Home Buku Indonesia Semestinya Bersikap Tegas

Indonesia Semestinya Bersikap Tegas

0
SHARE
Sebuah buku telah diterbitkan pada 8 Disember 2009 yang menghimpunkan 200 keping foto penjajahan Belanda terhadap Indonesia yang tidak pernah dipaparkan pada umum.

BELASAN ribu kilometer jarak Indonesia dengan Belanda. Pada abad ke-16, rentang jarak itu ditempuh selama 14 bulan pelayaran. Dipimpin Cornelis de Houtman, bangsa Belanda mendarat di Pelabuhan Karangantu, Banten, pada tahun 1596. Setelah itu, mulailah mereka menjalankan kolonisasi. Mereka menjajah.

Tak terhitung penduduk Nusantara dan kemudian Indonesia hilang nyawanya akibat penjajahan itu. Pembantaian massal yang dilakukan tentara Belanda yang dipimpin Kapten Raymond Westerling di Makassar saja diperkirakan korbannya 40.000 orang. Belum lagi pembantaian massal di tempat-tempat lain di berbagai penjuru Indonesia, misalnya di Banda, Aceh, dan Bekasi (Jawa Barat).

Lewat perjuangan dan perlawanan yang panjang, bangsa Indonesia akhirnya dapat merebut kemerdekaannya, yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Namun, pemerintah Belanda baru mengakui kedaulatan Republik Indonesia di akhir tahun 1949. Itu pun dengan memakai kata-kata “penyerahan kedaulatan”, bukan “mengakui kedaulatan”. Bahkan, sebelumnya, dengan membonceng tentara Sekutu, pasukan Belanda melancarkan agresi militer pada tahun 1947 dan 1948.

Tahun 2013, Pemerintah Belanda secara terbuka telah meminta maaf atas pembunuhan massal di Indonesia pada rentang waktu 1945 hingga 1949. Namun, untuk kekejaman yang mereka lakukan sebelum tahun-tahun itu, Belanda tak mau meminta maaf.

Padahal, di Aceh, hanya dari 23 Maret 1904 sampai 24 Juni 1904, pasukan Marsose-Belanda yang dipimpin Overste van Daalen tercatat membantai 2.549 orang. Dari jumlah korban itu, 1.001 orang di antaranya adalah anak-anak dan perempuan.

Dalam buku Atjeh yang ditulis H.C. Zentgraaf, kekejaman yang luar biasa tersebut dipaparkan. Bahkan, menurut Zentgraaf dalam bukunya, Overste van Daalen begitu bangga melihat ribuan mayat bergelimpangan dan mengizinkan juru foto militer merekam kesadisan tersebut.

Jadi, mestinya Pemerintah Kerajaan Belanda meminta maaf atas perbuatan biadab mereka kepada bangsa Indonesia tanpa perlu membatasi tahun. Namun, anehnya, untuk permintaaan maaf dalam rentang tahun 1945 dan 1949 saja banyak pihak di Belanda yang menentang dan malah menyatakan merekalah sebenarnya yang menjadi korban. Bangsa Indonesia dinilai mereka sebagai “penjahat perang”, yang telah membantai orang Indo-Belanda pada rentang waktu tersebut.

“Sekarang giliran Indonesia meminta maaf atas kekerasan pada zaman Bersiap. Kakek saya seorang Indo Belanda menceritakan kekejaman para pemuda membunuh para korban kamp interniran dengan bambu runcing dan klewang, tangan dan kaki dipotong dan dibuang ke kali,” demikian kata seorang warga Belanda, seperti dikutip situs Radio Netherland Wereldomroep, 17 Januari 2012.

Yang dimaksud zaman Bersiap oleh orang Belanda itu, menurut sejarawan Lembaga Dokumentasi Perang Belanda NIOD, David Barnouw, adalah periode dari 17 Agustus 1945 sampai awal 1946. “Periode penuh kekerasan, tidak ada yang berkuasa, kelompok-kelompok para-militer, para kriminal membunuh orang Indo Belanda dan Cina. Orang Belanda totok masih aman di kamp interniran,” kata David Barnouw, seperti juga dikutip situs Radio Netherland Wereldomroep.

Tiga lembaga penelitian Belanda mulai tahun 2017 sampai tahun 2021 akan meneliti soal ini, soal penggunaan kekerasan selama perang dekolonialisasi tahun 1945 sampai 1950 di Indonesia. Satu dari tiga lembaga itu akan bekerja sama dengan sejumlah universitas di Indonesia dan mengundang para peneliti Indonesia dalam berbagai sub-proyek penelitian tersebut. Dana penelitian itu mencapai 4,1 juta euro atau lebih dari Rp 60 miliar.

Yang akan didalami adalah dampak psikologis pada para tentara Belanda yang mereka anggap menjadi korban dalam zaman Bersiap. Yang dituding sebagai pelakunya adalah para pemuda Indonesia. Belanda sendiri sewaktu menjajah negeri ini memang selalu melakukan propaganda bahwa para pejuang kemerdekaan Indonesia hanyalah gerombolan ekstremis dan perampok.

Jadi, untuk mengantisipasi hasil penelitian tersebut, yang awalnya saja sudah tercium aroma politiknya, pemerintah Indonesia sudah semestinyalah bersikap tegas. Kitalah yang menjadi korban penjajahan dan kekejaman Belanda. Sudahkah kita mempersiapkan diri dengan penelitian tandingan? Jangan sampai anak-cucu kita kelak salah menilai dan merasa malu, karena menganggap para pahlawan kita sebagai penjahat perang. [Pedje]

Komentar Anda

LEAVE A REPLY