Home BUDAYA Prof. Dr. Endang Caturwati: Inspirasi yang Tak Terduga

Prof. Dr. Endang Caturwati: Inspirasi yang Tak Terduga

0

endang4POROSNEWS.COM – Siapa sangka, di tengah kesibukannya sebagai seorang birokrat, Prof. Dr. Endang Caturwati, SST masih menelurkan karya inspiratif yang tertuang dalam tembang atau lagu. Wanita yang puluhan tahun menggeluti dunia seni tari membuatnya lebih mencintai budaya Indonesia. Dengan keragaman kultur, Endang Caturwati mengakui kekayaan seni tari Nusantara.

Dijumpai di sela-sela kesibukannya Rabu, (26/2), perempuan kelahiran Bandung, 25 Desember 1956 itu mengakui jika sejak bekerja di Jakarta, dirinya kerap mendapat inspirasi yang tak terduga dari apa yang dialami sehingga membuatnya terlintas untuk ia tuangkan dalam bait-bait lagu.

Ternyata itu bukan sekedar basa-basi semata, ia membeberkan empat lagu dan dua tarian ciptaannya sendiri yang ia nyanyikan dan ia perlihatkan gaya tariannya di depan kami.

Keempat lagu tersebut adalah berjudulKanyaah Indung BapakKatineung,Angan-angan dan Kasih Tak Bertepi. Sementara dua tarian itu ia beri namaKembang Ligar dan Kelangan. Tak berhenti di situ, ternyata karyanya itu memiliki makna filosofis yang cukup dalam dan wanita yang juga Pembina Utama dan Guru Besar Bidang Pengkajian Seni Pertunjukan di STSI Bandung itu membeberkannya.

“Saya ciptakan selama di Jakarta dalam keadaan macet atau pesawat dilay : lagu Sunda berlaras Pelog Sorog Kanyaah Indung Bapak dan Katineung. Dalam irama wals dan jazz :Angan-angan dan Kasih tak Bertepi. Semua lagu tarian saya intinya bertujuan dakwah paling tidak untuk diri saya, anak saya dan cucu saya,”kata putri dari seniman karawitan Jawa, Barjo Herman itu.

“Kasih Tak Bertepi: betapa besarnya kasih Tuhan kepada umatnya. Kanyaah Indung Bapak: kedua orang tua kita menjadikan kita hidup, kasihnya tiada bandingannya,”tambah perempuan berparas ayu menawan ini.

“Tarian karya terbaru: Kelangan dan Kembang Ligar. Kelangan itu menggambarkan manusia yang kehilangan  jati diri, tetapi kemudian sadar setelah tahu nilai-nilai luhur bangsa  dan agama dipahami. Kembang ligar artinya manusia ibarat  bunga, kuncup mekar dan layu. Ketika mekar harus saling mengharumi sesama, jangan congkak , karena akhirnya akan layu tidak abadi,”urai Endang sambil sesekali memperlihatkan kelenturan tubuhnya menari.

endang2Kami pun bertanya lebih dalam perihal kesibukkanya sebagai Pembina Utama dan Guru Besar Bidang Pengkajian Seni Pertunjukan di STSI Bandung dan juga Direktur Pembinaan Kesenian dan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kenapa bisa awalnya seorang penari tapi kemudian bisa jadi birokrat juga? Dengan tenang Endang pun menjawab.

“Kalau saya ditanya kenapa penari bisa jadi seorang birokrat, ya karena saya sekolah dan berorganisasi,”jawabnya.

Endang pun tidak menampik jika dirinya kerap disibukkan dengan pekerjaannya sebagai seorang birokrat. Kendati demikian, kesibukan itu berjalan seiring dengan kegemarannya dalam seni tari dan tembang.

Sebab, perempuan berkacamata itu menjelaskan setiap gerakan tari tradisional itu memiliki nilai tersendiri dalam kehidupan.

Rekam jejak ibu dua ini pun patut diacungi jempol.  Selain banyak mempublikasikan karya ilmiah di berbagai jurnal,  dan berkesenian, Endang juga sempat menerima beberapa penghargaan seperti sebagai Dosen Berprestasi Tingkat I STSI Bandung (2006), Manajemen Jurnal Teraktreditasi Dikti Instrumen 2006 (Ketua Penyunting Jurnal Teraktreditasi Panggung, 2007

Kini, dia menjabat sebagai ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung periode 2012-2016. Sebagai orang nomor satu di lembaga pencetak seniman itu, Endang mengaku ingin memajukan almamaternya.

“Jadi ulah epes me’er (jangan kalah sebelum perang ). Saya ingin lulusan seni tari nggak mudah menyerah dengan persaingan global sekarang,”katanya.(PNC/AGS-AMD)

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.