Home Kolom Politik, Media dan Kekuasaan

Politik, Media dan Kekuasaan

0
SHARE
Aendra MEDITA

POROSNEWS.COM – Jelang Tahun 2019 politik makin hangat, semoga hangat terus saja, jangan panas karena bikin gaduh. Cukup hangat saja, Kopi atau teh saja jika hangat snagat sedap. Kali ini politik makin terlihat dari kacamata besar terutama dalam ruang media dan kekuasaan. Dimana ruang demokrasi saat ini?

Jika kita mengutip konteks politik negara ala Aristoteles negara itu merupakan jenjang tertinggi dalam konteks hubungan kemanusiaan antar warga negara, maka, ia memiliki kekuasaan yang sangat absolut. Negara adalah lembaga politik yang paling berdaulat, meski pasti tetap terbatasi.

Jika mengungkap ini sangatlah jelas dalam konteks kekinian di saat ini jelas Pilpres 2019, adanya upaya mencari negara ideal sangatlah sulit, meski kita juga jangan pesimis.

Sebab apa sulit mencari yang ideal saat ini?

Pertama, media saat ini makin berpihak tak duduk dalam porsi yang utuh dalam demokrasi. Media saat ini menjadi partisan. Media saat ini bahkan menjadi alat politik dari kekuasaan.

Padahal harusnya media berdiri tegap sebagai penjaga demokrasi ada dalam ruang Demokrasi. Media adalah kekuatan demokrasi bukan mala media seolah terkungkung dan berkongsi dalam kekuasaan.

Pendapat Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Abdul Manan kepada penulis mengatakan sikap partisan media akan merusak citranya dalam jangka panjang. Dan Itu juga tidak bagus bagi bisnisnya.

Menurutnya, keberadaan pebisnis media di salah satu kubu pada pemilu mengancam independensi perusahaannya, dan itu yang terjadi empat tahun lalu. “Karena pemilik pengaruhnya cukup besar ke kebijakan media. Jadi kalau makin banyak media terlibat di politik praktis akan otomatis membahayakan independensi media bukan hanya saja pada medianya namun juga yang dia punya,” kata Manan.

Ditambahkan Manan pengaruh pemilik media di Indonesia cukup besar ke ruang redaksi. Keberpihakan pemilik media ke kekuatan politik tertentu lantas hampir dipastikan berdampak pada posisi politik redaksi.

“Independensi media sebenarnya bisa dijaga jika wartawan berani memastikan tak ada pengaruh yang dibawa bosnya pada ruang redaksi,”bebernya.

Saat ini ada sejumlah konglomerat Media  masuk dalam ruang kekuasan. AJI kata Manan pun mengingatkan pemilik media seperti Thohir dan Harry Tanoe agar tidak memengaruhi hak publik mendapat informasi yang berimbang dan akurat. “Jangan sampai hak publik untuk mendapat berita yang benar, akurat, cover both side, itu tidak terjadi karena kepentingan politik pemiliknya. Kami berharap owner jangan mencampuri urusan newsroom,” tegasnya.

Pertanyaan selanjutnya apakah jika tak independen media akan hancur? Atau demokrasi kebebasan pers yang berpihak makin menyurutkan nilai demokrasi kebebasan?

Hal senada disampaikan Analis Politik Komunikasi  Media dari Pusat Kajian Komunikasi Politik Indonesia (PKKPI) Gede M Soekawati yang menilai saat ini memang terlalu parah pemilik media seperti melacurkan diri dalam politik sehingga ini mempengaruhi independensi media. “Saya mengira karena mungkin cari selamat juga media saat ini sehingga mengorbankan nilai demokrasi media yang harusnya independen menjadi berkolaborasi dengan kekuasaan,” Gede yang juga Dosen Universitas Pancasila Jakarta ini.

Ditambahkan Gede bahwa politik media dan kekuasan saat ini seolah sudah gelap sehingga nalar demokrasi ditabrak dan independensi dihempaskan begitu saja. “Kami di PKKPI melihat ini keprihatinan yang dalam dan bisa juga dikatakan preseden bagi kondisi media saat ini,” tegas Kandidat Doktor Komunikasi Politik di Universitas Padjajaran ini.

Jadi jika Aristoteles mengatakan negara dibentuk hanya untuk berkepentingan dalam mensejahterakan seluruh warga negaranya. Dan jJika negara tidak mampu membentuk warga negaranya menjadi makmur, maka, negara berarti tidak hadir menjaga kemakmuran rakyatnya, dan itu berarti negara tidak ada.

Nah lantas jika Media yang harusnya independen hadir mewakiti suara-suara rakyat, namun kolaborasi dengan kekuasaan akan seperti apa nantinya?

AENDRA MEDITA, wartawan

Komentar Anda

LEAVE A REPLY