Home EKONOMI Tanggapan terhadap Tulisan Pembelaan Chatib Basri tentang Penghargaan Sri Mulyani

Tanggapan terhadap Tulisan Pembelaan Chatib Basri tentang Penghargaan Sri Mulyani

1
SHARE
Natalius Pigai saat aksi 11 Desember 2017/ist

Oleh Natalius Pigai*)

Saya sudah membaca tulisan Chatib Basri mantan menteri keuangan tentang pemberian penghargaan terhadap Sri Mulyani. Tulisan yang isinya membela secara berlebihan terhadap Sri Mulyadi sebagai menteri yang pantas mendapatkan penghargaan justru menjadi bumerang bagi Chatib karena banyak orang mencemooh dan tidak merespons positif . Termasuk kami yang orang awam dalam ekonomi, namun merasakan penderitaan atas kebijakan menteri keuangan Sri Mulyani selama ini.

Tulisan Pak Chatib di BBC Indonesia yang berjudul Menteri Terbaik di Dunia: Mengapa Sri Mulyani Layak Mendapatkan Predikat Itu?

Chatib Basri, dalam tulisannya muja muji berlebihan baik terhadap Sri Mulyani juga Ernst & Young (EY) atas Penghargaannya bagi Sri Mulyani.
Sebuah tulisan yang mendukung atas penghargaan Best Minister yang diberikan World Government Summit minggu lalu.

Bagi saya, meskipun bukan ahli ekonomi dan ekonom tetapi saya kecewa ketika membaca tulisan Chatib yang tidak mampu menunjukkan data-data postulat atas pembelaan tersebut.

Oleh karena itu, wajar jika saya yang tidak paham ekonomi tetapi mengerti karena pernah menjadi Kepala Bidang Statistik Pusat Data dan Informasi Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi bisa menilai dan mengkritisinya tulisan chatib.

Dalam tulisan Chatib ini menjelaskan Sri Mulyani mampu melakukan keberhasilan kebijakan reformasi fiskal sebagai sebuah prestasi. Namun kebijakan fiskal apa yang bisa dibanggakan justru memperlambat pertumbuhan ekonomi dan pengangguran dan kemiskinan meningkat tajam. Salah satu contoh Banyak kepala daerah yang justru stress karena penarikan kembali anggaran belanja negara yang sudah ditransfer menyebabkan pembangunan terganggu karena sebagian besar kabupaten dan kota di Indonesia hidup karena pengeluaran Pemerintah (government expenditure). Demikian pula tata kelola perpajakan yang kurang progresif termasuk kebijakan amnesti pajak yang tidak mampu mencapai target tiap tahun termasuk mendongkrak penerimaan negara dan memutus mata rantai manipulasi dan korupsi di lingkungan perpajakan dan pelaku usaha.

Selain itu kita belum melihat reformasi institusi kementerian keuangan. Banyak problem atau permasalahan yang muncul di negara kita ini. salah satunya karena faktor kelalaian pengaturan aset dan kekayaan negara. Problem soal pemilikan aset pusat ke daerah seringkali menyebabkan instabilitas sosial khususnya aset yang mau diperuntukkan bagi fasilitas umum dan masyarakat miskin. Hal ini kita lihat ketika terjadi kasus dan konflik lahan dimana2 khususnya daerah2 konsesi.

Belum lagi penggelapan pajak yang luar biasa di daerah konsesi yang sudah menjadi ibu kota Pemerintahan, bangunan milik swasta seperti mall dll. Salah satu contoh kasus Di kota madya Dumai yang sejak 1999 sampai sekarang pajak-pajaknya tidak pernah di bayar padahal rumah pengusaha dan tempat usaha, perusahan bahkan mall-mall besar sudah ada. Hal seperti ini hampir terjadi dimana2 seantero nusantara. Kementerian keuangan tidak mampu mengelola secara aset sehingga justru banyak lahan negara telah di konsesi pihak pihak swasta menjadi Terbengkalai dan merugikan negara.

Sementara soal kredibilitas kita semua sudah mengetahui tahu siapa Sri Mulyani dalam beberapa kasus yang membelit bangsa ini dan kasus lain yang menderanya maupun juga menjadi kaki tangan yang membesarkan IMF melalui utang piutang. Bayangkan pembayaran utang yang jatuh tempo 2018, Pemerintah harus mampu membayar senilai 800 Trilyun lebih. Nilai sebesar tersebut tidak hanya membayar utang pokok tetapi juga bayar bunga utang negara terhadap kreditor. Soal ini, Sri Mulyadi disenangi dan ikut membesarkan kreditor dan mencekik negara ini. Dugaan saya bahwa Kebijakan tersebut menjadi salah satu pertimbangan lembaga internasional untuk memberi penghargaan tersebut.

Karena itu apa yang ditulis oleh Chatib dalam tulisan diatas bahwa Sri Mulyani berprestasi terkait 1). pengaturan fiskal, 2). reformasi kementerian keuangan. 3). Kemampuan dan kredibilitas, integritasnya maka tidak ada yang bisa dibanggakan.

Malah sangat menyedihkan ko penulis tidak mampu menyampaikan hal2 yang bersifat konkrit dan realistis terkait kebijakan fiskalnya apa saja yang hebat, dan menyebutkan angka2 postulat terkait pencapaiannya, demikian pula reformasi kementerian keuangan. Dan juga penulis ko terlalu rendah sekali sekedar meminta waktu ke barak Obama dianggap sebagai sebuah prestasi besar Sri Mulyani.

Intinya penulis yang mantan menteri keuangan ini tidak mampu meyakinkan pembaca, tulisan ini lebih cenderung membanggakan tetapi menjilat juga karena beliau tidak pandai menulis secara tajam sehingga meyakinkan para pembaca. Jangankan orang yang paham bidang ekonomi, kami yang tidak paham ekonomi saja bisa protes atau kritik balik ke penulis dan Sri Mulyani. Jadi janganlah menjadi manusia yang penuh Dengan sandiwara diatas negeri ini.

(Natalius Pigai, Aktivis, mantan Kepala Bidang Statistik Pusat Data dan Informasi Kemenakertrans RI)

Komentar Anda

1 COMMENT

  1. “Kehadirannya di sini tidak seburuk itu, tapi saya merasa Korea Utara telah tampil di Olimpiade tanpa membayar,” kata Yoon Jun-young, 23, yang mengindikasikan bahwa negara tersebut belum membuat konsesi politik untuk mencerminkan keikutsertaannya dalam kompetisi internasional.

LEAVE A REPLY