Home Nasional Pemimpin Harus Berorientasi Kemasa Depan

Pemimpin Harus Berorientasi Kemasa Depan

0
SHARE

POROSNEWS.COM – Memilih Pemimpin Bukan Dilihat Dari Profilnya Saja. Peran utama seorang pemimpin adalah memperkirakan perkembangan masa depan dan merumuskan kebijakan untuk menjemput masa depan itu. Dengan kata lain, pemimpin dan kepemimpinan harus berorientasi ke masa depan, dan merupakan unsur dinamis dalam suatu kelompok, masyarakat, bangsa dan negara.

Pengembangan budaya di Indonesia jauh tertinggal ketimbang bidang-bidang lainnya, seperti ekonomi maupun politik. Padahal, tanpa pembangunan budaya, upaya memajukan sebuah negara akan terasa lebih sulit.

“Budaya merupakan kebutuhan dasar masyarakat dan bekal negara untuk menjadi negara maju dan bersaing dikancah global,” kata Ketua FKPPI sekaligus Ketua Aliansi Kebangsaan, dan Pembina YSNB Pontjo Sutowo usai diskusi “Satukan Hati untuk Indonesia” di JCC Jakarta.

Pengaruh globalisasi sudah merasuki bangsa Indonesia dari berbagai sektor. Karena itu, kesadaran dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara melalui budaya harus terus digugah. Tapi bukan hanya pada masalah ekspresi budaya, melainkan lebih dari itu.

“Bidang budaya di Indonesia termasuk ketinggalan ketimbang bidang-bidang lain. Keberhasilan suatu negara ditentukan percepatan pembangunan budaya. Pembangunan di bidang politik dan ekonomi tidak akan maju jika pengembangan budaya tidak maju,” tegas Pontjo.

Ada 5 nilai utama yang keseluruhannya merupakan Nilai Keindonesiaan. Lima nilai utama yang dimaksud yaitu Kepribadian Pancasila, Kemerdekaan Indonesia, Nasionalisme, Wawasan Nusantara, Ilmu Pengetahuan, dan Amanah.

Nilai Budaya dan Keindonesiaan Harus Terus Ditanamkan. Nilai budaya dan Keindonesiaan penting untuk memperkokoh fondasi pembangunan nasional. Keberpihakan pada kepentingan Nasional bisa muncul jika tertanam dengan kuat nilai kebangsaan dan Keindonesiaan yang berazaskan Pancasila.

“Kita punya masalah besar dengan nilai-nilai kebudayaan, seolah-olah ini bisa ada dengan sendirinya. Padahal harus dirancang. Nilai budaya tidak bisa muncul dengan sendirinya. Karenanya, tergerusnya budaya harus diantisipasi dengan penguatan kembali nilai budaya Bangsa dan Keindonesiaan.

Menurut Poncp, teori pasar bebas menguntungkan hanya bagi mereka yang mampu. Kita tidak bisa membuka dengan seluas-luasnya atas nama pasar bebas, tapi kita juga tidak boleh menutup diri dari bangsa lain. Intinya adalah kepentingan nasional (national interest) harus terjaga.

Ponco prihatin, seolah-olah national interest tidak penting. Keberpihakan pada kepentingan Nasional bisa muncul jika tertanam dengan kuat nilai kebangsaan dan Keindonesiaan yang berazaskan Pancasila. Namun demikian, Pontjo tidak sependapat dengan prinsip Nasionalisasi jika diartikan sebagai penguasaan aset/perusahaan asing secara paksa yang notabene sah secara hukum. “Nasionalisasi harus dipahami dengan benar, tidak bisa diterjemahkan dengan mengambil milik orang lain,” ujar Pontjo.

Dia mengaku prihatin bahwa saat ini masyarakat mengalami banyak perubahan sebab nilai-nilai global telah masuk ke semua aspek kehidupan dan semakin memarjinalkan nilai lokal yang sesungguhnya sarat dengan muatan kebajikan (local wisdom). Edy/prs

Komentar Anda

LEAVE A REPLY