Home Nasional Politik Bersihkan Istana Presiden

Bersihkan Istana Presiden

0
SHARE
Begitu sulitkah kita ini memberikan pujian kepada orang yang berbeda partai, beda koalisi, beda faham, beda panutan?
Kesuksekan penyelenggaraan Asian Games pun tak luput dari cibiran disertai tudingan bahwa pemerintah  kurang peka dengan tragedi gempa Lombok. Tidak adil membandingkan kedua peristiwa itu secara apple to apple.
Bencana Lombok adalah kuasa Tuhan, tidak ada seorang pun yang bisa mengetahui waktunya secara pasti, dibantu alat deteksi yang paling canggih sekalipun. Sementara Indonesia sebagai tuan  rumah Asian Games sudah dirancang jauh hari sebelumnya. Kok pemerintah dianggap kurang peduli terhadap bencana Lombok  dikarenakan semaraknya pembukaan Asian Games yang melahirkan decak kagum semua orang.
Seharusnya seluruh rakyat Indonesia bangga dengan suksesnya Asian Games 2018 yang baru saja usai, dengan kualitas penyelenggaraan menjadi bahan pujian di seluruh pelosok dunia. Dalam prestasi perolehan medali pun, baru di era Presiden Joko Widodo sekarang inilah Indonesia berada di 4 besar, padahal targetnya hanya masuk 10 besar.
Tanpa mengurasi rasa ta’zim saya kepada Presiden Joko Widodo, saya mengusulkan bahwa kali ini dengan tegas dan seketika mencopot Mochtar Ali Ngabalin sebagai Tenaga Ahli Utama Kepresidenan. Sungguh sangat paradok Presiden Joko Widodo yang lembut, gemulai dan bicaranya sangat hati-hati, namun memelihara Ngabalin; bahkan menempatkannya sebagai Juru Bicara Istana. Ini bukan teladan yang baik bagi kami kaum milenial yang tertarik memasuki dunia politik, Ngabalin tidak pantas untuk sebuah jabatan yang terhormat karena moral dan kelakuannya tidak layak dicontoh. Dia boleh pintar, dia boleh hapal pasal-pasal hukum, dia boleh punya track record loncat-loncat partai politik, dia boleh tampil dengan ayat Qur’an atau hadist, tapi betapa bahayanya kalau menjadi runutan para politisi muda. Politik kita yang sudah buruk rupa ini akan semakin bopeng dan menakutkan.
Saya heran kenapa politisi, khususnya politisi muda yang berada di partai pendukung pemerintah; nyaman duduk berdampingan satu kubu dengan Ngabalin dalam acara diskusi atau debat. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kalau benar ingin merepresentasikan generasi muda, seharusnya berteriak paling keras menyuarakan Ngabalin segera ditarik mundur dan disimpan dilaci terkunci. Atau apakah PSI nyaman berjuang bersamanya? Apakah benar partai anak muda seleranya serendah itu..? Apakah PSI bisa berjuang bersama dengan orang yang menjengkelkan yang melahirkan kegeraman kolektif  dihati masyarakat..?!
Bapak Presiden apakah masih ingin bukti bahwa gerakan #2019GantiPresiden semakin membesar dan merajalela kemana-mana jika meredamnya dengan gaya pandir Ngabalin? Akan banyak orang mengukur selera Presiden Indonesia dalam memilih orang kepercayaan dengan sosok Ngabalin. Presiden Indonesia memberikan kedudukan tinggi di tempat paling terhormat, di Istana; kepada seseorang yang perilakunya bak aktor komedi kasar yang memunguti bahan dialog dari sobekan koran kuning di tempat sampah.
Bapak Presiden Joko Widodo, SAYA BUKAN pendukung Bapak..!
Sebaliknya, saya pemuda Indonesia yang sedang berjuang dibaris terdepan untuk #2019GantiPresiden, tapi saya tidak mau Bapak kelak kalah gara-gara Ali Nagabalin. Kami harus menang dengan gentleman, mengalahkan Bapak secara terhormat sehingga kemenangan kami sempurna, tidak menyakitkan; dalam suasana helatan politik yang fun dan menyenangkan. Tidak ada caci maki, tidak ada biang kerok yang mengotori kompetisi dengan ucapan-ucapan tak terkendali, memprovokasi dan sarkastis.
Bersihkan Istana Presiden dari orang-orang munafik yang menunjuk lawan curi start sementara dirinya yang dibayar dengan uang rakyat, saban hari sibuk berkampanye memuji Presiden Joko Widodo. Suruh mereka pergi ke tempat yang layak untuknya, bekali dengan sisa medali dari Inasgoc sebagai atlet pesilat lidah.
Maulidan Isbar
Ketua Umum #KamiBerani
Kaum Milenial Bersama Sandi

Komentar Anda

LEAVE A REPLY