Home EKONOMI JOKOWER DAN KAPITALISME

JOKOWER DAN KAPITALISME

0
SHARE
Radhar Tribaskoro

JOKOWER DAN KAPITALISME
Oleh: Radhar Tribaskoro

Banyak sekali jokower2 yang kehilangan hati nurani. Kehilangan kepedulian, sebodo amat jatuh korban asalkan kemauannya (projek2nya) bisa jalan. Misalnya ketika mereka disuguhi kenyataan betapa projek tol telah merugikan petani-petani yang tergusur, dengan dingin mereka bilang “Silakan protes, nanti lewat jalan alternatif saja ya.” Atau “Mereka tidak tahu diri, dengan adanya tol kan harga tanah akan naik. Mereka akan sejahtera.”

Persis seperti tuan mereka yang mencabuti subsidi untuk rakyat dan membiarkan buruh dan petani kecil dilindas oleh mesin kapitalisme. Yang paling mengenaskan adalah mereka beralasan bahwa semua itu harus dilakukan demi rakyat. Mereka bilang, rakyat tidak boleh dimanja. Rakyat jangan malas, harus kerja. Rakyat jangan dikasih ikan tapi dikasih kail.

Mereka yang mengatakan hal di atas mengabaikan kenyataan bahwa tidak ada negara yang tidak mensubsidi rakyatnya. Semua negara melakukannya, yaitu melalui program yang disebut kebijakan social protection. Negara-negara Eropa (OECD) telah mengalokasikan lebih dari 20% anggarannya untuk perlindungan sosial ini. Sementara itu di Asia dan negara-negara berpendapatan menengah ke bawah alokasi anggaran relatif lebih rendah. Indonesia mengalokasikan anggarannya untuk perlindungan sosial hanya sekitar 8%.

Menurut ADB (2012) Social Protection Indicator Indonesia termasuk yang terburuk di seluruh Asia, nilainya hanya 1,2 dengan rata-rata 3,2 di seluruh Asia. Dengan penarikan subsidi yang agresif dilakukan oleh rejim Jokowi, social protection di Indonesia saat ini diperkirakan jauh lebih buruk.

Mereka yang mengatakan bahwa orang miskin adalah pemalas dan tidak boleh dimanja adalah orang yang tidak punya perasaan, mereka mungkin orang makmur yang tidak pernah hidup susah atau orang dungu.

Mengapa dungu? Sebab, entah sudah berapa ribu penelitian menyimpulkan bahwa kemiskinan tidak ada hubungan dengan kemalasan. Kemiskinan adalah fenomena sosial. Bila dulu kemiskinan terkait dengan sistem sosial (sistem kasta) atau sistem politik (feodalisme), maka kemiskinan di jaman modern saat ini terkait dengan sistem kapitalisme (ekonomi).

Dalam sistem kapitalisme persaingan diletakkan sebagai norma utama yang mengalahkan norma-norma lain seperti keadilan (fairness), kebersamaan dan solidaritas. Akibatnya mereka yang unggul dalam persaingan akan memperoleh semua, sementara yang kalah akan kehilangan semua. Negara dalam sistem kapitalisme didesain untuk melayani para kapitalis. Negara paling jauh bersikap tidak peduli kalau bukan meremehkan kepada mereka yang kalah.

Setahu saya para bapak bangsa kita tidak bermaksud mendirikan negara kapitalis di Indonesia. Entahlah, jokower2 ini lahir dari rahim siapa?

Komentar Anda

LEAVE A REPLY