Home BUDAYA Menafsir Soal Foto Banjir di Dua Media, Dimana Moralitasmu DETIK.COM?

Menafsir Soal Foto Banjir di Dua Media, Dimana Moralitasmu DETIK.COM?

0
SHARE

FOTO 1 (ATAS)

FOTO 2 (BAWAH)

Tulisan yang kami dibuat ini ditujukan untuk DETIK.COM media yang punya nama besar dan sengaja kami turunkan sebagai  sebuah ketukan untuk hati nurani yang jujur, berahlak dan  bermoral.

Jika media adalah jungjungan tertingginya moral dan reputasi, maka sebaiknya jangan sesat pikir atas semua yang terjadi di Jakarta saat ini. Dan jangan juga menyudutkan kinerja Gubernur Baru. Catat sebelumnya kami bukan pendukung Anies Sandi, namun marilah kita berlaku saling menghormati dan jika perlu menghargai, soal harga silakan Anda buat harga sendiri. Harga itu ada di kritik yang cerdas tidak terjebak pada penyudutan sebuah keburukan dan bukan fakta. Hargai nilai luhur dengan menampilkan berita yang nyata bukan berita atau gambar imajinatif.

Atas semua itu kami di Redaksi sedang manafsir data foto digital. Dua foto diatas adalah yang kita tafsir adalah sebuah salah kaprah. Foto 1 adalah dari kantor berita Antara dimana 13 Janurai 2016 ada BANJIR di Palembang yang membuat foto karya Nova Wahyudi, lengkap dengan watermark logo ANTARA. Watermarking yang dibuat Antara kuat suatu cara bahwa penanaman data/informasi kedalam suatu data digital yang mana hak Antara jelas disana. Foto itu bagus dan keren. Visual foto nyata memang banjir di Palembang tahun 2016.

Kami yakin -semoga saja- DETIK.COM punya foto itu karena berlangganan ANTARA. Tapi jika hanya ambil di Google maka ANTARA punya hak mengugat DETIK.COM itu pun kalau dilakukan. Hal lain maka jika ditafsir foto itu utuh dalam data digital logo Antara jelas di sudut kanan foto.

Namun jika kita lihat tafsir foto kedua maka jelas dipastikan Digital Imazing (logo Antara) di croping seenaknya lalau dipasang watermark Detik.com. DETIK memasang FOTO Ilustrasi pada Sabtu 28 Oktober 2017 peristiwa genangan di kawasan Gandaria City. Jelas itu foto rekayasa.

Istilah rekaya foto kerennya Digital Imaging merupakan metode untuk melakukan proses pengeditan pada gambar yang telah di-scan dari file aslinya, menjadi file digital dalam bentuk piksel agar komputer dapat melakukan manipulasi pada gambar tersebut dan pada akhirnya membuat tampilan gambar menjadi indah atau bahkan berbada. Digital imaging sebenarnya telah berkembang sejak tahun 1960 dan 1970 untuk mengatasi kelemahan dari kamera film. Perkembangan yang pesat dari digital imaging saat ini sangat berkaitan erat dengan munculnya era kamera digital. Dengan menggunakan digital imaging, foto dapat diperbaiki kekurangan dari gambar dan memperbaiki warna dari gambar sesuai dengan selera. Selain itu proses digital imaging sendiri relatif lebih mudah, setiap orang yang menguasai desain grafis, dipastikan mampu melakukan proses ini. Nah soal sesuai selera itu juga ada adabnya.

Tidak mengcroping foto hak orang diganti namanya. Ini namanya kejahatan hak intelektual dan namanya adalah maling karya orang. Lijat foto dua jelas di croping dan logo Antara dibuang diganti logo DETIK. Lalu air banjir diganti warnanya menjadi biru. Biru membawa kasus baru.  Foto Antara diolah oleh Zaki Alfarabi, dan dinyatakan ilustrasi. Ini jelas kesalahan fatal. Foto I milik Antara diabaikan. Sejak kapan foto asli lalu di ganti nama haknya. Lalu ANTARA pemilik absolut hilang ini kejahatan karya. Jika kalimat foto itu ilsutrasi sah. Tapi dasar objek karya adalah utama dan harus dijelaskan historinya. Harusnya menulis Foto Banjir karya X diolah dalam Ditigal Imaging oleh Y dan untuk kepentingan ilustrasi berita Z berkaitan tentu sesuai berita. Jangan berubah subtansi yang jelas milik orang. Jadi dimana moralitas media sekelas DETIK.COM

Kira-kira itulah tafsir dari kami. Tulisan ini dibuat secara  terbuka dari kami. Terus terang kami melihat kegelisahan media saat ini lepas kontrol tak terkendali. Khususnya yang terjadi atas rekayasa sebuah foto diatas tadi. Padahal  media sekelas DETIK harusnya tak ceroboh seperti ini. Ini zaman digital dan arsip digital lebih valid tersimpang. Lantas bagaimana harusnya? Kami juga ingin sampaikan hendaknya Dewan Pers Terlibat ikut menegur atau mengingatkan akan kasus seperti ini.  Karena informasi yang sesat  akan bahaya.

Dari semua itu tujuan kami hanya mengetuk media sekelas Detik jangan  ceronoh. TERIMA KASIH.

Redaksi POROSNEWS

Komentar Anda

LEAVE A REPLY