Home EKONOMI Kasus WO ASU: Yang Bohong Detik.com atau Traveloka?

Kasus WO ASU: Yang Bohong Detik.com atau Traveloka?

Catatan yang tertinggal Walk Out Ananda Sukarlan

0
SHARE

POROSNEWS – Kasus dari aksi walk out pianis ternama Indonesia yang tinggal di Spanyol Ananda Sukarlan (ASU) saat  Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan diundang dan berpidato dalam hajatan 90 tahun berdirinya Kolese Kanisius pada Sabtu (11/11), di Hall D JIExpo Kemayoran Jakarta meninggalkan kisah dalam polemik panjang.

Sang pianis adalah alumni Kolese Kanisius hadir untuk menerima penghargaan dan berada kursi VIP-nya. Namun saat Gubernur Anies Baswedan berpidato dan menyampaikan sambutan atas undangan itu, sang pianis itu walk out . Aksinya diikuti sejumlah alumni lainnya.

Catatan yang tertinggal ini –awalnya dipikir basi karena kasus lebih heboh adalah ada kisah Fortuner menabrak Tiang Listrik, tentu tahu semua kan — akan menyoroti aksi diikuti sejumlah alumni lainnya dan berujung kasus baru yaitu ajakan meng-uninstall aplikasi sebuah layanan travel dan tiket bernama Traveloka yang begitu viral baik di media social, maupun jejaring whatsapp (WA-Group).

Tulisan yang saya buat ini sebenarnya oto kritik agar tidak main-main dengan data digital karena data-data digital adalah kejujuran yang kuat terdektesi. Data digital jujur apa adanya sebelum semua ada yang merekayasanya. Rekaman data digital validatasnya tinggi. Saya dalam setahun ini bersama Meprindo Data Center (MDC) konsen akan data digital dalam konten monitoring dan analisys. Banyak data digital yang diperlukan dan banyak rekayasa yang nantinya akan merugikan.

Baiklah kita simak kasus WO sang pianis itu dan dampak besar bagi bisnis Travel online bernama Traveloka.

Kita buka kisahnya media yang sering paling mengaku paling cepat yaitu detik.com baca data ini (khusus) alinea ke tiga:

Berita awal detik.com yang tercapture lihat Alinea ke 3. Dan bandingkan di bawah alinea ke 3 yang sudah diubah. 

Jelaskan Alinea ke tiga isinya disana hadir salah satu pendiri sekaligus CTO Traveloka Derianto Kusuma menyalami dan memberikan ucapan selamat ke Ananda setelah aksi walk out dan pidato Anies, yang dianggap sebagai dukungan terhadap aksi Ananda.

Tulisan detik.com itu dibantah  PR Manager Traveloka Busyra Oryza membenarkan bahwa pendiri sekaligus CTO Traveloka Derianto Kusuma adalah salah satu penerima penghargaan di acara tersebut. Namun Derianto berhalangan hadir. Catat berhalangan hadir. 

“Sebenarnya pak Deri (Derianto) tidak hadir. Beliau sedang melakukan perjalanan dinas di hari itu. Jadi kalau dibilang ada pak Deri di sana dan disebut memberikan dukungan (kepada Ananda), beliau tidak ada di situ,” ujar Busyra. begitu tulis detik.com (14/11/2017)

Cara komunikasi Public Relations Traveloka bisa dikatanya benar, mereka melakukan klarifikasi. Komunikasi ini biasa dalam sebuah korporasi dan memang harus dilakukan jika dikata baik. Nah lantas siapa yang mulai ajakan karena Derianto ada di event Kanisius sehingga warganet  melakukan aksi boikot Traveloka. dengan Hashtag #BoikotTraveloka dan bahkan sempat menjadi  trending topic Twitter Indonesia. Warganet ini jelas kalau di analisa mendukung Anies, karena mungkin semjulah pihak yang WO itu kok belum Move on.
Gerakan  aksi boikot Traveloka mengguncang. Dan munculkan sejumlah alternatif tidak beli tiket ke Traveloka. Ini sebuah preseden konteksnya. Namun analisa kami kembali ke pemberitaan awal.
Setelah ada klarifikasi Traveloka. Simak ya alinea ketiga Detik.com nih kami kutip semua

Selasa, 14 Nov 2017 pukul 15:34 WIB dengan judul: 

Ajakan Uninstall Traveloka, 

Ramai Soal Aksi WO, Bos Traveloka Dipastikan Tak Hadir di Kanisius
Traveloka menanggapi ramai pemberitaan mengenai ajakan memboikot layanannya. Aplikasi pemesanan hotel dan tiket perjalanan ini sekaligus memberikan klarifikasi terkait kejadian di acara Kolese Kanisius.

Seperti diketahui, ajakan uninstall aplikasi Traveloka berseliweran di linimasa Twitter. Hal ini rupanya dipicu aksi walk out pianis Ananda Sukarlan saat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berpidato.

Aksi walk out terjadi dalam acara peringatan 90 tahun berdirinya Kolese Kanisius pada Sabtu (11/11), di Hall D JIExpo Kemayoran. Ananda berdiri dari kursi VIP-nya dan walk out saat Anies memberikan sambutan. Aksinya diikuti sejumlah alumni lainnya.

Berdasarkan kabar yang beredar di linimasa, hadir salah satu pendiri sekaligus CTO Traveloka Derianto Kusuma menyalami dan memberikan ucapan selamat ke Ananda setelah aksi walk out dan pidato Anies, yang dianggap sebagai dukungan terhadap aksi Ananda.

Entah siapa yang memulai, informasi ini kemudian memancing sebagian netizen untuk melakukan aksi boikot Traveloka. Hashtag #BoikotTraveloka bertengger menjadi salah satu trending topic Twitter Indonesia.

PR Manager Traveloka Busyra Oryza membenarkan bahwa pendiri sekaligus CTO Traveloka Derianto Kusuma adalah salah satu penerima penghargaan di acara tersebut. Namun dia berhalangan hadir.

“Traveloka turut berbangga bahwa salah satu pendiri kami bapak Derianto Kusuma, menerima penghargaan dari alumni Kanisius. Akan tetapi beliau berhalangan hadir dikarenakan beliau sedang melakukan perjalanan dinas yang telah direncanakan beberapa bulan sebelumnya. Jadi kalau dibilang ada pak Deri di sana dan disebut memberikan dukungan (kepada Ananda), beliau tidak ada di situ,” ujarnya.

“Kami menyatakan bahwa Traveloka merupakan perusahaan berbasis terknologi yang didirikan oleh putera-puteri bangsa Indonesia yang mengedepankan nilai-nilai saling menghargai, bertoleransi dan berinovasi. Nilai-nilai ini senantiasa diterapkan kepada karyawan maupun pemangku kepentingan eksternal,” sambungnya.

Terkait beredarnya penyebutan nama Derianto memberikan dukungan kepada Ananda dan memunculkan ajakan memboikot Traveloka, pihak Traveloka menurut Busyro masih melakukan investigasi.

“Kami baru lihat ramai soal ini, kami juga masih menginvestigasi. Yang bisa saya sampaikan, beliau berhalangan hadir dan kami belum mengambil sikap apapun,” sebutnya.
View image on TwitterDerianto dan Ananda sendiri adalah dua dari lima alumni Kolese Kanisius berprestasi yang menerima penghargaan di acara ini. Selain k

eduanya, ada Romo Magnis Suseno (tokoh Jesuit), Irwan Ismaun Soenggono (tokoh pembina Pramuka) dan Dr. Boenjamin Setiawan (pendiri Kalbe Farma). (rns/rou)

Nah terlihatkan dialinea 3 Detik.com mengantikannya. Pertanyaan selanjutnya semoga kita memang tidak main-main dengan data digital. Dan inilah yang terekam. Meski kini mulai surut kasus ini karena sejumlah peristiwa yang menjadi isu besar namun boleh dong kita bertanya sebenarnya
Kasus WO ASU ini siapa Yang Bohong Detik.com atau Traveloka?. Mari belajar dalam alinea ke 3 diatas? Beritanya sudah diedit. Paragraf ketiga ditambah “Berdasarkan informasi…. ” dan ini bisa dikategorikan Hoax loh untuk Detik.com jika memang Bos Traveloka tidak ada Detik menulis ada.  Dan untuk Traveloka juga bisa di katakan bohong besar jika memang Boss nya ada di acara itu. Ingat suara di media social lebih keras dibanding dalam hati. Social Media Monitoring itu mampu untuk melihat seberapa besarkasus diperbincangkan. Sebagai analisa dari kasus ini semoga bentuk pencegahan jika bahan pembicaraan di social media bersentimen negatif maka kita harus hati-hati.
Social Media Monitoring memiliki kemampuan untuk menghitung Key Performance Indicator (KPI). Dan melihat jumlah pembicaraan ketika kita melakukan kampanye namun jika diluar kampanya ada hal negatif hati-hati.

Akhirnya hasil dari analisa Kasus WO ASU ini siapa Yang Bohong Detik.com atau Traveloka, kami serahkan ke mereka saja. Dan publik silakan menilai. Dan bisa jadi untuk menentukan pilihan kedepan apakah minat yang suka bohon atau jujur? Tabik!

RHENOZ DHARMA,  redaktur PorosNews.com dan Analisys pada Meprindo Data Center  (MDC) Meprindo.com

Komentar Anda

LEAVE A REPLY