Home Nasional Daerah Peringatan Keras bagi Para Pelacur Intelektual di Lembaga Survei

Peringatan Keras bagi Para Pelacur Intelektual di Lembaga Survei

0
SHARE

Sudah terlalu banyak akumulasi kekecewaan, kekesalan dan kemarahan publik  kepada lembaga-lembaga survey yang mengaku ‘’kaum intelektual’’, namun perilaku dan praktek kerja mereka benar-benar  bagai para pelacur (lonte) intelektual ( istilah lonte  dari lagu Iwan Fals). Caci maki dan celaan di media sosial adalah bukti semua kegeraman itu.

LSI  dengan pendekar Denny JA dan Saeiful Mujani  semula dimaksudkan untuk mengembangkan demokrasi.  ” Tapi sudah menjadi pengetahuan publik bahwa banyak pollster di Indonesia berperilaku khianat. Mereka menjual integritas intelektualnya demi memenangkan klien yang membayari polling yang mereka lakukan. Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) adalah salah satu pollster pertama di masa reformasi, pecahan dari LSI (Lembaga Survei Indonesia) yang didirikan oleh Prof William Liddle dengan murid-murid Indonesianya di Ohio State University, AS.  LSI berdiri 2003 dengan menggunakan dana bantuan Jepang, di masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri,” ungkap politikus Radhar Tribaskoro  dari Gerindra..

‘’Namun uang triliunan dalam pemilu telah membuyarkan cita-cita itu. Seorang pendiri melihat mudahnya meraup uang melalui pengarahan opini publik yang percaya kepada integritas peneliti politik (pollster). Pengarahan opini publik dengan membentuk image-image yang berlawanan dengan kenyataan disebut framing adalah pekerjaan khianat  dan pelacuran  busuk yang dengan segera mengundang penentangan dari pendiri LSI lainnya. SMRC adalah wujud kongkrit dari penentangan itu. SMRC ingin mewujudkan tujuan LSI yang sesungguhnya. Apa lacur, SMRC ternyata jatuh ke lubang kenistaan yang sama,’’ kata politikus Radhar Tribaskoro  dari Gerindra.

”Survei amatiran Prof  Hamdi Muluk, bentuk pelacuran Intelektual dan kebohongan pendukung Jokowi-Ahok . Survei opinion leader dengan melibatkan para pakar yang dilakukan Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia pimpinan Hamdi Muluk terlihat tendensius dan merupakan bentuk pelacuran intelektual.Penegasan itu disampaikan direktur Sabang Merauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan, Doktor lulusan S-3 Fisip UI  (04/08/16).

Ini peringatan keras  di media sosial dan media massa dari para  warga bagi semua  intelektual lembaga survei bahwa berbagai kalangan  nasionalis dan Islam, politikus atau civil society (Islam dan Nasionalis)  mengungkapkan, kecemasan dan kekhawatiran akan  wabah pelacuran (perlontean)  intelektual sejenis  itu  juga  dilakukan Yunarto Wijaya.Charta Politika, Burhanudin Muhtadi (Indikator), Cirus Network Andrinof , CSIS pimpinan Philip Vermonte  dan lembaga-lembaga survey lainnya, termasuk dalam  survei seperti  survey Pemilu Pilpres kasus PDIP/Jokowi 2014 dan AHOK pada Pilkada DKI kemarin dan berbagai survei lainnya. Sehingga  banyak orang dan warga yang kecewa, marah, geram dan dendam. Benarkah itu?

Tapi memang pelacuran intelektual  yang  tercium bau busuknya di ruang publik sudah menjadi pengetahuan umum. ‘’ Kita kan tahu, survei-survei itu tergantung siapa yang bayar,’’ kata  Ketum  Dewan Pembina Gerindar Prabowo Subianto  kepada pers/media. Suara Prabowo bukanlah suara personal/pribadi, melainkan suara arus menengah ke bawah yang kecewa, kesal dan geram  kepada lembaga-lembaga pelacuran (perlontean) intelektual bernama lembaga survei.

‘’Andai Radar Tribaskoro orang Madura, ia akan menyebut Syaiful Mujani Research and Consulting (SMRC) “wan-ilmuwan”. Artinya ilmuwan gadungan. Tahun lalu, Dr Syahganda Nainggolan bikin tulisan analisa tentang SMRC sebagai tidak ilmiah. Kurang lebih sama dengan Radar. Dicap begitu, sudah selesai lembaga polling yang seringkali ngawur berat itu. Tapi para manipulator justru senang ada gadungan seperti itu untuk memanipulasi kebenaran. Dua hari ini, wan-ilmuwannya SMRC viral di seantero Sosmed. Sang Pelacur! ,’’ ungkap Djoko Edhi Abdurrahman, Mantan Anggota Komisi III DPR, Wakil Sekretaris LPBH PBNU.

Media sosial ramai ungkapkan kasus berbagai lembaga survey yang melakukan survey  pada 2014 bahwa kalau PDIP ajukan Jokowi jadi capres maka perolehan kursi PDIP di parlemen  akan naik sampai sekitar 30%, terbukti meleset jauh, margin error melampaui batas kewajaran. Demikian halnya dalam kasus Pilkada AHok tahun  2017 ini, sejumlah lembaga survey itu kembali mengulangi kesesatan serupa demi  pembenaran dan memenagkan kubu Ahok melalui pelegitimasian survey bahwa Ahok unggul, setidaknya menurut survey mereka, namun margin error mereka sangat melampaui batas kewajaran. Lagi-lagi survey survey itu  mungkin abal-abal.  Di media sosial, dihujat semua survey itu, karena terbukti survei-survei itu dinilai  tak kredibel, demi fulus dan  bayaran serta melacurkan intelektualisme para sarjana/ akademisi  pelaku survey itu di mata publik.

‘’ Merekalah para pelacur  intelektual yang bersemayam di kampus atau lembaga survei, pelacur intelektual yang meraup duit milyaran rupiah  tanpa pertimbangan kredibilitas dan  dignity, demi uang dan kuasa, busuknya sama dengan koruptor e-KTP,’’ ungkap  para  netizen dan aktivis prodemokrasi di media social dalam berbagai bahasa dan karakter.

Peringatan keras di media massa dan medsos itu  kita sampaikan agar para akademisi  dan sarjana menghentikan pelacuran intelektual yang sudah jadi cemooh dan sinisme publik maupun masyarakat politik. Pelacuran itu sama busuknya dengan korupsi e-KTP, korupsi BAnk Century, Hambalang dan sebagainya.. Cukup sudah. Tidak ada lembaga survey yang bisa dipercaya akibat  pengkhianatan intelektual, istilah Baskoro, atau wan-ilmuwan alias ilmuwan gadungan, istilah Djoko Edhi Abdurrahman. Publik butuh survei yang benar, baik  jujur, obyektif dan kredibel..  Ingatlah  pepatah Melayu  semacam ini: Sekali lancung di ujian,  hilang sudah kepercayaan!

__________________

Oleh: Subandi, netizen

Komentar Anda

LEAVE A REPLY