranya ditulis oleh seorang pengarang baru yang masih muda, yaitu Tulus S.
Sedang tiga judul yang lain adalah karya Tiwiek S., Narko Sodrun Budiman, Ismoe Riyanto dan Moh. Syaiful. Ada tiga judul kumpulan sajak (guritan) yaitu buah tangan Kanjeng Sastra Taruna, Suci Hadi Suwita dan Yusuf Susilo Hartono. Selain itu ada lima judul kumpulan cerpen yaitu masing-masing karya Nardi, J.F.X. Hoery, Tiwiek SA, St. Sri Emyani dan R. Suwardanidjaja dan kumpulan bersama Kembang Ronce 2016 yang disunting oleh Antariksawan Jusuf dan Hani Z. Noor.
Setelah membaca dan mempertimbangkan semua buku itu, tercatatlah hal-hal berikut: Sanggar-sanggar di Jawa Timur sejak 1975 berlangsung secara intensif menjadi tempat upaya pembinaan antar generasi para pengarang dalam bahasa Jawa.
Tahun 2016 terbit karya-karya pengarang baru yaitu St. Sri Emyani, Sjaiful. Kanjeng Sastra Taruna, Nardi dan Tulus S. Tulus S. sebagai pengarang baru dalam setahun menerbitkan tujuh judul roman, dua di antaranya menarik untuk diperhatikan yaitu yang temanya membahas kemandirian wanita dalam masarakat.
Yang pertama tentang Lastri yang masih muda namun terjun menekuni kehidupan ledhek (ronggeng) karena ingin melestarikan seni tari rakyat daerahnya. Namun masarakat ternyata sukar menerimanya sebagai kesenian tradisional karena gerakan tari ledhek itu erotis dan sebagian penonton yang terutama laki-laki memandangnya hanya sebagai pembangkit rangsang seksual.
Demikian juga dalam roman Gogroge Reroncen Kembang Garing tokoh utamanya, Harwati, yang bekerja di sebuah kantor sehingga dia menjadi seorang wanita muda yang mandiri yang dalam masarakat dianggap mudah digoda oleh laki-laki. Sayang bahwa Tulus S. dalam roman-romannya itu belum matang mengolah psikologi tokoh-tokohnya, dan melukiskan konflik kejiwaan mereka dalam perkembangan alur cerita.
Begitu juga cerpen-cerpen St. Sri Emyati dalam kumpulan Sinawang Suwung (Terlihat Kosong) mempunyai kelemahan yang sama.
Dari semua karya sastera yang terbit tahun 2016 itu setelah dipertimbangkan ditetapkan ada lima buku yang dinominasikan buat memperoleh Hadiah Sastera “Rancagé” 2017, yaitu (1). Kumpulan cerpen Kabucang ing Pangangen karya J.F.X. Hoery. (2) Roman Srengenge Tengange karya Narko Sodrun Budiman, (3) Roman Gogroge Reroncen Kembang Garing karya Tulus S., (4) Roman Agul-agul Belambangan karya Moh. Syaiful dan kumpulan guritan Serat Plerok karya Yusuf Susilo Hartono.
Cerpen-cerpen Hoery yang dimuat dalam Kabucang ing Pangangen (Terbuncang oleh Harapan) ada 17 judul, satu di antaranya menjadi judul buku. Banyak yang melukiskan hidup orang dalam masarakat tapi berlainan dengan kumpulan puisinya berjudul Pagelaran yang mendapat Hadiah Rancagé 2004 tidaklah memberikan gambaran usahanya melukiskan masarakat dan kebudayaan Jawa yang dihidupinya.
Roman Srengenge Tengange (Mentari Bangkit Bersinar) karya Narko Sodrun Budiman adalah buku kedua dari trilogi dengan tokohnya Anisa. Agak susah menilainya terpisah dari dua judul lainnya.
Kumpulan guritan Serat Plerok karya Jusuf Susilo Hartono memuat 58 buah guritan sesuai dengan usia penyairnya yang tepat 58 tahun. Kata “plerok” (dari “mlerok = rewes, berperhatian) menunjukkan perhatian penyair yang sungguh-sungguh terhadap berbagai masalah yang terjadi dalam masarakat. Misalnya ketimpangan hidup antara si kaya dengan si miskin, atau kenyataan yang nampak dalam metafora “wit klapa ilang klapane” (pohon kelapa yang hilang kelapanya), “tembang kelangan tembung” (tembang kehilangan kata-kata), dll.
Seperti diterangkan dalam Pengantar, penyair mengambil banyak imaji guritan sebagai sumber misalnya dari tradisi budaya jawa, ayat kitab suci AL-Kur-an, dan kata-kata semena yang sering dianggap tanpa arti (hal. XII, XIII).
Juga dalam penataan tipografi penyair sering memanfaatkan jumlah sukukata, kata dan bunyi sebagai salah satu unsur pembangun bentuk visual. Namun tidak semua bentuk tipografi dapat didukung oleh bunyi huruf, maka beberapa guritan yang seharusnya bernuansa serius berubah menjadi cair, karena dibangun oleh rangkaian bunyi onomatope, misalnya guritan 53, 55.
Semua guritan dalam Serat Plerok ini tidak diberi judul, melainkan diganti dengan angka berdasarkan urutannya dalam buku.
Agul-Agul Belambangan karya Moh. Syaiful berupa roman sejarah, berlatar belakangkan sejarah setempat kerajaan Blambangan. Yang menjadi tokoh-tokohnya dikenal dalam legenda sejarah melainkan hidup dalam masarakat, seperti Agung Willis, Rempek Jagapati, Mas Ayu Wiwit, Ki Sumur Gemuling, Ki Macan Jingga, dll. Begitu juga nama-nama tempat terjadinya peristiwa banyak yang sekarang pun masih ada, walaupun ada yang namanya berubah.
Perjuangan para patriot Blambangan melawan Belanda (VOC) yang mau memperluas kekuasaannya menjajah Indonesia perlu diketahui oleh keturunannya sekarang. Maka roman sejarah adalah salah satu bentuk sastera yang dapat memenuhi kebutuhan itu. Roman sejarah yang menarik sebagai cerita dapat memberi tahu pembacanya tentang sejarah yang sebenarnya.
Sayang bahwa jumlah roman sejarah dan penulisnya relatif tidak banyak, padahal banyak peristiwa sejarah di seluruh tanahair Indonesia yang akan menarik kalau dijadikan roman sejarah. Tokoh-tokoh sejarah di berbagai daerah di Indonesia banyak yang dapat dijadikan tokoh roman yang akan mengikat hati pembaca. Tapi penulisan roman sejarah memang memerlukan penelitian bukan hanya tentang legenda daerah, melainkan juga tentang naskah-naskah bahkan prasasti-prasasti agar dapat dipertahankan secara sejarah. Penulisan sejarah lokal yang dapat dijadikan bahan masih sedikit, dan bahan-bahan yang sudah diteliti pun banyak yang belum menarik pengarang untuk menjadi latar belakang ceritanya.
Dalam beberapa puluh tahun terakhir memang banyak penelitian yang dilakukan terhadap sejarah lokal beberapa daerah tapi belum merangsang pengarang kreatif untuk menyusun roman sejarah. Apa yang dilakukan oleh M. Syaiful menulis roman sejarah dengan latar belakang sejarah kerajaan Blambangan melawan Belanda niscaya akan membukakan mata keturunan Blambangan sekarang terhadap perjuangan nenek moyangnya mengusir penjajah. Dan yang berjuang melawan penjajah itu tidak hanya kerajaan Blambangan saja. Kerajaan-kerajaan lain pun di seluruih Indonesia melakukan perlawanan terhadap penjajah.
Maka Hadiah Sastera “Rancagé” 2017 untuk karya dalam bahasa Jawa dihaturkan kepada
Agul-agul Belambangan
Roman sejarah karya Moh. Syaiful
(terbitan Sengker Kawung Belambangan, Banyuwangi, 2016).
Kepada Moh. Syaiful akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2017 untuk karya sastera Jawa berupa piagam dan uang Rp. 5 juta.
Sedangkan Hadiah Sastera “Ran cage” 2017 untuk jasa dalam sastera Jawa akan dihaturkan kepada
H. Abdullah Purwodarsono
(lahir 30 Desember 1930)
Drs. H. Abdullah Purwodarsono sudah puluhan tahun terlibat dalam proses penerbitan sastera Jawa yang dimuat dalam mingguan Djaka Lodang yang terbit di Jogjakarta. Bersama H. Kusfandi, Drs. Abdullah Purwodarsono mendirikan majalah Djaka Lodang sejak 1 Juni 1971 dan sekarang masih terbit. Sebagai Pemimpin Umum merangkap Pemimpin Redaksi peranannya dalam menentukan arah dan isi majalah tersebut sangat besar.
Dengan semb oyan “Ngasthi budi rahayu, ngungak mekaring jagad anyar” (Melestarikan budaya Jawa dengan tetap menyadari perkembangan dunia baru). Maka yang dimuat dalam Djaka Lodang bukan hanya karya para pengarang senior yang sudah terkenal melainkan juga karya para pengarang muda yang baru karena kelak merekalah yang akan melanjutkan dan menggantikan para pengarang senior itu. Hal itu nampak dalam rubrik-rubrik yang disediakan dalam majalah itu antaranya “Ajar Nyerat”, “Ayo Makarya” dll.
Kepada Drs. H. Abdullah Purwoidarsono akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2017 untuk jasa dalam sastera Jawa berupa piagam dan uang Rp. 5 juta.
Hadiah Sastera “Rancagé” 2017 untuk Sastera Bali.
Ada 10 judul buku sastera yang terbit tahun 2016 dalam bahasa Bali, turun dari 17 judul yang terbit tahun sebelumnya. Namun demikian, kehidupan sastera Bali moderen tetap semarak. Seperti penerbitan sajak dan cerpen dalam rubrik Bali Orti (sisipan koran Bali Post edisi Minggu) dan rubrik Media Swari (supelmen dalam koran Pos Bali). Dan belakangan hadir pula jurnal elektronik dalam jaringan (online) sastera Bali moderen Suara Saking Bali.
Suara Saking Bali muncul cetiap bulan sejak November 2016. Kecuali memuat puisi dan cerpen baru jurnal ini pun memuat puisi dan cerpen berbahasa Bali yang pernah terbit sehingga mudah diakses peminat yang dapat megunduh jurnal fomat pdf ini secara utuh setiap edisi.
Dari 10 judul buku yang terbit tahun 2016 ada dua yang berupa antologi bersama. Yaitu Pasamudaya Rasaning Bangli (Kebersamaan Rasa orang Bali) yang memuat 15 cerpen karya 10 penulis dari kabupaten Bangli. Sedang Ngantiang Ujan (Menanti Hujan) berisi 20 cerpen karya 10 penulis dari kabupaten Karangasem. Karena karya bersama keduanya tidak dinilai untuk mendapat Hadiah “Rancagé” 2017. Maka hanya ada 8 judul yang dipertimbangkan untuk mendapat hadiah tersebut, satu kumpulan puisi, satu roman dan enam kumpulan cerpen.
Bali Melah Bali Benyah (Bali yang baik dan Bali yang hancur) memuat 116 sajak-sajak pendek karya I Ketut Ariawan Kenceng yang memakai gaya pantun dan syair. Penyairnya sangat menjaga persamaan bunyi akhir setiap larik puisinya. Tema puisinya sangat beragam mengenai perubahan sosial di Bali. Penyairnya menyelipkan pesan pesan ideal baik secara didaktis maupun ironis., misalnya sajak “Narkoba” menyindir rakyat dan pejabat yang ketagihan narkoba yang ditutup dengan kalimat “narkoba teka / galang warase sirna” (narkoba datang, pikiran terang jadi sirna). Sajak “Reklamasi” menyampaikan pesan agar masarakat Bali yang pro-kontra tehadap megaproyek Teluk Benoa dapat bermusawarah agar tetap damai; “becikang marembug / mangda tan uyut uwug / sadurung iraga saling gebug (lebih baik musyawarah / agar tak ribut hancur / sebelum kita saling pukul).
Roman Satyanng Ati (Kesetiaan Hati) karya I Komang Alit Juarta melukiskan kesetiaan seorang laki-laki menerima anak di luar nikah dengan wanita yang menjadi isteri laki-laki lain karena laki-laki yang menjadi suami wanita itu menolak bayi yang bukan “hasil karyanya” . Cerita ini menarik karena disajikan dengan bahasa yang lancar, lugas dan dengan ending yang cukup mengejutkan.
Kumpulan cerpen Event Organizer karya I Made Sugianto memuat 14 cerita yang terutama melukiskan kehidupan moderen masyarakat Bali di daerah urban. Cerpen yang dijadikan judul buku misalnya melukiskan fenomena tumbuhnya pragmatisme dalam melaksanakan upacara adat dan agama melalui Event Organizer. Akibatnya relasi sosial dan persaudaraan yang terpupuk melalui tradisi tolong-menolong menjadi lemah. Cerpen-cerpen dalam kumpulan ini cukup menarik, berdasarkan fenomena aktual sayang konfliknya umumnya kurang kuat.
Rare Kumara (Anak Kecil) kumpulan cerpen yang memuat 15 cerita karya I Gede Putra Ariawan juga alur ceritanya sederhana. Temanya beragam diangkat baik dari tema fenomena kontemporer yang universal maupun yang lokal Bali. Cerpen “Pokemon” misalnya mendapat ilham dari demam Pokemon universal pada pertengahan tahun 2016. Demam Pokemon ini dikontraskan dengan kepercayaan akan black magic lokal Bali. Cerpen ini mengandung parodi untuk mengembalikan rasa takut anak-anak pada mahluk jadi-jadian dari black magic daripada memburu pokemon malam hari.
Kumpulan cerpen Luh Luh (Wanita Wanita) karya Made Suarsa memuat 19 cerpen yang semuanya berjudul nama wanita. Bahasa yang digunakan Made Suarsa dalam cerpen-cerpen banyak menggunakan purwakanti sehingga timbul kesan puitis. Kritik dan pesan sosial yang dipetik dari pengalaman hidup para wanita disampaikan secara kias dalam cerpen-cerpen ini. Misalnya dalam “Luh Enji” pengarang mengeritik anggota DPR yang terlibat kasus korupsi dengan tokoh wanita yang disamarkan tapi digambarkan mengenakan mahkota kecantikan, sehingga pembaca akan dapat menelusuri sumber inspirasi cerpen ini. Nama tokoh Luh Dolly niscaya menyebabkan pembaca berasosiasi dengan kompleks pelacuran Dolly di Surabaya.
Ngakan Made Kasub Raka Sidan dengan kumpulan cerpennya Daha Ayu ring Tengai Tepet (Gadis Ayu di Siang Hari) melukiskan tragedi dengan perkosaan-perkosaan yang menimbulkan dendam baik dari suami yang isterinya digagahi oleh renternir sebagai pembayar utang atau orang yang kekasihnya diperkosa sehingga melakukan pembunuhan. Membaca semuanya seperti menyimak cerita-carita tragis yang dialami manusia-manusia tidak berdaya.\
Kumpulan cerpen Makurenan sareng Jin (Menikah dengan Jin) karya IGG Djelantik Santha memuat 16 cerpen dengan beragam tema percintaan, di antaranya melukiskan hubungan harmoni lintas etnik. Ada cerita tentang orang Bali dengan orang Sasak, Bali dengan Jawa, Bali dengan keturunan Cina.
Terasa lebih hidup karena diselipi percakapan dalam bahasa Sasak, Jawa dan Indonesia. Alur narasi kebanyakan lambat, konflik lemah, namun secara keseluruhan menarik dalam mengungkapkan spirit multikultur dan lintas budaya.
Kumpulan cerpen Kutang Sayang Gemel Madui (Dibuang Sayang Dipegang Berduri) karya Dewa Ayu Carma Citrawati yang memuat 13 cerpen mengangkat tema-tema aktual dalam kehidupan sosial Bali yang sedang berubah.
Gaya dan isi cerita menunjukkan kreativitas penulis dalam menemukan bentuk cerpen yang dianggapnya baik. Konfliknya berlapis dan kuat seperti dalam cerpen yang dijadikan judul buku. Dalam cerpen ini konflik tidak hanya terjadi antara protagonis dengan antagonis, tetapi juga antara tokoh-tokoh lain, sehingga cerita penuh dengan kejutan sampai akhir narasi.
Cerpen “Petani” menarik karena konflik antara anak dengan orangtua berlainan sekali dengan yang biasa kita dengar terjadi dalam masyarakat. Biasanya orang tua bersikukuh agar anaknya menjadi petani dan si anak ingin menjadi pegawai atau pejabat. Dalam “Petani” malah anak muda yang ingin menjadi petani.
Setelah mempertimbangkan dengan saksama semua buku terbitan tahun 2016 dalam bahasa Bali moderen, maka ditetapkan bahwa yang menjadi penerima Hadiah sastera “Rancagé” 2016 untuk karya dalam sastera Bali adalah
Kutang Sayang Gemel Madui
Kumpulan cerpen karya Dewa Ayu Carma Citrawati
(terbitan Pustaka Ekspresi, Denpasar)
Kepada Dewa Ayu Carma Citrawati akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2016 untuk karya dalam sastera Bali berupa piagam dan uang Rp. 5 juta.
Sedangkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2017 untuk jasa dalam sastera Bali adalah
I Putu Supartika
(lahir di Karangasem 16 Juni, 1994).
Penulis yang usianya masih terhitung muda ini memberikan sumbangan kepada kehidupan sastera Bali moderen lewat dua jalur. Yang pertana melalui jalur penciptaan dan penerbitan karya sastera dan kedua melewati jalur penerbitan jalur jurnal elektroniik sastera Bali moderen. Dia telah menerbitkan dua judul buku karya sastera yaitu kumpulan cerpen Yen Benjang Tiang dados Presiden (Kalau Nanti saya menjadi Presiden, 2014) dan kumpulan sajak Lelakut (Orang-orangan Sawah 2015). Karyanya berupa cerpen dan sajak masih muncul dalam Bali Orti (Bali Pos), dalam Media Swari (Pos Bali), majalah Satua, Canang Sari dan jurnal Suara Saking Bali.
Kepada I Putu Supartika akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2017 berupa piagam dan uang Rp. 5 juta.
Hadiah Sastera “Rancagé” 2017 untuk Sastera Lampung
Tahun 2016 Hadiah Sastera Rancagé untuk Sastera Lampung tidak diberikan karena tidak ada karya sastra modern yang terbit tahun 2015. Tapi dalam tahun 2016 terbit lagi dua buah karya sastera dalam bahasa Lampung, yang berjudul Negarabatin, roman biografis karya Udo Z. Karzi dan kumpulan puisi Sekekejungni Pesiser Sememanjangni Angangnon karya Elly Dharmawanti dan S.W. Teofani. Sebagaimana pernah kami sampaikan sebelumnya, buku kumpulan tulisan yang berbentuk bunga rampai atau antologi (oleh dua orang atau lebih), tidak akan dinilai untuk memperoleh Hadiah Rancagé. Oleh karena itu, kumpulan puisi Sekekejungni Pesiser Sememanjangni Angangnon tidak dinilai karena merupakan kumpulan puisi dua orang, maka yang kami nilai ialah Negarabatin karya Udo Z. Karzi saja.
Negarabatin adalah roman pertama dalam karya sastera Lampung modern. Roman setebal 200 halaman ini mengambil latar alam pedesaan di Liwa, Lampung Barat, tahun 1970-1986, mengisahkan seorang Uyung yang berkali-kali mencoba melarikan diri dari pekon (desa, kampung)-nya yang miskin.
Namun berkali-kali pula karena adanya ikatan batin yang begitu kuat, ia pulang kembali ke desanya itu. Jika buku-buku karya sstera Lampung yang mendapat Hadiah Sastera Rancagé sebelumnya merupakan kumpulan puisi,.maka roman ini merupakan bentuk pengucapan baru dalam sastera Lampung modern. Mudah-mudahan bentuk ini akan banyak ditulis dalam bahasa Lampung oleh para penulis Lampung kelak. Maka Hadiah Sastera Rancagé untuk karya dalam sastera Lampung tahun 2017 diberikan kepada
Negarabatin
karya Udo Z. Karzi
terbitan Pustaka LaBRAK, Bandar Lampung.
Udo Z. Karzi merupakan nama pena Zulkarnain Zubairi, sebelumnya pernah mendapat Hadiah Sastera Rancagé 2008 untuk kumpulan sajaknya yang tiajuk Mak Dawah Mak dibingi yang terbit tahun 2007.
Kepada Udo Z. Karzi akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2017 untuk karya berupa piagam dan uang Rp. 5 juta.
Hadiah Sastera “Rancagé” 2017 untuk Sastera Batak
Ada 4 judul buku yang tebit dalam bahasa Batak tahun 2016. Satu buku renungan dan nasehat, dua kumpulan cerpen dan satu lagi berupa roman. Dan satu dari dua kumpulan cerpen itu merupakan kumpulan bersama (sebelas orang pengarang) yang biasanya tidak dinilai untuk memperoleh Hadiah Sastera “Rancagé”.
Buku renungan itu berjudul Rabar: Sarito na Marimpola dohot Intermeso Sambing (Rujak: Cerita Bermakna dan Selingan) karya St Albiner Siagian (terbitan USU Press, Medan, 2016). Sebelumnya tak ada buku yang dinilai oleh Yayasan Rancagé yang bentutknya seperti ini. Dalam bahasa Batak karya seperti ini baru ada satu yaitu Si Bulus-bulus Si Rumbuk-rumbuk karya Willem Iskander (Batavia, Landsdrukkerij, 1872). Maka seharusnya penerbitan Rabar ini patut disambut dengan gembira. Sayang sekali bahasa Batak yang digunakannya tidak mendukung.
Menurut penulis dalam “Hata Patujolo” (Kata Pengantar), Rabar adalah makanan dari nangka muda yang diramu dengan daun pepaya, lalu ditumbuk dengan cabe dan garam. Siapa yang tahu makanan semacam itu sekarang?
Si Tumoing: Maniti Nambur (Si Tumoing Melintas Balik tanpa merusak Embun) karya Saut Poltak Tambunan merupakan yang ketiga dari buku dengan tokoh yang sama Si Tumoing. Yang pertama dan kedua telah memperoleh Hadiah Sastera “Rancagé” 2015 untuk karya sastera Batak yang pertama. Kalau melihat ceriteranya Si Tumoing Maniti Nambur ini merupakan jilid terakhir trilogi Si Tumoing.
Kumpulan cerpen Sonduk Hela (Mantu menumpang di kampung orangtua isteri) karya Tansiswo Palambok Pusupusu Siagian menarik karena dia pedatang baru dan namanya agak ganjil. Tansiswo nama Jawa berarti “bukan murid” artinya dia menempatkan dirinya tinggi. Sedang nama tengahnya Palambok Pusu-pusu yang berarti Penyejuk Hati atau si Lembut Hati . Tidak jelas apakah nama itu sudah disandang sejak kecil atau baru digunakan kemudian setelah besar.
Sebagai nama menggelikan. Yang jelas, semua cerpen yang dimuat dalam buku ini berhasil dengan meyakinkan menampilkan sifat penyejuk hati atau lembut hati. Maksudnya tak hanya para pelaku tampil dengan sifat tsb melainkan juga ikllim dan suasana keseluruhan cerpennya.
Maka wajar kalau pembaca jadi ragu apakah cerpen-cerpen itu mencerminkan kehidupan orang Batak karena kesan umum tentang orang Batak tidaklah lembut. Orang Batak memang kelihatannya kurang lembut, namun dalam hati dan sanubarinya mereka sabenarnya lembut. Lagipula kesan bahwa orang Batak kasar, bahkan suka makan orang, adalah berita masarakat pantai dan penjajah yang mestinya sudah hilang ketika dibuktikan sebaliknya hampir 200 tahun yl. (Baca laporan R. Burton dan N. Ward mengenai kunjungannya ke Silindung selama dua minggu, dalam “Report of a Journey into the Batak Country in the Interior of Sumatra in the year 1824” dalam Transaction of the Royal Asiatic Society I, 1827, h. 485-513). Bila dipahami berdasarkan metode dialektika Paul Ricoeur cerpen-cerpen ini bukan hasil rekaan yang piawai, melainkan cermin kehidupan nyata.
Agaknya Tansiswo Siagian menulis tidak hanya yang terlihat, tapi juga yang tersembunyi. Bukan tanpa alasan penulis pasang nama tengah Palambok Pusupusu.
Cerpen pertama “Sonduk Hela” bercerita tentang suami-isteri yang terpaksa menumpang di kampung keluarga isteriya. Menurut adat Batak, kedudukan keluarga isteri lebih tinggi dari keluarga suami.
Sebaliknya keluarga isteri wajib berlapang dada terhaap keluarga suami, apalagi terhadap suami-isteri itu sendiri. Namun tak ada jaminan bahwa saling wajib itu dilaksanakan. Keluargai isteri bisa saja “memperbudak” suami-isteri itu, dan suami-isteri itu bisa meremehlkan keluarga isteri.
Dalam cerita ini suami (Ama ni Anggiat) hidup sebagai pengagat (penderes tuak) dan isterinya (Nai Anggiat) sebagai buruh tani. Di tengah kelelahan mengais bekal hidup keduanya, terutama si suami, masih harus repot melayani permintaan orang sekampung untuk menyelesaikan bermacam urusan mereka, tak jarang hal sepele seperti mencari hewan piaraan yang hilang, bahkan membantu merapikan perabotan rumah.
Sedikit demi sedikit suami isteri itu berhasil menabung sehingga berhasil mendirikan gubuk sendiri lalu menyicii sebidang sawah dan membeli seekor kerbau. Puncaknya Ama ni Anggiat mendapat tawaran pekerjaan sangat baik di Riau. Pada waktu yang sama seisi kampung meminta Ama ni Anggiat menjadi sintua (anggota pimpinan gereja) yang menjadi incaran setiap orang.
Ama ni Anggiat berhasil mengolah hidup berdasarkan naluri Batak, ialah bagaimana hidup tetap berdaulat di tengah lingkungan sarat konflik. Namun naluri tidak akan bangkit kalau tidak ketemu dengan praktek dalam lingkumgannya sehari-hari. Seperti menderes tuak dengan tekun yang berhasil digambarkan oleh Tansiswo Siagian dengan runtut dan rinci dan membuat karyanya menonjol. Dan cerita-cerita lain yang dimuat di dalm buku itu pun sama kuatnya. Berdasarkan hal itu maka yang patut mendapat Hadiah “Rancagé” 2017 untuk karya dalam sastera Batak adalah
Sonduk Hela
kumpulan 10 cerpen karya Tansiswo Siagian
(terbitan SPT, Jakarta, 2016).
Kepada Tansiswo Palambok Pusupusu Siagian akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2017 berupa piagam dan uang Rp. 5 juta.
Sedangkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2017 untuk jasa dalam sastera Batak akan dihaturkan kepada
Grup Tortor Sangombas
Yang merupakan lembaga kelompol penulis yang berkarya dan berdiskusi di facebook sejak 2012. Merekalah yang telah menghiduplkan kembali sastera dalam bahasa daerah Batak. Buku-buku yang mereka hasilkan potensial sekali untuk menyumbangkan serba kearifan lawas bagi dunia yang sedang runtuh benteng-benteng kebajikannya.
Berlainan dengan kebiasaan selama ini, Yayasan “Rancagé” tahun ini ingin memberikan hadiah penghargaan terhadap karya yang tidak berupa buku, melainkan merupakan cerita pendek yang dimuat dalam buku kumpulan bersama. Seperti diketahui b iasanya buku karya bersama tidak dinilai untuk mendapat hadiah “Rancagé”. Tetapi cerpen dalam bahasa Batak yang berjudul “Parlombu-lombu” (Si Gembala Sapi) karya Soekirman Ompu Abimanyu yang adalah seorang Jawa (artinya yang bahasa ibunya bukan bahasa Batak) sangatlah istimewa.
Bukan saja bagus sebagai cerpen, melainkan juga ditulis bukan oleh “pemilik” bahasa ibu tersebut. Mudah-mudahan akan ada lagi bahkan akan banyak lagi orang yang memperkaya sastera bahasa ibu (bahasa daerah) yang bukan bahasa ibunya sendiri. Hadiah khusus itu dihaturkan kepada
Ir. H. Soekirman Ompu Abimanyu
Bupati (kedua kalinya) Serdang-Bedagai (kl. 70 km di selatan Medan, Sumatera Utara)
Kepada Ir. H. Soekirman Ompu Abimanyu akan dihaturkan Hadiah Khusus “Rancagé” 2017 berupa piagam.
Hadiah Sastera “Rancagé” 2017 untuk Sastera Banjar
Meskipun banyak kitab agama Islam seperti Sabilal Muhtadin karya Syeikh Muhammad Al-Banjary telah beredar sejak ratusan tahun di seluruh pantai Kalimantan, Sumatera hingga Malaka dan Petani, di Thailand hingga sekarang ditulis dalam bahasa Banjar, tapi karya sastera moderen seperti cerpen, sajak dll. dalam bahasa Banjar baru muncul setelah tahun 1970-an.
Bahasa Banjar hanya menjadi bahasa lisan. Yang tertulis hanya naskah-naskah lama baik bahasan tentang agama Islam maupun berupa syair dalam huruf Arab Melayu. Baru pada akhir tahun 1970-an muncul inisiatif untuk menulis sastera moderen dalam bahasa Banjar dengan menggunakan huruf Latin. Dinas Kebudayaan setempat mengadakan lomba mengarang dalam bahasa Banjar namun minat masarakat sedikti sekali. Yang mengejutkan adalah timbulnya usaha menterjemahkan karya dalam bahasa Indonesia ke dalam bahasa Banjar, yaitu karya yang berlatar belakang budaya Banjar atau ditulis oleh pengarang yang berasal dari Banjar.
Jadi karya-karya pertama (terutama berupa cerpen) sastera Banjar moderen itu dimulai dengan terjemahan, sehingga timbul perdebatan sengit, apakah karya tersebut dapat dianggap sebagai sastera Banjar?
Hal itu dapat dibaca dalam dua buku telaah karya Jamal T. Suryanata yaitu Sastera di Tapal Batas: Tradisi Cerpen Banjar 1980—2000 (2012) dan Sastera Banjar: Refleksi Historis dan Tinjauan Kritis (2015). Keduanya merupakan buku yang paling komprehensif membicarakan eksistensi dan perkembangan sastera Banjar moderen baik di Kalimantan Selatan, maupun di Malaysia.
Sejak diadakan perlombaan menulis dalam bahasa Banjar itu, bermunculanlah karya-karya sastera dalam bahasa Banjar disertai dengan perdebatan mengenai pengertian, tujuan, dan kepentingannya.
Apalagi setelah media lokal seperti Media Kalimantan, Radar Banjarmasin, dan Banjarmasin Post memberi tempat pada cerpen, sajak atau cerita bersambung dalam bahasa Banjar. Sejak awal 2017 Media Kalimantan menyediakan halaman khusus “Maharum Banua” untuk bahasa dan sastera Banjar. Sejak tahun 2000 ada belasan judul buku karya sastera yang terbit dalam bahasa Banjar. Sedang dalam tahun 2016 terbit buku-buku berikut: Dari Warung Jablai ke Selat Bosphorus (kumpulan cerpen Hatmiati Masy’ud dan Ewin Adhia), Rak Rak Gui (kumpulan karya bersama Burhanuddin Soebely dkk), Pitua Padatuan gasan Buyut Intah (kumpulan sajak bersama Rezqie Muhammad AlFajar Atmanegara, dkk), Pembatangan (roman karya Jamal T. Suryanata) dan Umbayang Wayang Balarut Jukung Rumbis (kumpulan sajak dll pemenang ASKS XIII di Kabupaten Tanah Laut).
Setelah dipertimbangkan maka Hadiah Sastera “Rancagé” 2017 untuk karya dalam sastera Banjar adalah
Pembatangan
Roman karya Jamal T. Suryanata
Roman ini mengisahkan seorang yang diinginkan orang tuanya menjadi “tuan guru” atau pedagang, tapi nasib menjadikannya sebagai pembatangan, yakni orang yang menjual kayu dengan dilarutkan dari hulu ke hillr sungai. Pekerjaan pembatangan itu sekarang hampir hilan g seiring dengan kian merosotnya fungsi sungai sebagai sarana transportasi. Cara berkisah Jamal bisa disebut campuran , ada yang dikisahkan oleh orang ketiga, ada yang oleh orang pertama.
Gambaran suasana sangat kuat melalui deskripsi yang kaya. Alam Banjar dengan suasana senjanya, keadaan sungainya, warungnya dll sangat kuat sementara dialog seperlunya saja.
Pengarang barusaha keras memanfaatkan semaksimal mungkin kosa kata bahasa Banjar, sehingga orang Banjar pun tidak akan mudah menangkap kata-kata Banjar yang sudah lama terlupakan, yang barangkali untuk memahaminya perlu membuka kamus.
Kepada Jamal T. Suryanata akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2017 untuk karya berupa piagam dan uang Rp. 5 juta.
Hadiah “Samsoedi” 2017 untuk penulis bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda.
Ada tiga judul buku bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda terbitan tahun 2016. Tapi yang dua, yaitu Budak Teuneung karya Samsoedi dan Putri Ayu Punianjung karya Dakman Mudyadi merupakan cetak ulang, jadi tidak dinilai. Yang dipertimbangkan untuk mendapatkan Hadiah “Samsoedi” hanya satu yaitu Nala karangan Darpan.
Nala mengisahkan tentang anak wanita yang hiup berdua dengan ibunya yang membuat kueh untuk dijual di warung. Nala cerdas, dapat menyelesaikan ulangan matematika dalam 10 menit.
Suka menolong kawan, misalnya karena sepatunya rusak, atau menolong tunanetra yang hendak menyeberangi jalan. Apa yang dialami oleh Nala dalam buku itu lebih merupakan sketsa kehidupan anak sekolah baik di sekolah, di rumah ataupun di tempat lain.
Kepada Darpan akan dihaturkan Hadiah “Samsoedi” 2017 berupa piagam dan uang Rp. 5 juta.
Upacara penyerahan Hadiah “Rancagé” dan Hadiah “Samsoedi” 2017 pemasrahannya dilaksanakan sabtu, 9 September 2017, pukul 09.30 wib. di Gedung Perpustakaan Ajip Rosidi Lt. 3. Jalan Garut No. 2 Bandung.  | RNZ/PRS

Komentar Anda

LEAVE A REPLY