Home EKONOMI Bisnis Rizal Ramli di UniBraw: Relevansi Pariwisata, Lapangan Kerja & Reformasi Budaya

Rizal Ramli di UniBraw: Relevansi Pariwisata, Lapangan Kerja & Reformasi Budaya

0
SHARE

Catatan Mahasiwa FE Unibraw

Civitas academica Universitas Brawijaya Malang mengundang tokoh nasional Rizal Ramli (RR) untuk memberikan pencerahan dan penyegaran wawasan berkaitan dengan dunia pariwisata. ”Kalau mau maju, maka kita  harus punya visi dan strategi,” kata tokoh nasional Rizal Ramli.

Cara berpikir “out of the box” ekonom senior Rizal Ramli dalam membaca persoalan dan merumuskan solusi terkait pariwisata, ekonomi dan budaya di Indonesia, sungguh sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia yang kini ”Harus ada story line, tak hanya facts, tak cukup hanya bilang pantai dan gunung di indonesia itu indah, tapi harus ada story line nya, harus ada dongeng, ceritanya, tak hanya fakta. Apa dan mengapa Gunung Bromo, Bali, Danau Toba, pantai-pantai Indonesia dan sebagainya. Danau Toba misalnya, harus kita sampaikan story linenya bahwa Danau Toba seperti Monaco-nya Asia Tenggara, misalnya ” ujar RR..

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli menekankan kepada para mahasiswa Unibraw pentingnya membangun gerakan budaya ‘’Bersih dan Senyum’’ sebagai upaya mendorong sektor pariwisata. ”Smile, smile, dan harus bersih, perlu perubahan kultur,” ujar RR.

”Penting dalam pengembangan sektor pariwisata yang tidak melulu hanya menyangkut pembangunan fisik, tetapi juga mental hidup bersih dan ramah dari semua kalangan masyarakat. Di dalam wisata itu banyak yang sifatnya budaya, terutama budaya kebersihan. Jangan mimpi bakal banyak turis kalau mencari WC bersih saja tidak ada,” kata RR di hadapan para mahasiswa Unibraw Malang akhir pekan lalu.

Menurut mantan Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu, di lokasi wisata dunia yang terkenal seperti Italia atau Spanyol selalu ada toilet-toilet bersih dan harum.

“Makanya kita harus bangun supaya turis domestik maupun internasional nyaman, harus dengan standar toilet kering dan bersih,” katanya.

Dalam hal ini, destinasi wisata Danau Toba sudah dikembangkan dimana di situ ada  tiga ekosistem di satu tempat yakni eko sistem sabana, gurun pasir dan batu-batu tua yang hadir sekaligus, dan mewarnai corak wisata Danau Toba yang diharapkan memikat turis domestik dan asing dalam skala massif. ‘’Pengembangan wisata Danau Toba tak hanya fisiknya, namun juga harus disertai  gerakan kebersihan dan senyum masyarakatnya,’’ kata RR.

Lebih lanjut, Rizal memaparkan pentingnya budaya senyum dalam mendorong sektor pariwisata. Hal itu utamanya harus dilakukan di bidang-bidang yang bersentuhan langsung dengan para wisatawan, yang bisa mendorong keramahan bangsa Indonesia sebagai upaya menyambut wisatawan.

Hal itu merujuk pada program Smile Singapore yang dibuat oleh mantan Perdana Menteri Singapura mendiang Lee Kwan Yew guna mendorong agar masyarakat di negara kecil itu bisa lebih ramah terhadap wisatawan.

“Bangsa kita ada yang doyan senyum, ada yang tidak. Di Jawa Barat tuh rata-rata doyan senyum orangnya, tapi di Danau Toba belum tentu. Orangnya keras-keras semua walaupun hatinya baik, makanya harus diajari kultur tersenyum,” katanya.

Dengan kebersihan dan senyuman, maka hal itu bisa mendorong target kunjungan wisatawan asing dari saat ini hampir 10 juta orang menjadi 20 juta orang per tahun pada 2019.

Pemerintah juga menargetkan devisa negara dari sektor pariwisata meningkat dari 10 miliar dolar AS saat ini menjadi dua kali lipatnya pada 2019.

Begitu pula penyerapan tenaga kerja langsung di sektor tersebut yang diharapkan berlipat ganda dari 3 juta orang menjadi 7 juta orang pada 2019.

“Istilahnya, ini kita hanya trigger (pemicu) agar gerakan ini bisa menyebar ke wilayah lain. Budaya bersih dan senyum ini manfaatnya akan kembali ke masyarakat,” katanya.

Rizal mengatakan, untuk menciptakan lapangan pekerjaan di sektor pariwisata, hanya dibutuhkan kucuran dana sekitar US$3-5 ribu. Ini menjadikan pariwisata sebagai sektor paling murah ketimbang sektor lain. Di sektor lain, ada yang butuh puluhan ribu dolar AS sampai US$100 ribu.

‘’ Pariwisata menjadi sektor yang paling cepat ciptakan lapangan pekerjaan,” kata Rizal Ramli seraya mengingatkan Indonesia kalah dibanding Malaysia dan Thailand karena Indonesia itu ribet, tak punya visi dan strategi yang kuat, dengan story line-nya yang baik,  padahal kita negara maritim yang paling luas dan indah namun tak ada turisme kemaritiman (maritime tourism). ”Jutaan turis mengalir ke Malaysia dan Singapura dan Thailand, namun tak mampir ke Indonesia, maka kita ubah visi dan strateginya sehingga turis asing itu masuk ke Indonesia. Maka harus kita buat terobosan dan terobosan, bukan incremental atau gradual,  yang sudah tak cukup untuk konteks sekarang dan mendatang, harus ada terobosan dan lompatan ke depan,” ujar RR.

Tak hanya itu, Rizal menjelaskan, dalam membangun investasi di sektor pariwisata dipastikan kondisi perekonomian Indonesia yang saat ini tengah labil, ke depannya akan bisa menjadi lebih baik.

Komentar Anda

LEAVE A REPLY