Home Nasional Daerah KATA SAYA JUGA APA

KATA SAYA JUGA APA

0

KATA SAYA JUGA APA
Oleh: Irkham Fahmi

Sekitar satu tahun yang lalu saya mewanti-wanti umat Islam, agar tidak mudah terkesima dengan aktor-aktor politik yang banyak diharumkan oleh media, termasuk Tgb. Zainul Majdi Ma’arif, gubernur Nusa Tenggara Barat, ( NTB). Sebab, seringkali media tidak tulus mau memberikan yang terbaik untuk kita.

Nyatanya, justru saat itu saya dicela oleh sebagian umat Islam yang terpesona dengan gubernur NTB itu. Saya dianggap sebagai kurcaci yang hanya bisa koar-koar melalui dunia maya. Patut disayangkan, ternyata masih banyak di antara umat Islam yang tidak mau disadarkan nalar berpolitiknya. Mereka hanya bermodalkan semangat dalam berjuang, tanpa mau dibekali logika politik Islam.

Jangankan lingkup dunia Islam, lingkup nasional pun mereka masih banyak yang gagap mencernanya. Melihat hebohnya pemberitaan Tgb. Zainul Majdi di banyak media, mereka tidak mau belajar dari fenomena Jokowi lima tahun silam.

Mereka terpesona dengan gelar akademik Tgb. Zainul Majdi yang alumni universitas timur tengah, bahkan mereka terkesima dengan hafalan qur’annya. Mereka tidak mau tau apa yang ada dalam isi kepalanya. Masalah idealisme apa yang diusungnya mereka tidak memperdulikan itu.

Sebagai orang yang banyak bergelut dengan pemikiran dan analisa politik, bersama Hizbut Tahrir, saya coba membongkar berbagai topeng idealisme yang dipakai gubernur NTB itu. Saya mulai curiga dengan aktifitasnya yang banyak berkeliling keluar wilayah NTB, padahal saat itu beliau masih menjadi gubernur aktif di provinsinya.

Ini mengindikasikan bahwa gubernur NTB tersebut adalah boneka politik, layaknya Jokowi, yang bisa dikendalikan semau tuannya, beliau bukan orang yang benar-benar tulus mengabdi pada rakyatnya.

Kecurigaan saya semakin bertambah, manakala beliau terang-terangan menentang ide penegakan Khilafah yang diusung oleh Hizbut Tahrir. Sikapnya itu pada akhirnya banyak diviralkan oleh media-media liberal yang menjadi corong rezim penguasa.

Bagi saya itu adalah sinyal ketidak beresan dari sosok Tgb. Zainul Majdi Ma’arif saat itu. Dan kini, semuanya terbukti, beliau adalah salah seorang tokoh yang pragmatis, tak ubahnya tokoh-tokoh lainnya yang kini sudah duduk manis di istana negara. Beliau ternyata memuji-muji Jokowi di tengah penderitaan rakyat pasca dinaikannya harga bahan bakar minyak secara tiba-tiba.

Sekarang kita tinggal pilih, mau tetap menyanjung-nyanjung gubernur NTB itukah, atau merubah haluan nalar berpikir kita, bahwa benar apa yang dikatakan oleh teman-teman Hizbut Tahrir, tidak ada kawan dan lawan yang abadi dalam sistem demokrasi, yang ada hanyalah kepentingan pragmatis yang abadi.

Itulah sebabnya mengapa saya tidak mau terjebak pada dukung mendukung calon di setiap musim Pemilu maupun Pemilukada, saya sangat muak dengan demokrasi yang sudah banyak merusak nalar dan logika.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=516422348774955&id=100012215832101

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.