Home BUDAYA Sejarah Hubungan Nusantara Dengan Prancis

Sejarah Hubungan Nusantara Dengan Prancis

0
SHARE

POROSNEWS – Nusantara atau Indonesia sudah lama dianggap oleh orang Prancis sebagai ‘tanah perburuan pribadi’ milik orang Belanda. Sebelumnya, orang Belanda dengan VOC-nya, berhasil menyingkirkan orang Portugis, Spanyol dan Inggris. Mereka selalu berusaha mempertahankan tanah jajahan ini, karena kaya akan rempah-rempah dan tanahnya subur luar biasa.

Pada masa pemerintahan Kaisar Napoleon Bonaparte, dia di istana Louvre (Paris), sering mengkaji pertahanan di Pulau Jawa dan Nusantara umumnya, negeri dimana pasukannya dikalahkan oleh Inggris. Serdadu Prancis kemudian digantikan oleh para tentara petualang, para buangan politik, dan para pedagang pemberani. Mereka kemudian membangun sebuah masyarakat paternalistik yang sederhana, ramah dan ceria. Penduduk lokal yang terpaksa tunduk kepada pemerintahan kolonial ini menyenangi orang-orang Perancis karena mereka ramah dan baik hati.

Dalam buku “Sejarah Kecil Indonesia – Prancis 1800/2000”, hasil karya penulis Jean Rocher dan Iwan Santosa oleh Penerbit Buku Kompas 2013. Bisa dilihat bagaimana hubungan yang terjalin diantara kedua bangsa. Hubungan tersebut bermula dari tahun 1800-an, dan akan kita kupas seperti apa bentuk hubungan keduanya.

Asal Mula Kota Depok

Pada masa pemerintahan Raja Louis XIV keluarlah dekrit Edit de Fontainebleau, yang berisikan larangan bagi warga negeri tersebut untuk menganut agam kristen protestan. Agama tersebut dianggap ilegal. Akibat dikeluarkannya dekrit tersebut, terjadilah diaspora kaum Huguenot (warga Prancis beragama kristen protestan) keluar negeri. Tercatat dalam sejarah 200.000 kaum Huguenot tersebut lari keluar Prancis. Tujuan utama mereka adalah Swiss, Belanda, Inggris, Amerika Serikat, Brasil, Afrika Selatan hingga benua Australia.

Namun, ada juga beberapa kaum tersebut yang hidup di nusantara. Mereka umumnya memiliki relasi kerja dengan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Salah satunya adalah Cornelis Chastelein. Dia adalah seorang Huguenot yang berasal dari Belanda. Pada usia 17 tahun, dia berlayar ke nusantara. Di Batavia, dia meniti karir sebagai boekhoulder, grootwinkelier dan tweede opperkoopman des casteels VOC, hingga tahun 1691. Di kemudian hari, dia mengundurkan diri karena prinsip dagang VOC dinilainya tidak adil dan bertentangan dengan ajaran agamanya.

Saat keluar dari VOC, Chastelein membeli tanah di Gambir, Srengseng, Mampang, Depok, Karang Anyar dan Ciliwung. Dia ingin mengembangkan pertanian dan perkebunan dengan budi daya tanaman kopi, tebu, lada dan padi. Untuk itu, dia membutuhkan budak sebanyak 150 orang. Para budak itu didatangkan dari Makassar, Nusa Tenggara Timur, Bali, Bengali (sekarang Bangladesh) dan India.

Seiring perjalanan waktu, Chastelein termenung melihat perbudakan yang dilakukannya sendiri. Dia teringat akan larangan perbudakan dalam agama kristen protestan yang dianutnya. Pada 13 Maret 1714, Chastelein menulis surat wasiat yang berisi pembebasan para budaknya serta membagi seluruh tanah miliknya kepada mereka. Pada 28 Juni 1714, Chastelein meninggal dunia. Kemudian wasiat itupun dilakukan tanpa ada masalah. Langkah tersebut merupan terobosan karena baru pada tahun-tahun terakhir tahun 1800-an, perbudakan dihapuskan di seluruh Hindia Belanda.

Semasa hidupnya, Chastelein tidak pernah merasa risih apabila para budaknya berkomunikasi menggunakan bahasa Belanda dengan dirinya. Padahal, masa itu merupakan hal yang tidak pantas jika kawula berbicara dengan tuannya dengan memakai bahasa Belanda. Bahkan tradisi menggunakan bahasa Belanda ini, membuat mereka di cap sebagai ‘Belanda-Depok’. Sampai sekarang, masyarakat luar kota Depok mengenal istilah tersebut. Sehingga tercatat dalam sejarah yang mulai dilupakan oleh generasi saat ini, bahwa kota Depok modern sekarang didirikan oleh seorang Prancis Protestan, seorang Huguenot bernama Cornelis Chastelein. Seorang pejuang kesetaraan dan kemanusiaan di zamannya.

Pelukis Raden Saleh

Kalangan pelukis di Indonesia, siapa yang tidak mengenal nama Raden Saleh. Pelukis kelahiran Terboyo, di timur Semarang ini pun ada kaitannya dengan negara Napoleon Bonaparte tersebut.

Dalam salah satu bab dalam buku yang sama, diungkapkan bagaimana Raden Saleh bersinggungan dengan Prancis. Sejak kecil, dia sudah menyukai kegiatan menggambar. Pada suatu ketika, ada seorang pembesar Belanda singgah di Kabupaten Semarang dan dia melihat bakat yang ada di Raden Saleh Sjarief Bestaman cilik. Kemudian, dia menitipkan anak kecil berbakat ini di rumah pelukis Antoine Payen di Buitenzorg (Bogor), untuk lebih mengasah bakatnya. Di kota Buitenzorg inilah, melalui keahlian Payen yang sudah terkenal sebelumnya, Raden Saleh mulai menguasai unsur-unsur dasar seni lukis ala Eropa yaitu beraliran klasik.

Pada tahun 1826, Antoine Payen, harus pulang ke Belanda. Tiga tahun berselang, pada usia 18 tahun, Raden Saleh meninggalkan Pulau Jawa. Di Belanda, dia diterima oleh Jean-Chretien Baud, mantan Gubernu Jenderal yang memerintah Hindia Belanda dari tahun 1833-1836. Guru lukis pertama Raden Saleh di Belanda adalah Cornelius Kruseman dan Andries Schelfout. Mereka mengajari Raden Saleh bagaimana melukis potret dan pemandangan alam.

Setelah itu, dimulailah perjalanan Raden Saleh mengelilingi benua Eropa. Negara pertama yang dia kunjungi adalah kerajaan Prusia (Jerman sekarang). Pada tahun 1845, tibalah dia di Prancis pada usia 34 tahun. Raden Saleh menjalin hubungan yang dekat dengan artis-artis Prancis, hal ini berkat tokoh-tokoh Belanda yang tinggal di Paris.

Cuaca di Paris lebih bersahabat dibandingkan dengan Belanda dan kesempatan berpesta dengan kalangan atas sangat banyak. Mereka menyambut Raden Saleh dengan antusias; seniman muda Jawa ini banyak mempunyai aset, yaitu ganteng, muda, berasal dari negeri yang misterius dan eksotis. Banyak kalangan atas yang tinggal di Paris, merupakan mantan pejabat tinggi diHindia Belanda. Sehingga banyak bernostalgia dengan masa-masa indah di wilayah tersebut. Raden Saleh menguasai bahasa Belanda dan tahu semua tata krama pergaulan masyarakat atas Eropa.

Di ibukota Prancis ini, Raden Saleh memproklamirkan diri sebagai pangeran karena dia terus menerus mendengar orang menyapanya dengan sebutan itu. Para bangsawan di Paris, senang memperkenalkan Raden Saleh kepada teman mereka sebagai ‘pangeran’.

Ada satu kisah menarik akan salah satu karya Raden Saleh yang ia beri judul Rakit Rakyat Kapal Medusa. Lukisan itu sangat terkenal, dan ada kaitannya dengan nusantara. Ada sebuah kapal perang jenis frigate bernama Medusa. Kapal perang tersebut pernah mengangkut Herman Willian Daendels di Jawa, tenggelam di lepas pantai Dakae, Senegal. Tenggelamnya kapal perang tersebut tercatat dalam sejarah sebagai bencana maritim terburuk di abad ke-19.

Tak dinyana, Raden Saleh melukis Een overstorming op Java atau banjir di Jawa, dengan komposisi gambar mirip lukisan Rakit Kapal Medusa. Lukisan Raden Saleh menggambarkan orang-orang Jawa di atap rumah di tengah gelombang banjir, yang sangat mirip dengan lukisan Theodore Gericault kini dipamerkan di museum Louvre.

Meskipun Raden Saleh mempunyai banyak teman dan melukis penuh bakat, dia tidak menjual banyak lukisan selama di Paris kecuali lukisan yang dibeli oleh raja Louis-Phillipe. Banyak lukisannya dalam periode itu yang hilang, dan ada yang terbakar.

Pada tahun 1848 terjadi kerusuhan politik di Prancis, dan raja Prancis Louis-Philipe melarikan diri ke Inggris. Raden Saleh pun tidak tinggal di Prancis lagi. Dia kemudian menetap di Jerman, dan setelah 20 tahun melanglang buana di daratan Eropa, dia pn pulang ke Jawa. Kepulangannya bersama isteri pertama, seorang indo-eropa yang kaya. Di daerah Menteng, dia membangun sebuah rumah bagus yang gayanya unik.

Kemudian pada tahun 1867, Raden Saleh pindah ke Yogya dan menikahi istri kedua, yang merupakan saudara sepupu dari Sultan Hamengkubuwono VI. Perjalanan hidup Raden Saleh selesai ketika dia meninggal pada tanggal 23 April 1880. Dia dimakamkan di kawasan Bondongan, dekat jembatan kereta api arah Empang Kampung Arab, Bogor.

Jejak Nusantara Di Prancis Abad ke-19

Pada peringatan seabad revolusi Prancis, diadakan pameran bernama Exposition Universelle (Pameran Semesta). Pameran ini diselenggarakan di Paris. Adapun dasar diadakannya pameran ini adalah, untuk menunjukkan kemajuan teknologi Prancis yang terwakili dengan menara Eiffel. Juga menampilkan daerah-daerah koloni dengan tujuan mendapat dukungan rakya Prancis atas kolonialisme.

Kerajaan Belanda diberi tempat untuk membuka paviliun. Negeri Van Oranje ini merupakan satu-satunya negara asing (pameran lebih didominasi wilayah koloni Prancis)), yang diberi kesempatan membuka beragam paviliun.

Paviliun Hindia-Belanda dinamakan sebagai Le village javanais (desa Jawa) atau Le Kampoeng Javanais. Para pengunjung dapat melihat langsung bagaimana masakan Jawa disiapkan langsung oleh Mbok Predi (seorang perempuan Jawa tulen yang didatangkan dari Jawa), pembuatan topi bergaya Jawa, dan tiga bangunan khas Jawa, yakni gubuk panggung, lumbung padi dan kedai minuman bergaya pagoda Jawa. Permainan musik gamelan juga menempati hati para pengunjung. Namun, bintang dari paviliun ini sendiri adalah pertunjukan dan kemolekan para penari Jawa yang mencuri perhatian.

Menari dengan pakaian setengah telanjang di muka umum, bukanlah hal yang lazim dilakukan pada masa itu. Komentar berdatangan seusai pementasan penari Jawa pada perhelatan yang mampu menarik hingga 875.000 pengunjung. Para pengunjung kepincut hatinya pada para penari yang baru berusia dua belas hingga enam belas tahun itu. Mereka terdiri dari enam orang, yakni lima perempuan dan seorang pria. Dari para perempuan itu muncul nama Sarikem, Tuminah, Sukiyah dan Wakiyem yang berparas elok. Para penari ini merupakan kawula Gusti Kanjeng Pangeran Arya Mangkunegara (GPAA). Mereka terpilih dari 60 penari yang dimiliki Pura Mangkunegaraan, Surakarta.

Alunan gamelan yang mengalun mengiringi para penari tersebut, yang eksotis dan bernada magis ini, mempengaruhi seorang komposer muda berusia 27 tahun bernama Claude Debussy. Laras Slendro yang pentatonis, yakni lima internal dalam satu oktaf dan Laras Pelog yang terdiri dari tujuh interval tidak sama, menghipnotis pendengaran dan sukma Debussy.

Kemudian muncul karyanya dalam bentuk komposisi pentatonik Pagodes (pagoda), bait pertama d’Estampes (ilustrasi) yang digubah tahun 1903. Juga berbagai ragam karya hingga Le Tombeau des Naiades (Makam Dewi-Dewi Naiade). Sebelumnya pada tahun 1899, dengan judul Les Musiques Bizarres (musik aneh), L. Benedictus menerbitkan kumpulan transkrip musik Debussy untuk dimainkan dengan piano berjudul Le Gamelang (Gamelan).

Kembali ke soal kecantikan para penari Jawa, ada kisah romantis antara seniman Prancis Gauguin dengan seorang penari tersebut. Dikisahkan pelukis Gauguin menjalin kasih dengan salah seorang penari tersebut yang disebut sebagai ‘Anna’. Sosoknya pun dilukis oleh Gauguin dalam lukisan berjudul “Anna la Javanaise” atau Anna si Gadis Jawa.

Bagi orang Eropa, kebudayaan penduduk asli menakjubkan dan menghibur sekaligus asing menurut kebudayaan barat. Pengalaman ini menjadi eksotisme tersendiri ketika dipajang alam suatu pameran. Penulis buku Spionnagedienst (1938) bernama Matu Mona mengungkapkan, pameran ini menjadi luar biasa karena kebudayaan timur dipamerkan di depan orang Barat untuk membuka peradaban mereka.

Matu Mona juga menuturkan, pengunjung dari pameran ini penuh sesak dan kebanyakan merupakan kaum hartawan dari seluruh Eropa. Namun, banyak kalangan terutama dari kelompok Sosialis dan Komunis menentang Expo Kolonial yang dianggap sebagai pameran penghisapan kapitalisme terhadap sesam umat manusia.

Hanya saja, ada kejadian yang menyedihkan pada perhelatan besar ini. Anjungan Belanda terbakar pada tanggal 8 Juni 1931. Kebakaran ini ramai ditafsirkan oleh para anti imperialisme sebagai awal runtuhnya bangunan kolonialisme di Hindia-Belanda. Betapa pintarnya arsitektur dan desainer anjungan Belanda, akhirnya habis dilalap api dan menjadi debu. Peristiwa ini kemudian dikaitkan dengan kemunduran Belanda dari beberapa negara jajahannya, termasuk Indonesia (Hindia-Belanda). Hal tersebut kemudian terbukti empat belas tahun kemudian, tatkala Indonesia menyatakan kemerdekaannya. (NOR)

 

Komentar Anda

LEAVE A REPLY