Home BUDAYA Efiq Zulfiqar Ciptakan Komposisi Musik dengan Penyakit Ginjal

Efiq Zulfiqar Ciptakan Komposisi Musik dengan Penyakit Ginjal

0

POROSNEWS.COM – Musisi muda Indonesia ini kini tinggal di Australia, namun kerinduannya akan bikin konser dan reuni di tanak air sangat diimpikan, bahkan musisi yang pernah malang melintang bersama Krakatu ini sangat ingin melakukan reuni dengan musisi tanah air.
Tokoh mudan dan musisi saat ini sempat memberikan waktunya untuk diwawancarai POROSNEWS.COM berikut adalah wawancara lengkap dengan musisi Efiq Zulfiqar pria kelahiran 23 Mei 1970 ini yang merupakan lulusan ASTI/STSI dan juga STSI Depasar ini yang dihimpun oleh wartawan kami Aendra Medita

Bisa ceritakan pengalaman Anda dari awal sampai kini?

Pada dasarnya dari kecil saya memang sangat menyukai seni apapun bentuknya, apakah itu seni musik, tari, teater atau senirupa. Setelah lulus SMA tahun 1989, saya memutuskan untuk belajar di ASTI/STSI Bandung jurusan Karawitan. Dan selama disanalah saya mendapat banyak sekali pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga. Setelah menyelesaikan diploma di ASTI Bandung, meskipun banyak pelajaran dan pengalaman yang saya dapatkan. Ternyata saya merasa, masih belum cukup, karena saya masih ingin mempelajari lebih mendalam lagi. Kemudian saya melanjutkan study ke STSI Denpasar, hingga lulus sarjana seni tahun 1997. 

Selama di Indonesia, saya pernah bergabung dengan beberapa group musik seperti ; Idea, Zithermania, Jugala, Sambasunda & Krakatau. Saya juga berkolaborasi dengan beberapa musisi seperti ; (Alm) Harry Roesly, Doel Sumbang, Sawung Jabo dll. Selain itu saya juga aktif dalam group teater sebagai musik ilustrator seperti ; Teater Payung Hitam, STB (Studiklub Teater Bandung), Teater SAE dll.
Pada waktu bergabung bersama Krakatau, saat itulah pengalaman pertama saya ke luar negeri. Negara pertama yang dikunjungi adalah Australia. Waktu itu kita pentas di Manly Jazz Festival – Sydney tahun 1997. Kemudian tahun 2000 di Cannes Perancis dan Tour lagi ke Australia di tahun yang sama. Dan meraih sukses dengan sambutan yang sangat antusias dari penonton, baik itu selama di Perancis maupun di Australia. Konsep Krakatau yang unik, tidak hanya dari segi komposisi musiknya, akan tetapi scale atau laras yang digunakan bervariasi. Dan kita sangat bangga sekali karena Krakatau memasukan instrument tradisional Sunda dan memainkan laras yang paling orsinil dari Indonesia yaitu Pelog, Madenda & Salendro. Terutama untuk laras salendro, tidak semua nada bisa dimainkan dengan western istrument. Maka diperlukan system Micro Tuning untuk menyesuaikannya dengan gamelan. Penggabungan antara dua warna tradisi dan modern itu, menjadikan musik Krakatau sebagai ikon bagi para musisi. Baik itu di Indonesia maupun di luar negeri pada saat itu.

Sangat Menarik ya pengalaman Anda?

Ya…lumayan setelah sekian lama bergabung dengan Krakatau, pada waktu itu saya aktif juga di Sambasunda dan Jugala All Stars. Dan melakukan serangkaian tour ke negara-negara Eropa, Malaysia, Taiwan, bahkan Australia & New Zealand. Dan cukup mendapat sambutan penonton yang sangat antusias, dari tiap negara yang dikunjungi. Sambasunda sendiri adalah sebuah group world music dari Bandung yang dipimpin oleh Ismet Ruchimat. Group ini terdiri dari beberapa musisi muda yang memiliki talenta yang cukup diperhitungkan. Sebagian dari musisinya adalah mahasiswa dan alumni STSI Bandung. Saya pribadi banyak belajar dari Sambasunda terutama Kang Ismet Ruchimat, yang sangat mendorong dan memberikan support kepada saya sebagai seorang musisi dan komposer. Unsur tradisional dalam group Sambasunda sangat kental, akan tetapi sarat juga dengan nuansa baru dan kontemporer. Sehingga komposisi musik yang dibawakan menjadi lebih dinamis dan berkarakter, baik itu instrumental, vokal maupun pengiring tarian.
Sungguh pengalaman yang sangat berharga buat saya, karena disamping bisa berekspresi sebagai musisi, saya juga bisa mengapresiasi musik-musik dari berbagai negara selama mengikuti tour. Dan saya juga bisa menuangkan ide-ide dengan menulis komposisi musik atau lagu yang dibutuhkan dalam group tersebut. Beberapa komposisi yang saya tulis diantaranya; Mandeh Lah Ondeh, Sweet Talking With Oling, Sisidueun, Kool n’ Trunk, Janari Kecil, Bentol Soca, Ronggeng Imut dll.

Anda memutuskan tinggal di Australia sebagai karier atau akan menetap?

Akhir tahun 2005, saya hijrah ke Australia. Dan selama di Australia, saya juga berkolaborasi dengan beberapa group band, komunitas gamelan dan musisi – musisi Australia diantaranya ; Swara Naga, Langen Sari, Brisbane Balinese Community (Puspa Wresti), Gamelan Giri Jaya, Songket, Couch Funk, Garis, Gongbaby, Musica Viva Australia (Makukuhan), GAPP Project, Ron Reeves, Deva Permana, Margaret Bradley, Suara Indonesia Dance, Tarshito, Francis Gillfeder, Kari, Kym Hall, Ravi Singh, Kitch, Tjupurru dll.
Selama berkolaborasi, saya banyak memainkan alat-alat musik tradisional sambil sedikit demi sedikit memperkenalkannya kepada musisi Australia yang belum tahu. Apalagi dibarengi juga dengan melakukan workshop gamelan dan konser ke beberapa tempat di Australia. Sebelum saya menetap di Australia, saya sendiri sering diundang sebagai Musician in Resident untuk memberikan workshop karawitan di Sydney dan Brisbane. Saya juga mencoba membuat kreasi dan inovasi baru dari alat musik tradisional yang digabungkan dengan alat musik barat seperti “Kendrum”. Kendrum adalah penggabungan antara Kendang Sunda dan drumkit. Unsur instrument yang saya gabungkan terdiri dari rebana, dog-dog, snare drum dan simbal. Adapun ritme yang dimainkan adalah penggabungan dari motif kendang dengan motif drum atau perkusi, sehingga menghasilkan suara yang cukup unik. Saya juga membuat konsep solo performance dengan latar belakang musik yang diproses di komputer. Komposisinya pun lebih kontemporer, tapi unsur-unsur tradisinya masih ada didalamnya meskipun berbentuk sampling. Biasanya komposisi gamelan dimainkan dengan birama 4/4, saya mencoba bereksplorasi membuat komposisi gamelan dengan birama 7/8, 5/8, 31/16 dll. Saya menjalani dulu perjalanan ini. Melihat setiap group atau musisi yang pernah berkolaborasi selama di Australia, bagi saya pribadi memiliki kesan tersendiri.

Group musik apa saja yang Anda kolaborasi di Australia?

“Swara Naga” adalah sebuah group gamelan dari University Of New England – Armidale yang dipimpin oleh DR David Goldsworthy. Beliau adalah dosen etnomusikologi yang memprakarsai gamelan Degung orkestra di kampus tersebut. Dan hampir semua anggotanya adalah mahasiswa didikannya. Disamping mereka bisa menguasai lagu – lagu Degung tradisi, mereka juga bisa memainkan gamelan kontemporer. Dan itu mempermudah saya dalam memberikan workshop pada mereka.
“Langen Sari” Adalah komunitas gamelan yang berbasis di Byron Bay. Mereka sangat antusias dan cepat dalam mempelajari gamelan. Disamping memberikan workshop gamelan, saya memberikan workshop suling dan kendang juga pada mereka. Dan kita melakukan beberapa konser di Byron Bay.

“Puspa Wresti” adalah sebuah komunitas gamelan Bali yang berbasis di Brisbane. Komunitas ini sangat besar dan aktif dalam melakukan latihan serta konser di beberapa festival diantaranya Woodford Festival, Brisbane Multicultural Festival dan beberapa konser lainnya. Di group ini saya bermain kendang, suling dan gamelan.
“Giri Jaya” adalah komunitas gamelan Bali yang berbasis di Toowoomba. Anggota group ini sebagian adalah musisi yang telah lama belajar gamelan langsung dari Bali. Mereka sangat mahir dalam memainkan gamelan dan ada dua orang Australia yang sangat mahir dalam memainkan gender wayang juga. Mereka sangat aktif dalam melakukan konser seperti Woodford Festival, Multicultural Festival, Bellingen Festival dan beberapa pertunjukan lainnya. Di group ini saya main kendang dan suling. Beberapa tahun yang lalu kita pernah menggarap sendratari “Shakuntala”.

“Couch Funk” adalah group fusion band dari Bayron Bay yang menggabungkan funk, electronic, dance & ethnik. Group ini sangat unik, dimana setiap konsernya selalu ada sofa (couch) ditengah panggungnya. Sehingga baik musisi maupun penonton merasakan suasana akrab dan bebas untuk berekspresi.

“Garis” & “Gongbaby” adalah group ethnik jazz fusion yang berbasis di Sydney. Group ini aktif bereksplorasi dengan menggabungkan karawitan tradisi dengan jazz, rock, hip-hop maupun elektronik.

“Makukuhan” adalah group gamelan trio yang khusus menampilkan kesenian tradisional untuk anak-anak sekolah di seluruh Australia secara interaktif mulai dari Sunda, Jawa tengah, Jawa timur & Bali. Group ini dikelola oleh Musica Viva, di bawah naungan Department of Education & Training Australia.

“Tjupurru” adalah seorang musisi yang memainkan Didjeribone (gabungan antara didjeridoo dan trombone). Seperti diketahui bahwa didjeridoo adalah alat musik tradisional suku Aborigin, yang menghasilkan bunyi atonal. Namun didjeribone lebih konvensional karena bisa merubah nada sesuai yang diinginkan dengan teknik seperti memainkan trombone.

Mereka semua inovatif ya?

Ya banyak inovasi alat misalnya Tjupurru juga menggunakan teknologi yang disebut “Face Base”, atau head set microphone yang dimasukkan ke dalam mulut, ditambah dengan beberapa macam efek gitar dan bass, sehingga bunyi-bunyi hasil tiupan didjeridoo itu bervariasi dan sangat unik. Karena dia sebagai solois, maka disetiap konsernya dia menggunakan loop system. Dan saya memperkayainya dengan memainkan suling sunda, tarompet penca, silver flute dan kendang beatbox.
Dan masih banyak lagi group atau musisi yang pernah bekolaborasi dengan saya yang belum sempat saya paparkan. Tetapi pada dasarnya, apa yang saya lakukan selama di Australia adalah bersilaturahmi dan menjembatani hubungan baik dengan masyarakat Australia lewat seni dan budaya. Sesuai dengan ilmu yang saya dapat selama mengenyam pendidikan di STSI Bandung dan ISI Denpasar.
Anda saat ini dikenal dunia sebagai musisi. Anda orang Hebat dan apakah ada sebuah hal yang belum tercapai?

Sebetulnya saya sendiri tidak merasa hebat, karena masih banyak musisi-musisi baik senior maupun junior yang jauh lebih hebat dari saya. Sampai saat ini saya masih terus belajar dan belajar, karena meskipun banyak pengalaman yang saya dapatkan, saya merasa masih banyak kekurangannya. Ada beberapa hal yang belum tercapai diantaranya memberikan kontribusi kepada negara Indonesia dimana saya berasal, agar seni dan budaya kita lebih dikenal dan dicintai bangsa-bangsa diseluruh dunia, sebagaimana mereka mengenali dan mencintai budaya sendiri. Dan saya berharap agar generasi muda Indonesia sekarang lebih pro aktif untuk mempelajari dan menghargai seni dan budaya Indonesia yang beraneka ragam. Saya sendiri iri melihat beberapa orang Australia yang sangat antusias mempelajari dan menghormati seni budaya Indonesia.

Siapa inspirasi Anda dalam hidup sehingga Anda jadi Hebat seperti saat ini?

Ibu, (alm) bapak dan (alm) kakek saya adalah inspirator yang paling besar dalam hidup saya. Buat saya pribadi, mereka adalah orang-orang yang hebat meskipun tidak banyak orang mengenalnya. Mereka sangat hebat dalam mendidik, membimbing dan menjadikan saya, sampai bisa seperti sekarang ini. Menurut mereka, bidang apapun yang ditekuni, selama saya kerja keras, yakin dan percaya diri, tentu akan tercapai apa yang diinginkan. Dan selalu mempelajari hal yang baru dalam hidup. Manfaatnya akan terasa buat kita sekarang maupun anak cucu kita nanti.

Efiq Zulfiqar setelah lulus SMA tahun 1989, memutuskan untuk belajar di ASTI/STSI Bandung jurusan Karawitan, lalu 1994 ia melanjutkan ke Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Denpasar dan lulus tahun 1997, lama bereksploari dengan musisi tanah air maka pada tahun 2005 ia memutuskan hijrah ke Australia dan bekerja di sejak 2006 di Musica Viva Australia. Kini jika namanya di belahan negara kang Kunguruu ini sudah tak asing lagi, terutama untuk kalangan musik kontemporer dan etnik. Penguasaan alat semua intrument ia kuasai, mulai dari alat tiup sampai alat musik pukul, baik modern maupun tradisional.

Tahukan Anda bahwa orang hebat tidak harus datang dari yang kuat? Apakah Anda setuju? Mohon komentarnya?
Betul sekali, saya sangat setuju karena kekuatan tanpa keyakinan dan cita-cita yang tinggi, tidak akan menjadi sehebat yang kita perkirakan. Kehebatan juga bisa didapatkan dari suatu kesederhanaan dan kekurangan. Tapi yang paling penting dan utama adalah persiapan mental untuk menghadapi hal-hal yang tak terduga dalam kehidupan, baik itu ketenaran, kehebatan bahkan keterpurukan. Yang jelas apapun yang menghampiri kita, harus siap dan legawa dalam menghadapinya.
Tahun 2009 saya didiagnosa menderita penyakit gagal ginjal, sampai harus melakukan cuci darah setiap hari selama hampir 2 tahun lebih. Saya hampir putus asa dan selama itu saya hampir berhenti beraktivitas sebagai musisi. Akan tetapi karena musik sudah menjadi bagian dari hidup saya, maka saya jadikan musik itu sebagai terapi buat saya, dan tetap berkeyakinan bahwa setiap ada kemauan pasti ada jalan. Terlepas dari itu Saya bahkan sempat membuat beberapa komposisi yang berhubungan dengan penyakit ginjal saya. Diantaranya ; Ginjal Ganjil, Potassium, Tulalit dll.
Berkat do’a dan keyakinan tersebut, alhamdulillah saya mendapat transplant ginjal. Saya tidak perlu menjalani cuci darah lagi. Dan itu menjadi momentum saya untuk membuka lembaran baru. Dan kembali beraktivitas sebagai musisi, bahkan saya sekolah lagi menjadi graphic designer sampai sekarang.

Apa resep Anda sehingga Anda dikenal dan jadi orang Hebat dunia?

Resepnya adalah keyakinan, kerja keras, mentalitas, cita-cita yang setinggi-tingginya, tetap ingat dari mana kita berasal dan selalu mempelajari hal yang baru.

Siapa sebenarnya mendorong spirit Anda sehingga Anda saat ini menjadi seperti sekarang ini?

Adalah Ibu yang menyekolahkan saya sampai lulus sarjana. Padahal waktu itu ibu cuma bekerja sebagai karyawan pabrik textil di Bekasi. Meskipun dengan gaji pas-pasan, tapi mampu menyekolahkan saya hingga lulus sarjana. Karena bapak saya meninggal waktu saya masih kelas 2 SMA. Cuma ibu harapan satu-satunya dan ibu juga yang mendorong terus secara spiritual supaya saya tetap yakin dengan apa yang saya jalani dan cita-citakan.

Punyakah angan-angan untuk konser sendiri?

Tentunya hampir setiap musisi berangan-angan untuk melakukan konser sendiri. Akan tetapi sebaliknya angan-angan saya adalah melakukan konser reuni bersama teman-teman musisi yang dulu pernah bekerjasama dan berjuang dengan saya. Karena sebetulnya, merekalah guru-guru saya sehingga sampai bisa seperti sekarang ini.(am/pnc)

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.