Home BUMN Menteri BUMN Harus Segera Evaluasi Holding Perkebunan

Menteri BUMN Harus Segera Evaluasi Holding Perkebunan

0
SHARE

“Menteri BUMN Harus Segera Evaluasi Holding Perkebunan ”

Akhirnya nasib buruk holding Perkebunan saat ini ibarat manusia tak ubahnya seperti lagi sekarat di ruang ICCU rumah sakit yang lagi menunggu ajalnya datang.

Pasalnya akibat salah diagnosis terhadap penyakit yang diderita oleh holding perkebunan PTPN 1 sampai dengan PTPN XIV selama ini oleh Deputy Bidang Usaha Argo Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro yang merangkap wakil komisaris utama BNI semakin terbukti , tentu akibat salah diagnosis akan berakibat pula salah kasih obat , makanya bukan semakin sembuh penyakit yang ada , malah terjadi kontraksi dan menimbulkan penyakit penyakit baru , ibarat kata orang sakit kepala dikasih obat kurap , akhirnya sakit kepalanya makin berat , malah badannya semakin berkurap.

Ternyata salah diagnosis itu semakin terbukti ketika Wahyu Kuncoro telah mengomentari tulisan saya bahwa dengan menempatkan orang perbankan sebanyak mungkin dan pada level puncak sebagai pengendali manajemen supaya bisa tertib administrasi dan lebih hemat dan semakin sehat perusahaannya, padahal dia lupa kredit macet itu paling besar di bank Pemerintah termasuk BNI.

Tetapi faktanya bukan semakin sehat , malah telah terjadi penurunan produktifitas hampir pada semua jenis tanaman , mulai dari berat buah kelapa sawit , minyak sawit, karet , teh, tembakau dan gula serta kopi.

Setelah kami telisik apa penyebabnya dari hulu sampai hilirnya , ternyata ada salah terapi terhadap kinerja selama ini meliputi telah terjadi pemotongan biaya perawatan tanaman , pemupukan tanaman hanya sekali dari seharusnya dua kali , kacaunya angkutan TBS dari kebun kebun ke PKS yang menyebabkan tingginya restan TBS dan menurunnya rendemen CPO oleh kinerja PKS yang peralatannya dipasok oleh pemasok dengan mengunakan casing yang asli akan tetapi isi casing itu terdiri dari produk produk KW 2 dan KW 3, sehingga tak heran banyak PKS lebih sering batuk batuk terus alias tak bisa mengolah TBS.

Maka sangat bisa dipahami kehilangan potensi pendapatan yang dialami oleh holding pada tahun 2016 sekitar Rp 6 triliun untuk semua komoditi , CPO dan Gula sebagai penyumbang terbesarnya , tentu potensi kehilangan pendapatan ditahun 2017 bisa jadi lebih parah dengan hampir sekitar lebih 15 PKS tidak beroperasi.

Sehingga kalau ada klaim saat ini oleh Dirut Holding Dasuki Amsir bahwa PTPN Holding telah berhasil meraup laba bersih dari januari sampai akhir agustus sekitar Rp 478 miliar sebagai prestasi yang dirilisnya (13/10/2017) tak lebih sebagai pencitraan saja untuk menutupi telah salah kelola proses bisnis terhadap perusahaan selama ini , semua itu agak tertolong oleh iklim membuat produksi lebih baik dan harga komoditi lagi baik , dan hasil itupun belum final , karena mungkin banyak pembayaran kepada bank , pajak dan pihak ketiga lainnya yang belum dilakukan oleh holding , ibarat seperti orang buka warung nasi , baru jam 2 siang habis orang makan tentu banyak uang masuk , ketika sore datang tagihan utang bumbu , beras, bawang , daging ,ikan dan sayur mayur dan retribusi , sewa tempat. |RED/ATA

Komentar Anda

LEAVE A REPLY