Home Nasional Hukum Agus Pambagio Diduga “Plagiat” Data Tulisan BBM dari Pengamat Energi UGM

Agus Pambagio Diduga “Plagiat” Data Tulisan BBM dari Pengamat Energi UGM

0
SHARE

POROSNEWS – Wow ada data diduga “plagiat” dari seorang yang mengaku pemerhati kebijakan publik dan perlindungan konsumen yang nyaris tak menyebutkan sumber data utamanya. Kisah awalnya adalah tim Redaksi sedang melakukan riset soal Harga BBM yang sangat tinggi.  dan untuk kepentingan data internal.

Dan kami menemukan dua tulisan kembar namun datanya sepertinya yang satu copas alias Copy Paste dan sedikit utak atik. Tapi jika plagiat sebenarnya sedikit banyak namanya tetap  ya plagiat. Lantas kami pingin tahu jadi data itu milik siapa sebenarnya? karena hanya menyebutkan medianya saja, namun nama penulis kolom analisa luput tidak di absen.

Mari kita bandingkan Karya sumber utama itu ditulis pada tanggal Selasa, 31 Oktober 2017 pukul  20:42 WIB di Kontan. Kami tampilkan sumbtansi dari isi tulisan soal BBM itu di situs Migasnesia.com ini.

Tulisan Pengamat Energi UGM Fahmy Radhi: Rakyat menanggung mahalnya harga premium

tulisan Fahmy Radhi di Kontan/ ist

Berapa sesungguhnya harga eceran RON88 sebenarnya?. Harian Kontan 28 Oktober 2017 menghitung harga RON88, dengan menggunakan formula, yang selama ini konon digunakan oleh Pertamina. Dalam formula itu, komponen penentu harga eceran RON88, terdiri dari: (1) harga minyak dunia, kurs rupiah terhadap dollar AS, jumlah barrel per liter. (2) Margin Pertamina dan SPBU, serta biaya penugasan, biaya penyediaan, biaya distribusi, biaya penyimpanan ditetapkan sebsar 20%. (3) Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10% dari Harga Dasar (HD), dan (4) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) sebesar 5%.

Dengan asumsi harga minyak dunia sebesar US$ 50 per barel, kurs rupiah sebesar Rp. 13.560 per dolar AS, 1 berel setara 159 litter, maka HD sebsar 4.264,15 per liter [(US$ 50/159 liter) X Rp. 13.560 = Rp. 4.264,15]. HD ditambah Margin dan Biaya 20%, PPN 10%, PBBKB 5%, maka harga jual eceran RON88 dihitung sebenarnya sebesar Rp. 5.756,60 per liter (4.264,15+852,83+426,42+213,21=5.756,60). Kalau kemudian Pemerintah menetapkan harga jual RON88 sebesar Rp. 6.450 per liter, berarti ada kemahalan harga yang ditanggung rakyat sebesar Rp. 693,40. Kalau asumsi harga minyak dunia dinaikkan menjadi US$ 55 per barrel, dengan perhitungan yang sama, kemahalan harga RON88 ditanggung rakyat sebesar Rp. 117,74 per liter.

Kalau total konsumsi konsumsi BBM sebesar 1.740.00 barel per hari, total kemahalan, yang ditanggung rakyat, dengan asumsi Minyak Dunia US$ 50 per barel, sebesar Rp. 70,01 triliun per tahun. Sedangkan dengan asumsi harga minyak dunia US$ 55 per barel, total kemahalan harga RON88 sebesar Rp. 11,89 triliun. Dengan besaran kemahalan harga RON88, wajar kalau Menteri ESDM kepincut untuk meresmikan beroperasinya SPBU Cilangkap. Dengan harga jual RON89 seharga Rp. 6.100 per litter tentunya PT Vivo sudah memperoleh margin, sehingga harga pokok penjualan masih lebih rendah. Lihat lengkap linknya: http://analisis.kontan.co.id/news/rakyat-menanggung-mahalnya-harga-premium

Tulisan Agus di Detik /ist

Lantas kita lihat Tulisan Agus Pambagyo,  Kamis 09 November 2017, 13:58 WIB Catatan Agus Pambagio : BBM Satu Harga dan Kompetisi Hilir Migas.Kami tampilkan subtansi dari isi tulisan soal BBM itu di situs Migasnesia.com

Harian Kontan 28 Oktober 2017 menghitung harga RON 88 dengan menggunakan formula yang selama ini konon digunakan oleh Pertamina. Dalam formula itu, komponen penentu harga eceran RON 88 terdiri dari: (1) harga minyak dunia, kurs rupiah terhadap dollar AS, jumlah barel per liter. (2) Margin Pertamina dan SPBU, serta biaya penugasan, biaya penyediaan, biaya distribusi, biaya penyimpanan ditetapkan sebesar 20%. (3) Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10% dari Harga Dasar (HD), dan (4) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) sebesar 5%.

Dengan asumsi harga minyak dunia sebesar US$ 50 per barel, kurs rupiah sebesar Rp 13.560 per dolar AS, 1 barel setara 159 litter, maka HD sebesar 4.264,15 per liter [(US$ 50/159 liter) X Rp 13.560 = Rp 4.264,15]. HD ditambah Margin dan Biaya 20%, PPN 10%, PBBKB 5%, maka harga jual eceran RON 88 dihitung sebenarnya sebesar Rp 5.756,60 per liter (4.264,15 + 852,83 + 426,42 + 213,21 = 5.756,60). Kalau kemudian pemerintah menetapkan harga jual RON 88 sebesar Rp 6.450 per liter, berarti ada kemahalan harga yang ditanggung konsumen sebesar Rp 693,40/liter.

Kalau total konsumsi BBM sebesar 1.740.00 barel per hari, total kemahalan yang ditanggung konsumen dengan asumsi minyak dunia US$ 50 per barel, sebesar Rp 70,01 triliun per tahun. Dengan besaran kemahalan harga RON 88, wajar kalau Menteri ESDM semangat untuk meresmikan beroperasinya SPBU PT VEI di Cilangkap. Dengan harga jual RON 89 seharga Rp 6.100 per liter tentunya PT VEI sudah memperoleh margin, sehingga harga pokok penjualan masih lebih rendah. Mudah-mudahan harga ini termasuk harga BBM Satu Harga di SPBU PT VEI. silakan cek lengkapnya: https://news.detik.com/kolom/3720170/bbm-satu-harga-dan-kompetisi-hilir-migas

Jika dibantingkan dua tulisan diatas maka tulisan Fahmy Radhi pengamat ekonomi itu adalah analisa yang original.  Pertanyaannya kenapa pemerhati kebijakan publik dan perlindungan konsumen Agus Pambagio hanya menulis sumber media saja, padahal itu karya pengamat dalam analisa dari akademisi UGM?. 

Lantas apa itu serupa tetapi tidak sama? Jelas itu kutipan tak menyebut sumber penulis, namun menyebut media adalah kebohongan publik atau bahkan bisa juga selain bisa diduga plagiat data bisa dikatakan kejahatan intelektual.

Karena tulisan sebuah Kolom adalah pemikiran analisa jelas data itu milik sendiri penulis kolom. Namun hanya medianya yang disebut memang sah, tapi masa ya tidak menyebut penulis adalah hal aneh. Ini arahnya curi data dan bisa disebut “Plagiator”. Ini soal data digital yang kuat dan cepat bisa di dapat di era Zaman Now karena nama penulis lenyap sedang data digital ada.

Seandainya saja Agus menyebut nama penulis kolom di media itu mungkin meminjam data sah saja aman sudah. Namun ini data milik Fahmy dan Fahmy sebagai penulis Kolom bukan diwawancarai atau bahkan data itu buka analisa media tersebut.

Maka menyebut medianya saja tidak masalah. Tapi ingat hakekat Plagiat adalah pengambilan karangan orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan atau pendapat sendiri, misalnya menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri mengutip baik semua maupun sepenggal. Orang yang melakukan plagiat disebut plagiator loh atau disebut juga penjiplak.

Publik yang membaca tulisan Agus bisa jadi sudah terhipnotis bahwa itu Agus punya data, meski di dalamnya Agus sudah menyebut media tersebut. Tapi data digital adalah jelas adanya pemuatan lebih awal dari karya Fahmy.

Nah hendaknya agar tidak jadi preseden buruk Agus harus lebih hati-hati memindahkan data orang, dan harus lebih komplit sumbernya jika copas. Sayang kan kalau analisa rubriknya saja sudah tertera jelas Catatan Agus Pambagio. Kavling sendiri nama Anda punya kekuatan di media online ternama di tanah air.

Dari data awal saja mengutip media rasanya tidak cukup. Bukan mustahil bahwa media yang muat juga akan percaya begitu saja karena melihat nama besar. Meski sesat sumber sebenarnya, maka inilah yang akan berakibat merusak reputasi bukan saja penulis namun media juga serampangan memuat tulisan.

Jadi catatan Redaksi MIGASNESIA adalah harusnya sumber itu ditulis semua tanpa kecuali, nama media, penulis, sumber, waktu da lain yang bla-bla…Akhirnya  semoga ini tidak terulang…Gus……dan harus minta maaf sama Fahmy !

sumber Migasnesia.com

Komentar Anda

LEAVE A REPLY