Home Nasional Hukum Menyikapi Setitik Intoleransi dari Bali

Menyikapi Setitik Intoleransi dari Bali

(Catatan buat Semeton DR.Arya Dewakarna)

0
SHARE

Menyikapi Setitik Intoleransi Dari Bali
(Catatan buat Semeton DR.Arya Dewakarna)

Mendengar penolakan segelintir warga Bali terhadap kedatangan Ustadz Abdus Somad (UAS) untuk ceramah di Bali ,pertama saya bersikap biasa saja.

Hak menolak dan berbeda pendapat setahu saya dilindungi undang-undang dan konstitusi negara kita ini.
Lagipula saya pikir,semeton di Bali mungkin hanya “meneladani” tingkah-polah para sedulur kita dari Ormas Paling NKRI se jagad raya yang dari Jawa Timur.

Tapi kalau sampai demo anarkis, ribut dan teriak-teriak kasar hendak menggerebek Hotel tempat UAS menginap di Hotel Hilton Bali, “Tunggu dulu, semeton?”.

UAS itu bukan anak terlantar yang sepi sendiri sebatang kara. Dia berasal dari salah satu etnis terbesar di negeri ini, etnis Melayu dari Bumi Lancang Kuning-Riau. Dan paling utama dia berasal dari agama mayoritas negeri ini.
Melayu dan kami saudara seiman-nya tidak akan tinggal diam kalau para semeton bertindak keras dan di luar batas.

Saya bukan memprovokasi,justru saya mencoba mendamaikan hati dan mengajak kita semua berpikir jernih.
Tindakan para semeton di sana sangat rentan memprovokasi. Saya lihat kawan-kawan dari Riau dan daerah lain sudah “siap sedia”.
Bahkan sahabat saya Uda Rahmad Agus Koto yang saya kenal berwajah rupawan dan berhati roman , sampai beberapa kali membuat status yang mendirikan bulu roma.

Ingat para semetonku, UAS itu bukan “Ustadz Ekstrim” tapi beliau “Ustadz Eskrim”. Bukan Ustadz garis keras tapi Ustadz garis cerdas. Ceramahnya selalu mengajak ke kedamaian dan cinta negeri ini.

Kalau ada satu-dua kata,yang mungkin menyinggung perasaan saudara-saudara sebangsa yang non muslim, jangan lupa ; Ceramah Ustadz itu buat jamaah nya.
Ustadz berceramah buat orang Islam,bukan untuk anda-anda yang non muslim.

Lagipula,buat apa anda-anda mendengarkan ceramah pemuka agama yang berbeda dengan Anda?
Kalau mau mencari Hidayah,silahkan…

Tapi kalau sekedar mencari alasan untuk membuat onar,anda-andalah kaum Intoleran yang sesungguhnya.
Kalau telinga anda terlalu tipis dan hati anda terlalu sensitif mendengar kata ” kafir”, jangan pernah menonton youtube ceramah UAS atau ustadz lainnya.
Sampai kapan pun,selagi Ustadz nya berpedoman kepada Al-Quran,kata kafir tidak akan pernah hilang karena kata itu berasal dari Kitab Suci Al-Quran.

Lebih baik saudara-saudaraku mencari tahu makna kata kafir,siapa tahu setelah paham artinya justru bersyukur dianggap kafir,karena kafir artinya “ingkar” atau tidak menerima Islam.
Saya sendiri dengan senang hati di angggap dan di panggil “Ingkar Budha”, “Ingkar Hindu”, “Ingkar Kristen” dan “Ingkar Kong huchu” , karena saya memang tidak mengimani-nya.
Saya justru keberatan dinpanggil Bhudist,Hindu atau Kristiani karena saya Muslim.

Terakhir khusus buat yang saya sangat hormati dan banggakan, semeton Dr. Arya Wedakarna. Seringkali saya singgah dan baca tulisan anda di FP anda.
Sebagai orang yang merasa jadi panutan sekaligus merasa titisan Raja Majapahit,saya merasa seringkali tulisan anda justru mengkerdilkan diri anda sendiri, paduka yang mulia.

Pernahkah anda baca ratusan komentar-komentar yang nyata-nyata Intoleran karena di provonasi tulisan anda? , misalnya penentangan anda terhadap kedatangan UAS atau masalah Bank Syariah di Bali.

Saya paham, tujuan anda sangat mulia. Menginginginkan Bali tetap bernafaskan Agama Hindu sebagai mayoritas di sana,itu tidak salah semeton dan saya dukung sebagaimana dukungan saya ke Pemda Papua khususnya beberapa wilayah yang melarang Jual-Beli hari minggu untuk menghormati ibadah Minggu.
Bahkan Menhub di desak menutup penerbangan setiap hari minggu.
(Sumber https://news.liputan6.com/read/2296670/menhub-didesak-tutup-penerbangan-minggu-di-papua)

Tapi bisakah pikiran bijaksana kalian di sana kita buat juga bijaksini untuk kami di sini?
Dengan alasan yang sama,karena NKRI ini mayoritas Muslim , Indonesia ini harus bernafaskan Islam.
Kami tidak meminta perubahan atau undang-undang baru,cukup kita kembalikan dan luruskan saja sejarah kembali ke Piagam Jakarta.
Tapi saya yakin kalau kami mayoritas ini menuntut itu,anda-anda akan ribut dan menuduh kami anti NkRI dan Pancasila.

Jadi kami meminta : Cukup hormati ulama kami,dan kita ber Indonesia melalui Bhinneka Tunggal Ika,saling menghormati dan jangan ikut campur ajaran agama orang lain.
Bukan pada tempatnya anda mengatur siapa Ulama atau Ustadz yang akan di undang oleh saudara kami umat Islam di Bali,kecuali anda mau undang sendiri untuk berbicara di “rumah pribadi” anda.
-Azwar Siregar-

#SalamDamai
#KomunitasKomunikasiCintaIndonesia

Komentar Anda

LEAVE A REPLY