Home Nasional Hukum Meng-Indonesia-kan Monas

Meng-Indonesia-kan Monas

0
SHARE
ist

OLEH Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Monas adalah simbol. Tidak hanya untuk masyarakat Jakarta, tapi juga rakyat IIndonesia. Namanya saja Monumen Nasional, bukan Monumen Jakarta. Karena lokasinya di Jakarta, maka tata kelolanya menjadi tanggung jawab Gubernur Jakarta.

Bisa dimaklumi bila selama ini Monas menjadi tempat seremonial. Tempat orang Indonesia ngumpul. Ada yang demo, ada yang mengadakan kirab budaya dan kesenian, ada maulid, ada paskah, ada yang bagi-bagi sembako, ada yang doa bersama, ada juga yang sekedar jalan-jalan, melihat dari atas Monas view ibu kota yang sarat ketimpangan, antara si Ahong dan si Marhaen.

Monas menjadi simbol masyarakat Indonesia dengan berbagai ekspresi dan aspirasinya, termasuk ekspresi kebudayaan dan keberagamaan. Bahkan ekspresi kegalauan. Demo adalah salah satu ekspresi kegalauan itu. Dan memang begitulah semestinya. Sebab, Monas adalah icon ke-Indonesia-an. Harus mampu menampung setiap ekspresi dan aspirsi Indonesia.

Setelah Monas oleh gubernur Ahok sempat ditutup untuk ekspresi kebudayaan dan terutama keberagamaan, kini Anies-Sandi membukanya kembali. Sejak Anies-Sandi dilantik jadi Gubernur dan Wagub DKI, Monas seperti mendapatkan ruhnya dan hidup kembali.

Bahkan di bulan Ramadhan ini, Monas akan dijadikan tempat shalat tarawih massal. Tepatnya tanggal 26 mei 2018. Masyarakat DKI, bahkan juga yang tinggal di luar DKI, mulai antusias untuk hadir. Membayangkan jama’ah membludak seperti shalat tarawih di pelataran Masjid Haram Makkah dan Masjid Nabawi Madinah. Apalagi kalau yang jadi Imam adalah Syeikh Sudais, imam besar Masjid Haram.

Tarawih kok di Monas? Ada yang protes. Satu dua orang. Wajar. Tak mungkin manusia semua sama isi kepalanya. Ini bagian dari dinamika bernegara.

Kalau demo dan bagi-bagi sembako saja boleh di Monas, kenapa untuk shalat tarawih diprotes? Kan bisa di masjid? Sanggah orang yang protes. Tidakkah Masjid Istiqlal juga dekat? Betul. Doa dan dzikir juga bisa di Masjid Istiqlal. Kenapa MUI malah melakukannya di Monas. Kapan? Doa untuk Palestina.

Secara hukum, shalat tarawih di Monas itu boleh. Tak melanggar aturan syari’ah dan tak menabrak UU, Perda dan Pergub. Lalu, kenapa dipersoalkan? Lah wong boleh… Tuhan aja gak ngelarang. Sampai disini, dasar argumentasi Anes-Sandi bisa dimengerti.

Namun demikian, hadirnya protes itu tetap diperlukan. Ini akan bermanfaat untuk menyempurnakan berbagai pertimbangan, sekaligus kewaspadaan terhadap akibat yang bisa saja akan terjadi dan tidak selayaknya ada.

Sepanjang pertama, tidak melanggar aturan. Kedua, bermanfaat dan punya dampak positif bagi masyarakat. Ketiga, terhindar dari akibat destruktif yang merugikan masyarakat. Maka, apa yang dilakukan Gubernur-Wagub layak diapresiasi dan didukung. Tetap memberi ruang kritik agar setiap pilihan dan pelaksanaan kegiatan DKI tidak dis-oriented dan keluar dari kepatutan.

Lalu, apa manfaatnya tarawih di Monas? Pertama, tarawih adalah bagian dari sunah penduduk mayoritas Indonesia. Khusunya Jakarta. Ini akan menjadi syiar agama. Jika anda shalat tarawih di Masjid, tak ada media yang meliput. Tarawih di Monas, tidak hanya akan diliput media dalam negeri, tapi juga luar negeri. Riya’ dong? Maksudnya pencitraan.Tidak! Itu syiar. Bergantung niat. Kedua, memasyarakatkan tarawih, khususnya bagi umat Islam yang masih belum doyan tarawih. Meski hanya sekali dalam sebulan, tetapi gaungnya akan nempel di syaraf umat Islam. Khususnya yang tidak kenal shalat tarawih di sepanjang hidupnya. Ketiga, memperkuat wajah religiusitas Jakarta.

Tarawih di Monas bisa menjadi salah satu sarana Gubernur dan Wagub mengakomodasi aspirasi keumatan dari masyarakat muslim Jakarta. Selain aspirasi dari umat di luar Islam yang juga mendapat sarana yang sama, seperti Paskah beberapa waktu sebelumnya.

Ekspresi keberagamaan yang unik, tidakkah ini menjadi ciri khas masyarakat Indonesia? Sesuatu yang tak dimiliki negara lain. Bid’ah! Ah, itu diskursus klasik yang sudah selesai di negeri nusantara. Masyarakat Indonesia sangat toleran terhadap perbedaan. Kecuali hanya beberapa gelintir orang yang suka menggunakan ideologi dan agama untuk menyerang yang lain. Itupun, kabarnya ada harganya. Maksudnya, jualan ideologi dan agama? Nah, itu tahu.

Monas menampung setiap keunikan dan keragaman keberagamaan yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia yang religius. Dengan begitu, semua bentuk ekspresi keberagamaan di Monas sesungguhnya bagian dari upaya untuk Meng-Indonesia-kan Monas.

Jakarta, 21/5/2018

Komentar Anda

LEAVE A REPLY