Home EKONOMI Melacak Keberadaan Mafia Migas di Koalisi Pemerintah

Melacak Keberadaan Mafia Migas di Koalisi Pemerintah

0
SHARE

Melacak Keberadaan Mafia Migas di Koalisi Pemerintah

Kehadiran Riza Chalid di acara kuliah umum Akademi Bela Negara Partai Nasdem hanya fenomena puncak gunung es. Jauh di kedalaman peristiwa itu ada banyak peristiwa lain yang mengejutkan. Riza Chalid bukan satu-satunya God Father di bisnis perminyakan. Jauh sebelum Petral dibubarkan, para raja kecil ini telah bercokol dan berpesta pora.

Dari satu rezim ke rezim yang lain, mafia-mafia minyak terus beradaptasi terhadap perubahan penguasa. Siapapun presidennya, mereka harus mendapat posisi penting. Di posisi strategis itu mereka bisa dengan leluasa memainkan peran.

Di jaman Orde Baru mereka merapat pada keluarga Cendana. Pada era SBY mereka berkonsolidasi di bawah komando iparnya SBY, juga kementerian terkait. Kini di pemerintahan Jokowi, para mafia mengendap-endap melalui partai pendukungnya.

Saya tidak akan membicarakan Luhut atau Paloh lebih jauh, tapi tentang raja kecil lain dari empat serangkai pemain minyak. Orang-orang ini adalah pelaku langsung ketika Petral masih berjaya. Ada kemungkinan mereka masih bekerja dalam bentuk lain, karena Petral telah bubar dan regulasi semakin ketat.

Mengutip investigasi Tempo, ada empat nama yang sejak lama menjadi pemasok minyak bagi Pertamina. Selain berkantor di Singapura, keempat jagoan ini juga memiliki kantor di Indonesia. Nama-nama mereka juga sempat disebut dalam Panama Papers.

Yang pertama dan yang paling terkenal tentu saja Riza Chalid. Tokoh yang jika sudah mengatur urusan, semua enak, kata Setya Novanto. Riza Chalid ini bisnisman atas angin. Sejak Soeharto masih gagah perkasa, mainannya pesawat tempur. Bisnisnya meluas dari hulu ke hilir. Termasuk Kidzania yang fenomenal itu. Laki-laki keturunan Arab ini benar-benar orang kuat, khususnya di perminyakan.

Namanya selama ini hanya jadi desas-desus. Ia bergerak seperti hantu. Halus tak terdeteksi radar. Baru ketika rekaman Papa Minta Saham terbuka ke publik, orang baru tahu jaringan yang dibangun Riza sedemikian dalam. Nyaris semua orang penting di masa lalu telibat kongsi dengannya. Konon ia adalah pemasok setengah dari minyak yang dibutuhkan Pertamina.

Raja kecil kedua adalah Irawan Prakoso. Secara resmi dia adalah Managing Director Global Energy Resource Pte Ltd. (Perusahaan Riza Chalid). Dia juga mengendalikan PT Pradita Parahita Utama sebagai Direktur dan pemegang saham. Perusahaan ini secara ajaib memiliki alamat yang sama dengan perusahaan Riza Chalid dan beberapa perusahaan lain. Baik di Singapura maupun di Jakarta (Buncit Raya 49).

Keberadaan Irawan tak begitu mencolok. Seperti dalam investigasi yang dilakukan Tempo itu, Irawan banyak berkelit dan pura-pura tak tahu. Tapi dari beberapa bukti yang ditemukan, dia ini juga sosok penting dalam bisnis perminyakan. Sama seperti Riza Chalid sebelum namanya terbongkar, informasi tentang sepak terjangnya sangat minim.

Raja kecil ketiga adalah Schiller Marganda Napitupulu. Secara resmi dia adalah direktur PT Mitra Integra Solusindo. Namun dalam sengkarut minyak Zatapi yang kasus hukumnya berakhir tak jelas itu, ia diketahui sebagai direktur Gold Manor International. Sementara Gold Manor adalah anak perusahaan Global Energy milik Riza Chalid.

Jadi terlihat jelas di sini, sama seperti Irawan Prakoso, Schiller adalah jaringan Riza Chalid. Mereka yang mengoperasikan jalannya bisnis perminyakan sesuai perusahaan yang mereka kendalikan. Global Energy adalah perusahaan holding yang membawahi setidaknya lima anak perusahaan.

Selanjutnya raja kecil keempat dan paling penting adalah Johnny G. Plate. Tokoh inilah yang akan menjawab teka-teki kehadiran Riza di acara Nasdem tempo hari. Johnny tercatat sebagai Direktur PT Aryan Indonesia, Direktur PT Mandosawu Putratama Sakti, Direktur PT Mitra Integra Solusindo (pemegang saham).

Sama halnya dengan dua nama sebelumnya, orang ini juga terkait dengan Global Energy Resource. Di PT Aryan, ia berada satu atap dengan Riza Chalid yang berkedudukan sebagai Komisaris. Dan yang mengejutkan, Johnny ini adalah kader Partai Nasdem.

Johnny terpilih sebagai anggota DPR dari dapil NTT pada tahun 2014. Ia berasal dari kota kecil Ruteng, Kabupaten Manggarai. Jejak bisnisnya sangat panjang. Jaringannya juga sangat luas. Johnny adalah alasan terkuat dari kembalinya Riza Chalid dalam peredaran, setelah sebelumnya menghilang dari kejaran aparat.

Kaitan Nasdem dengan Riza Chalid jauh lebih erat yang dibayangkan oleh banyak orang. Jangan lupa pula Jaksa Agung yang dulu koar-koar mau menangkap Riza Chalid juga berasal dari Nasdem, yaitu HM Prasetyo. Jadi yang kita lihat selama ini hanya gimmick. Secara tidak langsung, Nasdem adalah rumah baru bagi para raja kecil itu bernaung.

Ini tamparan yang sangat keras bagi pemerintahan Jokowi. Selama ini Jokowi sangat keras pada para mafia migas. Namun ternyata salah satu partai pendukungnya melindungi mereka. Loyalitas Nasdem karena adanya maunya.

Terkait dengan kehadiran Riza Chalid di acara Partai Nasdem, saya awalnya menduga, ia diundang karena dekat dengan Johnny. Ternyata menurut keterangan Ketua DPP Nasdem, Taufik Basari, Ketua Umum Partai Nasdem sendiri yang mengundangnya. Artinya, Surya Paloh secara sadar mengundang Oil God Fathers itu ke rumahnya.

Pertanyaan sederhana untuk Bang Brewok, koalisi model apa yang hendak dibangun Nasdem, jika berkaitan erat dengan para mafia migas? Bahkan menurut rumor, Paloh juga berkepentingan dengan tambang Freeport.

Saya pikir tak perlu bahasa lugas lagi, selama ini mata orang-orang tertuju pada Pak Wakil yang bergerak dalam senyap. Mereka lupa pada koalisi mati-matian bernama Nasional Demokrat. Yang sampai memberi dukungan over dengan mengecat pesawat terbangnya dengan tulisan, “Nasdem for Jokowi.” Terhadap bisnisman yang juga dibesarkan oleh Orde Baru.

Tidak ada alasan untuk berkompromi dengan maling. Keberadaan Nasdem dalam koalisi pemerintahan harus dicurigai. Fakta-fakta mencengangkan di atas cukup sebagai bukti permulaan. Nasdem tulus atau bulus?

Kajitow Elkayeni

Komentar Anda

LEAVE A REPLY